Sukses

Lakshmi Mittal, Miliarder Dunia yang Awali Usaha di Jawa Timur

Liputan6.com, Jakarta - Salah satu produsen baja terbesar di dunia, ArcelorMittal memperkirakan permintaan baja global bisa lemah dari yang diprediksi sebelumnya. Di sisi lain, perusahaan juga tengah berjuang dengan harga baja lebih rendah dan biaya tinggi untuk bahan baku.

ArcelorMittal menyatakan, kalau permintaan baja global akan meningkat menjadi 1,5 persen pada 2019. Adapun Eropa menjadi wilayah terlemah dari industri baja. Permintaan baja dapat berkontraksi sebanyak dua persen pada 2019 di wilahan tersebut. Industri ini terpukul keras oleh penurunan penjualan yang disebabkan oleh lemahnya industri otomotif Jerman dan persaingan dari impor yang lebih murah.

Industri tersebut terpukul keras oleh penurunan penjualan yang disebabkan lemahnya industri otomotif Jerman dan persaingan dari impor yang lebih murah. Lonjakan bijih besi juga mempengaruhi baja.

"Kondisi pasar pada paruh pertama 2019 sangat sulit,” ujar CEO Arcelor Mittal, Lakshmi Mittal seperti mengutip Bloomberg pada 1 Agustus 2019, ditulis Selasa (2/9/2019).

Ia mendesak, regulator Eropa untuk mengambil tindakan dan membatasi impor baja dengan mendorong industri yang bermain secara adil. Bicara soal Laksmi Mittal, pria kelahiran India ini termasuk salah satu miliarder dunia.

Berdasarkan data Bloomberg, total kekayaan ayah dari dua anak ini sekitar US 11,2 miliar per 2 September 2019 atau Rp 164,62 triliun (asumsi kurs Rp 14.191 per dolar Amerika Serikat). Ia masuk peringkat 122 orang terkaya di dunia, versi Bloomberg.

Mayoritas kekayaan Mittal 38 persen berasal dari saham di ArcelorMittal. Sebelum berdiri sendiri, Mittal bergabung dengan bisnis baja milik ayahnya bernama "Nippon Denro Ispat”.

Saat itu, Ia bertanggung jawab atas pengembangan internasional. Namun, Ia memilih untuk berpisah dari saudara-saudaranya, dan memulai usaha sendirinya dengan nama “Mittal Steel”. Kemudian perusahaannya itu bergabung dengan Arcelor Prancis pada 2006.

Ia membangun Mittal Steel dengan menggabungkan kepemilikannya di Ispat International dan LNM Holdings pada 2004. Kemudian ia membayar dirinya dengan dividen USD 2 miliar. Setahun kemudian ia membeli International Steel Gorup milik miliarder Wilbur Ross senilai USD 4,7 miliar.

Pada 2006, Mittal Steel memenangkan pemhelian Arcelor yang berbasis di Luksemburg untuk menciptakan produsen baja terbesar di dunia. Mittal telah tinggal di London sejak 1995, dan memiliki properti senilai USD 350 juta di Inggris.

Melansir Forbes, keuntungan dari kenaikan baja membuat  perusahaan Mittal ini bertumbuh dua digit untuk laba bersih yakni USD 5,1 milliar pada 2018, dan pendapatan sebesar USD 76 milliar.

ArcelorMittal menyelesaikan akuisisi USD 2,1 milliar dari Ilva Grup, Italia yang merugi pada November 2018. Pada 2018 pula, tawarannya USD 5,9 milliar untuk Essar Steel, yang sebelumnya dikendalikan oleh miliarder Shashi dan Ravi Ruia, kini diterima oleh kreditor Essar.

Nama Mittal melambung saat  membeli rumah termahal dalam sejarah di Kensington Mansion, London dengan harga US$ 128 juta atau sekitar Rp 1,8 triliun.

 

2 dari 3 halaman

Merintis Usaha di Surabaya

Tak disangka, kesuksesan Lakshmi Mittal berawal di Surabaya, Sidoarjo, Indonesia. Pada 1976, Ia memutuskan untuk pindah ke Indonesia dan membangun pabrik baja pertamanya, di atas sawah yang dimiliki oleh ayahnya.

Mengutip instagram @surabaya_heritage, tepatnya di Surabaya, Lakshmi merintis usaha bajanya dengan mendirikan PT Ispat Indo. Kemudian Lakshmi memutuskan untuk pindah ke kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, dan di sini usaha bajanya berkembang pesat.

PT Ispat Indo adalah perusahaan yang memproduksi berbagai jenis billet, batang kawat, dan batangan karbon rendah dan tinggi. PT Ispat Indo memiliki posisi strategis untuk perdagangan di seluruh dunia.

Perusahaan ini menjual sekitar 70 persen produknya ke pasar domestik dan sekitar 30 persen ke pasar ekspor wilayah Asia-Pasifik yang bertumbuh cepat. Perusahaan ini adalah produsen batang kawat terbesar di Indonesia dengan pangsa pasar tertinggi.

Saat krisis moneter menimpa Indonesia di akhir 90-an, usaha baja milik Mittal justru berkembang pesat. Hal ini karena bisnisnya berorientasi pada ekspor. Kekayaannya pun menjadi semakin bertambah.

Sejak saat itu, Mittal melakukan ekspansi ke berbagai negara dengan cara mengakuisisi perusahaan-perusahaan baja di seluruh dunia. Keberhasilan awalnya di luar negeri membuatnya memutuskan untuk meletakkan masa depannya di luar India.

Tak hanya perusahaan baja saja, Mittal juga memiliki saham di klub sepak bola Inggris.

(Kezia Priscilla, mahasiswi UMN)

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Loading
Artikel Selanjutnya
Trio Jatim Raih Juara Satu Kompetisi Robotik Madrasah 2019 di Surabaya
Artikel Selanjutnya
Wakil Wali Kota Surabaya Ingin Libatkan Anak Muda Bangun Kota Pahlawan