Sukses

7 Kebiasaan Bung Tomo yang Jarang Diketahui Publik

Liputan6.com, Jakarta - Bung Tomo adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Indonesia. Ia tumbuh dan dibesarkan pada masa penjajahan. Walau tertekan dengan penjajahan, Bung Tomo justru mengenal nasionalisme dari keluarganya. 

Sepanjang hidup, banyak kebiasaan-kebiasaan baik dari Bung Tomo yang patut dijadikan contoh. Bung Tomo memang sudah terkenal dengan gerakan dan perjuangannya dalam membela bangsa negara. Disamping itu, banyak kebiasaan sehari-hari yang baik dari Bung Tomo dan bisa dicontoh.  

Kebiasaan ini yang mendukung Bung Tomo untuk menjadi pembela bangsa. Tak hanya itu, Ia juga menjadi sosok yang disenangi oleh banyak orang. 

Berikut 7 kebiasaan sehari-hari Bung Tomo yang jarang diketahui publik merangkum dari buku "Bung Tomo, Hidup dan Mati Pengobar Semangat Tempur 10 November" karya Abdul Waid

1. Senang Menjadi Pelopor

Dalam kesehariannya, Bung Tomo senang menjadi pemimpin dalam segala hal. Ia memiliki kebiasaan untuk mengajak kawannya untuk melakukan sesuatu khususnya untuk kegiatan yang banyak manfaat. 

Ia senang menjadi pelopor akan berbagai macam aktivitas. Bung Tomo lebih suka menjadi atasan dibanding bawahan. Dalam kebiasaannya ini, Ia terbiasa mempengaruhi orang lain. 

Sifatnya yang mudah mempengaruhi orang lain tersebut membuat Bung Tomo menjadi pemimpin di mana saja. Pikirannya selalu dipenuhi untuk membuat perubahan untuk kepentingan orang banyak. Sikap tersebut justru diterima dan diikuti oleh orang-orang di sekitarnya.

Kebiasaan ini terus terbawa hingga Ia dewasa. Tak hanya mudah mempengaruhi masyarakat, Bung Tomo yang tidak pernah nyantri di pesantren pun mempu mempengaruhi kalangan santri.

Saat itu, Bung Tomo mempengaruhi santri untuk terlibat dalam pertempuran 10 November. Dengan sifat tersebut membuat para santri melebur dan gema takbir bergemuruh di Surabaya, Jawa Timur.

2 dari 5 halaman

Suka Dunia Fotografi

2. Fotografi

Kebiasaan lain yang tak banyak diketahui publik adalah fotografi. Dalam banyak kesempatan, Bung Tomo selalu mengabadikan kegiatan pribadi atau keluarganya dengan fotografi.

Terdapat beberapa koleksi foto milik Bung Tomo yang menunjukkan pria ini terbiasa dengan fotografi. Biasanya hasil foto Bung Tomo berisi anggota keluarga (portrait), foto pemandangan alam (landscape) dan foto orang kebanyakan.

Peninggalan hasil fotografi Bung Tomo disimpan di rumah kediamannya.  Banyak hasil dari foto Bung Tomo mengandung nilai-nilai sejarah.

3. Canda Tawa dalam Berbicara 

Sisi lain yang jarang diketahui dari Bung Tomo adalah sifatnya yang banyak tawa dan berbicara. Memang, Bung Tomo adalah tokoh pejuang yang keras dan tegas. Namun, disamping itu, Ia juga memiliki kebiasaan untuk bercanda. 

Bung Tomo memiliki banyak bahan candaan di setiap obrolannya. Ia selalu menuturkan apa yang ingin disampaikan dengan meriah. Untuk itu, meskipun topik pembahasannya serius, obrolan akan tetap ada dalam suasana yang sangat menyenangkan. 

Hal ini membuat banyak orang senang berbicara dengannya. Pembicaraan dengan Bung Tomo tak pernah membosankan atau terkesan menggurui, karna selalu diselingi canda dan tawa. Banyak orang jadi nyaman ketika berbincang dengannya. Ia selalu diterima oleh semua orang dari segala kalangan.

3 dari 5 halaman

Suka Menulis Puisi

4. Menulis Puisi 

Selain gemar mengambil foto, bidang seni lain yang digemari oleh Bung Tomo adalah menulis puisi. Dalam kesehariannya, Bung Tomo terbiasa menulis puisi. 

Banyak karya dari Bung Tomo yang menarik untuk dibaca. Ia sering menulis puisi tentang kegelisahan dalam hatinya. Ada puisi yang ditujukan untuk seseorang, ada pula yang sekadar disimpan untuk koleksi pribadinya. 

Akan tetapi, pada umumnya, puisi yang ditulis Bung Tomo ditujukan untuk istrinya, Sulistina. Tak jarang Ia menuliskan tentang kecantikan Sulistina atau perasaan yang ada dalam hatinya. Salah satu puisi Bung Tomo yang diketik menggunakan mesin ketik zaman dulu, hingga kini masih dapat ditemukan.  

5. Terus Terang dalam Berbicara

Sejak umurnya yang masih kecil, Bung Tomo telah terbiasa untuk berkata jujur. Ia sangat pantang untuk berucap dusta dalam bentuk apa pun.

Seberapa besar risiko yang harus Ia tanggung, Bung Tomo tetap akan mengucapkan yang sebenarnya. Ia tidak suka menutup-nutupi sesuatu. Kebiasaan ini diperoleh dari didikan keluarganya. 

Kebiasaannya dalam berterus terang ini terus Ia pertahankan hingga dewasa. Sifatnya yang berani mengatakan yang benar, polos, dan jujur dapat terlihat dalam situasi zamannya. 

Masa pemerintahan Soekarno dan Soeharto tak pernah luput dari kritikan tajam dari Bung Tomo. Tanpa rasa takut, ia mengkritik suatu kebijakan baik dari Soekarno atau Soeharto.

4 dari 5 halaman

Memberikan Oleh-Oleh

6. Membawakan Oleh-oleh

Setiap Bung Tomo pulang dari bertugas ke luar daerah, Ia tak pernah pulang dengan tangan kosong. Pria bernama Sutomo ini telah memiliki kebiasaan untuk membawakan oleh-oleh pada orang yang ditinggalkannya.

Bung Tomo terbiasa membuat orang yang menunggunya akan merasa senang ketika menyambut kedatangannya. Untuk itu ia selalu membawakan buah tangan khususnya pada orang terdekat. 

Oleh-oleh yang dibawakan Bung Tomo pun beragam. Tak hanya berbentuk makanan, bisa juga berbentuk barang seperti pakaian. 

Seperti yang dikisahkan oleh istri Bung Tomo, Sulistina Sutomo. Ia pernah diberikan oleh-oleh berupa paying dari Tasikmalaya atau remong batik dari Solo. Hingga saat ini, oleh-oleh tersebut masih disimpan oelh Sulistina.

7. Mau Bekerja Keras

Dalam melakukan suatu pekerjaan, Bung Tomo selalu menyelesaikannya dengan tekun dan maksimal. Hal ini Ia lakukan agar pekerjaannya benar-benar memuahkan hasil yang sempurna. Terlebih lagi apabila pekerjaan yang Ia lakukan bersangkutan dengan perjuangan, baik dalam dimensi sosial atau kenegaraan. 

Dari kebiasaannya ini, bisa dipastikan tak ada pekerjaan Bung Tomo yang terbengkalai. Bung Tomo tidak bisa tidur nyenyak apabila tugasnya belum tuntas diselesaikan. Ia rela untuk bergadang sampai tengah malam agar pekerjaannya selesai.

Atas dasar kebiasaannya ini, banyak orang menaruh kepercayaan pada Bung Tomo. Ia sering diberi kepercayaan untuk memimpin baikdalam komunitas kecil atau besar.

Misalnya saat umurnya yang masih 17 tahun, Bung Tomo dipilih menjadi Sekretaris Partai Indonesia Raya (Parindra) Cabang Tembok, Surabaya. Padahal saat itu, masih banyak orang yang lebih tua dari Bung Tomo ada di komunitas tersebut. Namun sifatnya yang pekerja keras inilah yang membuat Bung Tomo akhirnya dipilih.

 

Bersambung

 

(Kezia Priscilla - Mahasiswa UMN)

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Loading
Artikel Selanjutnya
BPOM Ungkap 96 Kasus Peredaran Kosmetik Ilegal hingga November 2019
Artikel Selanjutnya
Sikap PWNU soal Imbauan MUI Jatim Tak Ucapkan Salam Lintas Agama