Sukses

6 Fakta Menarik Tari Topeng Malangan, Tari Tradisional Khas Malang

Liputan6.com, Jakarta Seni dan budaya sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Setiap daerah di Tanah Air memiliki keseniannya masing-masing. Mulai dari seni rupa, seni musik, seni tari dan sebagainya.

Salah satu jenis kesenian yang sangat populer di Indonesia adalah seni tari. Beragam seni tari tercipta dari tangan-tangan para seniman di negara ini. Salah satu provinsi di Indonesia yang sangat kaya akan seni tari adalah provinsi Jawa Timur, termasuk Malang. Sebagian besar seni tari di daerah ini merupakan seni tari tradisional yang sudah diwariskan dari generasi ke generasi.

Salah satunya seni Tari Topeng Malangan yang berasal dari Malang, Jawa Timur. Seperti namanya, semua pemerannya menggunakan topeng. Secara umum, cerita yang diangkat sebagai konsep tarian ini adalah cerita Panji yang sangat melegenda di kalangan masyarakat khususnya di Malang.

Cerita Panji merupakan kumpulan cerita yang berasal dari Jawa pada periode klasik. Cerita Panji memiliki banyak versi, namun inti ceritanya tetap berkisah tentang cinta antara Panji Asmarabangun dan Galuh Candrakirana.

Terdapat beberapa fakta menarik dari Tari Topeng Malangan. Berikut 6 fakta menarik Tari Topeng Malangan yang sudah dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Kamis (3/10/2019).

2 dari 7 halaman

1. Ciri khas Tari Topeng Malangan.

Tradisi tari topeng memang tak hanya berkembang di Malang saja. Namun, karakteristik Topeng Malangan yang menjadi ciri khas terletak pada jenis topeng yang digunakan.

Ciri khas Topeng Malangan yakni memiliki keragaman warna yang unik dengan kombinasi lima warna dasar, yaitu merah, putih, hitam, kuning, dan hijau. Selain itu, ornamen atau ukiran pada topeng Malangan juga terlihat lebih detail sehingga memiliki perbedaan yang cukup banyak dengan topeng dari daerah lain.

3 dari 7 halaman

2. Topeng pertama terbuat dari emas.

Keberadaan topeng Malangan telah ada sejak masa Kerajaan Gajayana di Malang. Pada kala itu, topeng pertama dibuat dari emas yang kemudian dikenal dengan nama Puspo Sariro.

Pemberian nama tersebut tidaklah sembarangan karena mengandung arti yakni, bunga dari hati yang paling dalam. Konon Topeng ini menjadi simbol pemujaan Raja Gajayana terhadap arwah ayahnya yaitu, Dewa Sima.

4 dari 7 halaman

3. Dibawakan dalam beberapa sesi.

Tari topeng Malangan dimainkan oleh beberapa orang yang masing-masing melakoni peran tertentu sesuai dengan cerita yang dibawakan. Tari tersebut biasanya dibawakan dalam beberapa sesi.

Sesi pertama adalah gendang giro, sesi ini merupakan iringan musik gamelan sebagai tanda pertunjukan akan segera dimulai dan menarik para penonton untuk segera menyaksikan pertunjukan. Sesi kedua adalah salam pembuka untuk menyapa penonton dan menyampaikan sinopsis cerita yang akan dibawakan dalam pertunjukan.

Kemudian pada sesi ketiga adalah sesajen, yaitu sebuah ritual yang dipercaya dapat memberikan keselamatan pada penonton dan pemain serta agar pertunjukan berjalan dengan lancar. Sesi terakhir adalah inti acara yang paling ditunggu-tunggu, yaitu pementasan Tari Topeng Malangan.

5 dari 7 halaman

4. Terdapat 4 golongan tokoh karakter.

Secara umum terdapat sekitar 76 karakter dalam cerita Topeng Malangan yang digolongkan dalam empat kelompok besar. Kelompok pertama merupakan tokoh Panji yang digambarkan dengan pemuda tampan, baik dan berjiwa pemberani.

Kelompok kedua adalah tokoh antagonis atau lawan dari tokoh Panji. Tokoh antagonis ini digambarkan dengan corak topeng dengan mata bulat besar atau melotot dan bertaring.

Kelompok ketiga adalah sebagai abdi yang digambarkan dengan ornamen-ornamen unik pada ukiran topeng. Sedangkan kelompok keempat adalah tokoh binatang-binatang yang merupakan pelengkap dalam cerita.

6 dari 7 halaman

5. Ada seorang dalang dalam pertunjukannya.

Dalam pertunjukan Tari Topeng Malangan juga terdapat seorang Dalang. Tugas dalang tersebut adalah untuk mengatur jalannya cerita sehingga pertunjukan berjalan dengan teratur dan dapat dimengerti oleh penonton. Selain itu Dalang juga bertugas untuk memberikan sesaji dan membacakan doa pada saat prosesi sesajen.

7 dari 7 halaman

6. Perkembangan Tari Topeng Malangan mulai meredup.

Perkembangan Tari Topeng Malangan mulai meredup seiring dengan perkembangan jaman. Hal ini disebabkan karena kurangnya regenerasi dan kesadaran masyarakat untuk meneruskan eksistensi dari kesenian Topeng Malangan.

Namun masih ada secercah harapan, beberapa sanggar tari di kabupaten Malang masih mempertahankan kelestarian kesenian ini. Usaha pelestarian tersebut dilakukan dengan mengadakan pementasan secara teratur.

Selain itu juga dilakukan berbagai modifikasi dan menambahkan variasi dalam pertunjukannya sehingga lebih menarik. Meski demikian, para seniman tetap mempertahankan pakem yang ada.

Upaya ini tidak cukup dilakukan oleh para seniman saja, namun peran pemerintah dan masyarakat juga sangat diperlukan untuk menjaga Kelestarian dari kesenian warisan leluhur yang unik ini.

Loading
Artikel Selanjutnya
9 Wisata Belanja di Kota Malang, Tawarkan Produk Murah Meriah
Artikel Selanjutnya
5 Potret Kampung Warna-Warni di Jawa Timur, Indah Bak di Luar Negeri