Sukses

Jembatan Merah Surabaya Sungguh Gagah

Liputan6.com, Surabaya - Surabaya, Jawa Timur memiliki segudang saksi bisu perjuangan para pahlawan. Salah satunya Jembatan Merah, di Jalan Kembang, Surabaya, Jawa Timur.

Kalau dilihat sekilas, jembatan ini sepertinya biasa saja, hanya jembatan yang berwarna merah. Namun, sebenarnya jembatan tersebut menyimpan banyak sekali sejarah.

Pada masa penjajahan, jembatan merah dianggap sebagai lokasi yang penting, karena merupakan satu-satunya akses transportasi perdagangan yang melewati Kalimas dan Gedung Residensi Surabaya.

Jembatan ini menjadi bukti Belanda hampir menguasai sebagian wilayah Surabaya. Pada saat itu, penjajah Belanda meminta hak klaim atas beberapa daerah pantai utara di Surabaya yang dianggapnya komersil.

Salah satunya adalah kota pelabuhan Surabaya yang dianggap sangat berpotensi jadi Surabaya menjadi kota dagang yang tersibuk pada saat itu yang di kuasai oleh penjajah Belanda.

Jembatan Merah juga menjadi saksi dari pertempuran 10 November 1945. Yaitu pertempuran antara rakyat Surabaya-Indonesia dengan Sekutu dan Belanda yang hampir menguasai lagi wilayah Surabaya.

Mengutip dari buku berjudul Travelicious karangan Ariyanto, disebut jembatan merah merupakan jembatan legendaris yang menjadi saksi bisu salah satu pertempuran paling seru di Jawa, antara arek-arek Surabaya dengan penjajah.

Pertempuran terjadi pada 10 November 1945, yang mengakibatkan Brigadir Jenderal Mallaby, salah satu petinggi penjajah, tewas. Ketenaran Jembatan Merah juga terekam lewat lagu perjuangan.

"Secara fisik, tidak terlalu istimewa bila kita melintas. Hanya sejarahnya yang membuat jembatan ini istimewa. Fisik bangunan jembatan ini melintas di Kali Mas antara Jalan Rajawali dengan Jalan Kembang Jepun,” seperti dikutip dari buku tersebut.

Pada saat itu, Belanda merenovasi besar-besaran jembatan merah. Pagar pembatas jembatan yang membatasi badan jembatan dengan sungai diganti. Yang tadinya menggunakan bahan kayu, kemudian diganti dengan besi. Warna merah dari jembatan tersebut menjadi ciri khasnya.

(Wiwin Fitriyani, mahasiswi Universitas Tarumanagara)

2 dari 4 halaman

Melihat Ikon Baru Kota Pahlawan

Selanjutnya, upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk meningkatkan perekonomian masyarakat di kawasan pesisir pantai terus dilakukan. Salah satunya, dengan membangun infrastruktur pendukung, berupa jalan, jembatan Suroboyo, Sentra Ikan Bulak (SIB), dan Taman Suroboyo.

Bahkan Pemkot Surabaya telah membangun ikon baru Kota Pahlawan berupa Patung Suro dan Boyo. Secara simbolis, patung ini diresmikan oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini sebagai kado istimewa di Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-726.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengaku, pembangunan Patung Suro dan Boyo ini merupakan mimpinya sejak dulu. Patung tersebut tidak hanya dapat dilihat dari daratan, tapi juga di laut.

"Terima kasih PT Pelindo yang sudah bersedia membantu, sudah lama sekali saya punya mimpi ini. Patung ini tidak hanya bisa dilihat dari darat saja tapi bisa dari laut jadi maka dari itu patungnya harus tinggi supaya bisa terlihat," kata Wali Kota Risma saat meresmikan Patung Suro dan Boyo, Rabu, 29 Mei 2019.

Risma menjelaskan, meningkatkan perekonomian warga Kota Surabaya tidaklah mudah. Karena itu, pihaknya terus berinovasi menciptakan sesuatu yang baru di setiap tahunnya, agar wisatawan tertarik datang tidak hanya sekali. Sebab, Surabaya tidak mempunyai pemandangan alam yang elok dan tidak punya kekayaan alam.

"Jadi tiap tahun harus ada yang baru di kota kita ini, karena jika tidak ada yang baru orang tidak mau lagi datang. Oleh karena itu saya mencoba tiap tahun ada sesuatu yang baru. Supaya Surabaya menjadi destinasi tujuan wisata," ujarnya.

 

 

3 dari 4 halaman

Selanjutnya

Patung dengan tinggi total 25,6 meter itu sendiri dibangun mulai 26 Februari 2019 dan selesai pada 10 Mei 2019. Dengan tinggi dudukan patung 5 meter dan diameter 15 meter berdiri di area Taman Suroboyo yang memiliki luas 11.900 meter persegi.

Menariknya, Patung Suro dan Boyo ini memiliki bentuk unik berupa rumput laut menyerupai asli di antara kedua patung tersebut. Tak hanya itu, warna patung ini berbeda dengan patung Suro dan Boyo yang sudah ada dan menjadi beberapa ikon Kota Surabaya.

Dengan diresmikannya Patung Suro dan Boyo tersebut, wali kota perempuan pertama di Surabaya ini optimistis, jika suatu saat Surabaya akan menjadi salah satu destinasi wisata mancanegara. Dengan begitu akan berdampak pada perekonomian warga yang semakin meningkat dan sejahtera.

"Warga di sini sudah mulai terasa, saya berharap ini bisa mensejahterakan warga. Namun tidak lupa kita harus kerja keras, harus ramah dan warga daerah sini juga harus menjaga kebersihan," imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Kota (Bappeko) Kota Surabaya Ery Cahyadi mengaku tidak ada kendala dalam proses pembangunan patung tersebut. Namun Ery mengatakan, beberapa kali sempat mengalami revisi. Dibantaranya, revisi terkait mewujudkan bentuk anatomi kaki, sirip, ekor, dan wajah Suro dan Boyo.

"Karena demi mengejar kesan realistis tampilan, nanti kita akan beri plaza untuk spot foto agar menarik. Nanti plazanya yang akan berputar agar bisa digunakan untuk spot foto pengunjung. Nanti plaza tersebut akan kami sinergikan dengan jembatan," kata Ery.

Bahkan, Ery menyebut, pengembangan wisata di kawasan pesisir Surabaya akan terus dilakukan. Dalam waktu dekat, pihaknya juga berencana untuk merealisasikan pembangunan Jembatan Penyebrangan Orang (JPO) yang terkoneksi antara Taman Suroboyo dan Sentra Ikan Bulak (SIB).

"Tidak hanya itu, nanti kami akan terus memperindah dengan menambahkan air mancur, supaya lebih cantik. Khususnya di wilayah pesisir ini agar menjadi daya tarik wisatawan berkunjung ke Kota Surabaya," pungkasnya. 

 

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Loading
Artikel Selanjutnya
Penjelasan Soal Kenaikan Tarif Sewa Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya
Artikel Selanjutnya
Kurangi Pengangguran, Pemilik Hotel Bakal Pekerjakan Arek Surabaya