Sukses

5 Musisi Legendaris Indonesia asal Surabaya dan Sekitarnya

Liputan6.com, Jakarta - Surabaya, Jawa Timur adalah kota yang kaya akan cerita. Kota Pahlawan ini menjadi saksi kisah para pejuang dan arek arek Surabaya saat melawan penjajah di tempo lalu. 

Selain sejarah pahlawan, Surabaya juga menjadi saksi perjalanan beberapa musisi di Indonesia. Ada banyak sosok musik Indonesia yang berasal dari Surabaya dan kota-kota sekitarnya, seperti Tuban. Pada era 90-an, di Kota Pahlawan ini melahirkan Dewa 19, Padi dan lainnya.

Sebelum di era tersebut juga ada sejumlah musisi legendaris yang mewarnai industri musik Indonesia. Perjalanan panjang musisi tersebut telah melahirkan banyak karya untuk dunia musik. Tak hanya di Indonesia, terdapat pula karya dari mereka yang terkenal hingga luar negeri. 

Berikut lima musisi legendaris asal Surabaya dan sekitarnya yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Kamis (31/10/2019):

1. Leo Kristi

Leo Imam Sukarno atau lebih dikenal dengan Leo Kristi merupakan musisi kelahiran Surabaya, 8 Agustus 1949. Ia merupakan salah satu kawan Gombloh pada masa hidupnya. Bahkan Leo Kristi dan Gombloh sempat tergabung dalam grup musik bersama yang bernama Lemon Tree’s.

Pria ini sempat berkuliah di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dengan Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik. Namun, perjalanan pendidikan di ITS tersebut tidak tuntas. Masa kuliah Leo hanya berlangsung selama 2 semester. Namun, justru melalui jalan inilah Ia masuk ke dunia musik.

Dalam perjalanan karier musiknya, Ia membuat grup “Konser Rakyat Leo Kristi” (KRLK). Grup band ini mengalami perubahan formasi beberapa kali. Sepanjang kariernya Leo telah membuat 12 album.

 

 

*** Dapatkan pulsa gratis senilai jutaan rupiah dengan download aplikasi terbaru Liputan6.com mulai 11-31 Oktober 2019 di tautan ini untuk Android dan di sini untuk iOS

2 dari 4 halaman

Gombloh

2. Gombloh 

Gombloh memiliki nama asli Soedjarwoto Soemarsono. Walau Ia lahir di Jombang pada 12 Juli 1948, kultur Surabaya yang “berangas” sudah melekat pada pria ini. Hal ini dikarenakan, Gombloh menghabiskan banyak waktunya di Kota Pahlawan. 

Di antara saudara-saudaranya, Gombloh adalah anak yang paling mbeling atau susah diatur. Di masa mudanya, Ia sempat mengamen dan bergabung dengan berbagai kelompok anak-anak muda.

Banyak karya Gombloh yang terinspirasi dari kisah hidupnya sendiri. Misalnya saja lagu “Kugadaikan Cintaku”. Lagu ini tercipta atas pengalaman Gombloh yang melihat wanita pujaanya sudah bersama dengan lelaki lain. 

Ada banyak karya populer Gombloh lain selain Kugadaikan Cintaku. Lagu-lagu tersebut antara lain, Apel, Kebyar Kebyar dan Berita Cuaca.  

3. Bubi Chen

Bubi Chen adalah salah satu ikon jazz tanah air. Ia adalah pria kelahiran Surabaya, 9 Februari 1938. Bubi Chen sudah mengenal musik sejak umurnya yang masih lima tahun. Oleh ayahnya, Bubi diberikan pada Di Lucia, pianis kebangsaan Italia, untuk Ia bisa belajar piano.

Karyanya telah membawa Bubi Chen hingga ke luar Indonesia. Karya Bubi Chen pernah masuk ke radio di Minneapolis hingga Santa Cruz, California Amerika Serikat.

Bubi mendapat penghargaan sebagai musisi "Jazz Living Legend" oleh Peter F. Gontha pada gelaran Java Jazz Festival 2005. Ia juga mendapat "Lifetime Achievement Award" dari Gubernur Jawa Timur atas telah membawa Surabaya ke dunia internasional.

Ia wafat pada 2012 di umurnya yang ke-74. Bubi Chen dimakamkan di kota kelahirannya, Surabaya.

3 dari 4 halaman

Dara Puspita

4. Dara Puspita 

Dara Puspita merupakan band perempuan asal Surabaya yang terkenal era 1960-an. Grup band perempuan ini terdiri dari empat personil. 

Personil tersebut antara lain Titiek Adji Rachman sebagai pemain gitar melodi, Lies Soetisnawati Adji Rachman memegang bas, Susy Nander memainkan drum, dan Ani Kusuma di bagian gitar pengiring. Namun, ditengah perjalanannya terjadi perubahan personil. Pada 1965, Titiek Hamzah menggantikan Lies sebagai pemetik bas. Sedangkan, Lies diputuskan untuk menggantikan posisi Ani. 

Dara Puspita tercatat pernah melakukan tur ke Eropa pada 1968. Mereka tur mulai dari Iran hingga ke Belanda. Kemudian Dara Puspita juga melakukan tur keliling Jawa antara lain ke Surabaya, Banyuwangi, Lumajang, dan lain-lain. 

Pada Maret 1972, Dara Puspita menutup perjalanan bandnya di Jakarta. Sepanjang karier bermusik, Dara puspita telah membuat sejumlah album antara lain, Jang Pertama, A Go Go, dan Dara Puspita Disco Recording.

5. Koes Plus

Koes Plus adalah grup musik yang populer pada masa 1970-an. Banyak orang beranggapan Koes Plus merupakan pelopor musik pop dan rock n roll di Indonesia.

Grup musik ini mengalami beberapa kali perubahan personil dan nama. Sebelumnya grup ini memiliki nama “Koes Bersaudara”. Lalu, nama tersebut diganti menjadi  “Koes Plus” diganti oleh Tony Koeswoyono.

Banyak lagu karya Koes Plus yang hingga saat ini masih sering dinyanyikan karna kepopulerannya. Beberapa lagunya yang populer adalah “Andaikan Kau Datang”, “Kolam Susu”, “Buat Apa Susah”, “Bujangan” dan masih banyak lagi.

(Kezia Priscilla - Mahasiswa UMN)

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini