Sukses

PLN Jatim Ajak Milenial Gunakan Energi Bersih

Liputan6.com, Surabaya - PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Timur meluncurkan produk green smart power. Produk ini diharapkan dapat memberi kemudahan bagi masyarakat dan membantu pemerintah dengan energi bersih.

General Manager PLN UID Jawa Timur, Bob Saril menuturkan, green smart power merupakan suatau paket pelayanan yang digabung menjadi satu. Paket itu terdiri dari solar panel, internet dan ditawarkan dengan tarif premium dan tanpa padam.

Ia menuturkan, produk ini mendorong masyarakat menjalankan gaya hidup dengan energi bersih. Apalagi pemakaian energi ramah lingkungan sedang digencarkan di dunia. PLN menyasar kamu menengah, muda milenial yang ingin rumahnya ramah lingkungan. Pemakaian energi ramah lingkungan tersebut sudah menjadi gaya hidupnya.

"Berarti dia sudah menggunakan motor listrik, tidak lagi menggunakan pembuangan emisi karbon, menggunakan kompor induksi dan sudah tidak menggunakan kompor elpiji," ujar dia di Surabaya, ditulis Minggu (28/7/2019). 

Dia menuturkan, yang paling penting itu adalah PLN UID Jatim mengeluarkan produk ini adalah menawarkan kepada masyarakat kemudahan. 

"Selama ini kaum milenial yang kerjanya di startup, mereka tidak mau memikirkan bagaimana cara memelihara solar panel, belinya di mana, mereka tidak mau memikir," tutur dia.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

2 dari 2 halaman

Bantu Pemerintah

Ia mengatakan, pelanggan bisa langsung datang ke PLN untuk lebih mengetahui produk green smart power ini. PLN pun akan menjelaskan bagaimana perhitungan, cicilannya. Hal itu tidak membuat pelanggan menjadi pusing. 

"Jadi langsung datang saja ke PLN, maunya bagaimana, nanti kita hitungkan dan bayarnya bisa dicicil dan sebagainya, dan tinggal digunakan, one stop solution.Jadi tidak perlu mikir banyak - banyak," ujarnya. 

Dia menegaskan, produk green smart power ini juga untuk membantu pemerintah. Dengan menerapkan gaya hidup seperti ini maka secara tidak langsung bisa membantu menambah devisa negara. Hal ini mengingat dalam neraca perdagangan Indonesia, pengeluaran yang paling banyak itu adalah impor Bahan Bakar Minyak (BBM) dan elpiji. 

"Kalau kita ubah, seandainya tidak menggunakan BBM, misalnya tidak impor pertamax dan diganti motor listrik saja, karena listrik dihasilkan di Indonesia maka kita tidak perlu impor lagi," ucapnya.