Sukses

Kutipan Inspirasi Surabaya: Kesulitan Pasti Bakal Berbuah Manis

Liputan6.com, Jakarta - Semangat dan tekun menuntut ilmu melekat pada perempuan muda ini. Pada usia 26 tahun, mahasiswi Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur itu mendapatkan gelar doktor. Bahkan ia menjadi doktor termuda di Universitas Airlangga.

Perempuan itu bernama lengkap Nastiti Intan Permata Sari. Penasaran bagaimana Nastiti asal Madiun ini menjalani pendidikannya?

Nastiti mengawali kuliah Strata 1 pada 2011. Ia mengambil jurusan biologi. Dia masuk jurusan itu karena ikut tes Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) dan lulus. Melalui jalur SMBPTN itulah biaya pendidikannya lebih ringan.

Ketika kuliah S1, Nastiti banyak mengikuti kegiatan organisasi di kampus, seperti hima, karawitan, penalaran, aiesec Surabaya, dan menwa. Namun, ada satu organisasi yang diikuti sampai menjelang lulus S1, yaitu UKM Menwa. Ia mengakui, kegiatan tersebut mengajarkan nilai-nilai positif yang baik untuk kehidupan.

Nastiti pun hanya menyelesaikan kuliah S1 dalam waktu 3,5 tahun di Universitas Airlangga Surabaya. Selanjutnya, ia ingin menempuh pendidikan lebih tinggi ke Strata 2 (S2).

Ia pun mendapatkan beasiswa Pendidikan Magister Menuju Doktor Sarjana Unggul (PMDSU) dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (ristekdikti).

"Beasiswanya ada tes masuk universitas, di antaranya psikotest, tes tulis, wawancara, dan membuat proposal penelitian. Lalu berkas-berkas Indeks Pretasi (IP) minimal 3,25, tes TOEFL minimal 475, kemudian habis lulus universitas diseleksi oleh pendidikan tinggi," kata Nastiti, saat dihubungi Liputan6.com.

2 dari 3 halaman

Pesan Nastiti

Nastiti melanjutkan kuliah di jurusan Ilmu Kedokteran Tropis. Dalam waktu 1,5 tahun, Nastiti menyelesaikan pendidikan S2. Tepatnya lulus pada 2017.  "Program beasiswa dari PMDSU memang mempunyai target 4 tahun lulus, untuk S2 dan S3 nya," ujar dia.

Singkat cerita, pada 2017, ia melanjutkan pendidikan lagi ke jenjang S3 dengan mengambil jurusan Ilmu Kedokteran. Ketika itu ia berhasil mendapat beasiswa PMDSU lagi dari Ristekdikti. Bahkan menjadi mahasiswi termuda.

"Saat itu saya paling muda di antara enam mahasiswa PMDSU lain di Unair, sehingga saya berjuang untuk lulus tepat waktu seperti yang ditargetkan," tutur dia.

Ia membuat disertasi mengenai identifikasi molekuler bakteri tb paru. Dalam mengerjakan disertasi itu, Nastiti sempat mengalami beberapa kesulitan dan tantangan.

"Kesulitannya waktu harus wara-wiri ambil sampel penelitian, karena saya ambil tiga center di daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat," ujar dia.

Perjuangan Nastiti tak sia-sia. Disertasi Nastiti mendapatkan nilai A dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna yakni 4.00. Nastiti mengungkapkan dirinya tidak menyangka kalau dirinya sebagai doktor termua di Universitas Airlangga bisa sampai viral seperti sekarang ini.

Terlepas dari kesulitan, ia bersyukur karena bisa lulus tepat waktu. Nastiti akan di wisuda pada 6 September 2019. Saat menjalankan pendidikannya, Nastiti mendapat dukungan dari keluarganya.

"Dukungannya luar biasa, kalau saya repot tidak pulang kampung, orangtua saya kadang yang malah ke Surabaya. Jadi, emang dukung penuh saya dan adik saya. Adik saya kebetulan juga sudah kuliah di UNS Solo," ujar dia.

Nastiti memberikan sebuah pesan dan motivasi untuk generasi milenial. Khususnya dalam hal pendidikan seperti yang ia pernah jalani.

"Jangan patah semangat, kesulitan-kesulitan saat kuliah itu pasti akan berbuah manis. Jadi, bersabar saja, terus berusaha dan berdoa," tutur dia.

 

(Wiwin Fitriyani, Mahasiswa Universitas Tarumanegara)

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Loading
Artikel Selanjutnya
Dinas Pendidikan Jawa Timur Dampingi Sekolah Terkait USBN
Artikel Selanjutnya
Unusa AFC Bakal Dukung Program One Pesantren One Product Jawa Timur