Sukses

VIDEO: Warga Plaosan Magetan Protes, Pintu Air Telaga Sarangan Dibuka 7 Hari

Liputan6.com, Jakarta - Kekeringan yang melanda wilayah Magetan, Jawa Timur, memaksa warga 8 desa di Kecamatan Plaosan, memaksa petugas Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo, atau BBWSBS, untuk membuka pintu air Telaga Sarangan, yang ditutup sejak 10 September 2019 lalu. Jika hal itu tidak dilakukan, dikhawatirkan ribuan hektar tanaman sayuran milik petani, akan mati.

Pintu air Telaga Sarangan, di Desa Ngancar, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, akhirnya dibuka oleh Petugas Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo. Hal itu terpaksa dilakukan, karena warga terus mendesak, saat pertemuan di kantor kecamatan. Menyikapi hal itu, petugas BBWSBS bersama warga, dengan pengawalan ketat sejumlah anggota TNI – Polri, akhirnya membuka pintu air.

Namun, pembukaan pintu air dibatasi di malam hari, dengan memberi 300 liter air per detik. Sementara di siang hari, akan diberikan 200 liter per detik, selama 7 hari. Demikian dilansir Liputan6, 18 Oktober 2019.

Meski sebenarnya, kondisi air di telaga ini, sudah sangat kritis. Jika pintu air dipaksa dibuka, maka akan merusak kondisi bangunan telaga. Diharapkan, pembukaan pintu air ini, bisa menyelamatkan tanaman di atas lahan seluas 1.500 hektar, milik warga di 8 desa, Kecamatan Plaosan, Magetan. Dari jumlah itu, sekitar 200 hektar lahan sudah kering kerontang, dan tanamannya mati.

Setelah 7 hari dibuka, nantinya pintu air di Telaga Sarangan akan kembali ditutup. Jika tidak dilakukan, dikhawatirkan debit air telaga terus surut, dan merusak bangunan atau plengsengan telaga.