Sukses

Peringati Hari Santri Nasional, Intip 17 Wisata Religi di Gresik (I)

Liputan6.com, Jakarta - Hari Santri Nasional diperingati pada 22 Oktober 2019 setiap tahun. Tanggal tersebut dipilih karna merujuk pada seruan KH Hasjim Asyari yang memotivasi umat Islam berperang melawan Sekutu. 

Peringatan Hari Santri Nasional diresmikan sejak 2015 oleh Presiden RI, Joko Widodo. Perayaan ini dimaksudkan untuk meneladani dan mengenang semangat jihad para santri yang menjadi pejuang kemerdekaan. 

Pada tema peringatan 2019, hari santri nasional mengangkat soal Santri Indonesia untuk Perdamaian Dunia. Pada tahun-tahun sebelumnya tema yang diangkat bersifat domestik tentang kontribusi dan kemandirian santri serta kedamaian negeri.

Jawa adalah salah satu pulau yang terdiri dari banyak kota santri, salah satunya Gresik. Gresik sendiri memiliki banyak wisata religi yang bisa dikunjungi. 

Berikut 17 wisata religi di Gresik yang Liputan6.com lansir dari disparbud.gresikkab.go.id, Selasa (22/10/2019): 

1. Makam Kanjeng Sepuh Sidayu 

Pada 1817 M, seorang Raden Adipati Suryo Diningrat, putra Sayid Abdur Rohman Sinuwun Solo dinobatkan jadi Bupati di sana. Ia mendapatkan gelar Kanjeng Sepuh Sidayu sebagai Bupati di Sidayu.

Namun, saat pemerintahan VOC Kadipaten Sidayu dikerdilkan menjadi wilayah sub-administrasi (kawedahan) dari Kabupaten Surabaya. Hal tersebut dikarenakan wilayah tersebut menentang kebijakan mereka. Setelah Gresik jadi wilayah kabupaten, Sidayu berubah menjadi kecamatan. 

Makam ini terletak di Desa Kauman Kecamatan Sidayu dan berjarak kurang lebih 28 km dari Gresik. Makam ini ada di belakang masjid jami’Sidayu dan berada dalam kompleks pemakaman para Bupati Sidayu lain beserta keluarga besarnya. 

2. Makam Waliyah Zainab 

Waliyah Zainab atau disebut juga Dewi Wardah merupakan putri Kyai Ageng Bungkul yang dikenal dengan Sunan Bungkul. Sunan Bungkul adalah salah satu pembesar Kota Pahlawan keturunan Raja Majapahit.  

Kemudian, Dewi Wardah dinikahkan dengan Raden Paku (Sunan Giri) oleh Sunan Bungkul. Dewi Wardah dinikahkan sebagai garwo triman atau isteri hadiah, dari nazar Sunan Bungkul yang akan menikahkan puterinya dengan sesorang yang tertimpa buah delima namun tetap hidup. 

Namun, karena Raden Paku sudah terlebih dahulu menikah dan istrinya tidak ingin dimadu, maka Dewi Wardah berlayar ke arah utara dan tiba di Pulau Bawean. Akhirnya Ia menetap di desa Diponggo dan wafat lalu dimakamkan di sana. 

Riwayat kehidupan Waliyah Zainab masih tertulis di daun lontar dengan bahasa Arab – Pegon di Museum Sultan Hasanuddin, Banten. Di katakan, makamnya dikuburkan di belakang Masjid Diponggo yang terletak di Desa Diponggo, Kecamatan Tambak Bawean, Kabupaten Gresik.

Terdapat referensi lain yang mengatakan kedatangan Waliyah Zainab mendarat di Bawean lebih awal dibandingkan dengan Maulana Umar Mas’ ud.

 

 

*** Dapatkan pulsa gratis senilai jutaan rupiah dengan download aplikasi terbaru Liputan6.com mulai 11-31 Oktober 2019 di tautan ini untuk Android dan di sini untuk iOS

2 dari 4 halaman

Makam Maulana Umar Mas’ud

3. Makam Umar Mas’ud

Syech Maulana Umar Mas’ud adalah tokoh penting dalam penyebaran Islam. Ia merupakan tokoh Ulama Penyebar Islam di Bawean. Pangeran Perigi ini mengunjungi pulau Bawean hingga wafat di sana.

Saat tiba di Bawean, Maulana Umar Mas’ud tidak langsung menyebarkan agama Islam. Ia mengawalinya dengan melakukan pendekatan pada penduduk. Sifatnya yang ramah membuat penduduk setempat bersimpati dengannya. Ia sempat dianggap musuh oleh Raja Babileono karena berusaha mempengaruhi penduduk Bawean untuk masuk Islam dan meninggalkan kepercayaan animisme yang telah lama dianut.

Oleh karena itu, Raja Babileono menantang adu kesaktian, namun Maulana Umar Mas’ud berhasil mengalahkannya.  Setelah itu, Ia menggantikan posisi raja di kerajaan Bawean dan menjadi mubaligh untuk mengajarkan dan menyiarkan ajaran islam.

Saat menjadi raja, Maulana Umar Mas’ud memindahkan pusat pemerintahan dari dusun Sungairaja desa Lebak ke pusat Sangkapura. Ia pun wafat pad 1630 M dan dimakamkan di belakang masjid jami’ Sangkapura.

4. Makam Tjokrokusumo 

Kanjeng Rahadian Tumenggung (R.T.) Panji Cokrokusumo adalah keturunan dari Syech Maulana Umar Mas’ud. Ia juga sempat memerintah di Bawean.

Makamnya ini terletak di Desa Sungai Teluk, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Kabupaten Gresik. Makamnya berada dalam bangunan layaknya joglo berasitektur Jawa. 

Makam R.T. Cokrokusumo terletak di tengah, diapit dua cungkup lainnya. Makamnya juga diberi cungkup dan kelambu berwarna merah muda. Di dua sisi nisan terdapat aksara arab (kaligrafi) dengan inkripsi yang berbeda. 

Makam Tjokrokusumo ini menjadi objek wisata religi yang selalu ramai pengunjung. Tidak kurang dari 100 peziarah yang berziarah ke makamnya setiap bulannya. 

5. Makam R.P. Purbonegoro

Pangeran Purbonegoro adalah keturunan ke-5 dari Syekh Maulana Umar Mas’ud. Ia terkenal sebagai orang yang bijaksana dalam memimpin dan taat beribadah.

Konon katanya, hampir setiap hari Ia bangun pada waktu subuh untuk melakukan kesibukannya. Hal ini membuat shalat tahajjud terabaikan. Untuk itu, Ia memerintahkan penjaga masjid jami setempat untuk memukul bedug tepat 00:00 agar Purbonegoro dapat melaksanakan shalat tahajjud.

Orang-orang mengenal bedug tersebut dengan “Gendeng Debe”. Namun sejak penjajahan Jepang, “Gendeng Debe” sudah tidak terdengar lagi. Makam Pangeran Purbonegoro berlokasi di kaki bukit Malokok, Desa Sawah Mulya, Kecamatan Sangkapura Bawean, Gresik, sekitar 2,5 KM dari pelabuhan Sangkapura.

6. Makam Jujuk Tampo 

Berziarah ke Makam Jujuk Tampo akan mendapatkan suasana yang berbeda. Makam ini terletak di Dusun Tampo Desa Pudakit Barat, Kecamatan Sangkapura, Bawean-Gresik.

Letaknya ada di area pesawahan dan jauh dari pemukiman penduduk. Untuk itu, pemandangan dari makam ini adalah hamparan sawah yang luas. 

Makam ini terdiri dari dua bangunan utama. Bangunan pertama, adalah makam Jujuk Tampo dan istrinya itu sendiri. Sedangkan 10 meter dari sana terdapat bangunan lain yang ditujukan untuk peristirahatan bagi peziarah berisi kamar mandi, tempat wudhu dan aula. Untuk mencapai makam ini, peziarah dapat menggunakan sepeda motor atau pun mobil.

3 dari 4 halaman

Makam Jujuk Campa

7. Makam Jujuk Campa 

Makam Jujuk Campa adalah salah satu wisata religi yang banyak dikunjungi wisatawan. Hal ini dikarenakan, makam ini terletak di area perkampungan penduduk lebih tepatnya di Desa Kumalasa, Kecamatan Sangkapura.

Menurut cerita yang beredar, Jujuk Campa adalah adalah kepala rombongan dari Kamboja yang sedang melakukan perjalanan ke Jawa. Di tengah perjalanan, putrinya terserang penyakit dan meninggal di Bawean. Akhirnya pimpinan memutuskan untuk tidak meneruskan perjalanan dan menghabiskan usia di Pulau Bawean. 

Penduduk pun menyebut makanya dengan sebutan “Jujuk Campa”. Hingga saat ini, barang-barang peninggalan Jujuk Campa masih ada dan disimpan di salah sat urumah warga Desa Kumalasa.

8. Makam Sunan Prapen 

Sunan Prapen atau Syekh Maulana Fatikhal disebut sebagi pujangga besar penggubah kitab ASRAR yang kemudian digunakan untuk menyusun Jongko Joyoboyo. Selain itu, Ia juga merupakan pembuat keris Suro Angun-angun. 

Menurut VOC, Ia memiliki peran dalam memberikan berkah pada raja-raja Demak dan Pajang yang baru diangkat. Ia juga memiliki pengaruh yang besar bahkan sampai ke Kalimantan, Sulawesi, dan Lombok. 

Makam yang terletak di Desa Klangonan Kecamatan Kebomas ini memiliki arsitektur yang unik dan bernilai seni tinggi. Selain itu, keistimewaan makam ini adalah watu dodok atau Yoni yang ada disana. Watu Dodok itu dipercaya dapat memberikan keturunan bagi pasangan suami istri yang duduk berduaan di batu tersebut. 

9. Makam Raden Santri 

Raden Santri dikenal juga dengan Sunan Gresik. Ia adalah salah satu penyebar agama Islam di Jawa dan sekitarnya. Ia datang ke Jawa bersama ayah serta saudaranya untuk menyebarkan ajaran Islam.

Setelah sepupunya wafat, Raden Santri menggantikan tugasnya untuk menjadi imam penyebaran Islam di Gresik. Ia tinggal di daerah Gresik hingga wafat pada 1449 M.

Makam Raden Santri termasuk objek wisata religi di Gresik yang banyak dikunjungi. Lokasinya hanya 100 meter dari alun-alun kota.

(Bersambung)

(Kezia Priscilla – Mahasiswa UMN)

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Loading
Artikel Selanjutnya
Unusa AFC Bakal Dukung Program One Pesantren One Product Jawa Timur
Artikel Selanjutnya
Dinas Pendidikan Jawa Timur Tak Masalah Terapkan Aturan PPDB Zonasi