Sukses

5 Tradisi Unik Suku Madura yang Masih Dilestarikan

Liputan6.com, Jakarta Sebagai negara kepulauan, Indonesia terdiri dari berbagi macam suku. Suku-suku ini sudah ada sejak zaman dahulu dan sebagian besar masih mempertahankan ciri khas dari sukunya. Salah satu suku di Indonesia adalah suku Madura.

Suku madura merupakan suku yang berada di wilayah Madura, Jawa Timur dan masih ada hingga saat ini. Suku ini memiliki berbagai macam tradisi unik yang keberadaanya masih lestari. Tradisi unik ini seringkali menjadi daya tarik wisatawan saat berkunjung ke Madura.

Tradisi ini merupakan warisan para pendahulu dari Suku Madura. Selain itu, tradisi Suku Madura sudah melekat di kehidupan masyarakat Madura seakan tidak dapat dipisahkan.

Memang sudah seharusnya, sebagai generasi penerus harus tetap menjaga kelestarian tradisi warisan leluhur yang begitu unik. Berikut beberapa tradisi unik Suku Madura yang keberadaanya masih lestari, dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber. Selasa (5/11/2019).

2 dari 6 halaman

1. Tradisi Karapan Sapi

arapan Sapi adalah tradisi masyarakat Madura yang digelar setiap tahun pada bulan Agustus atau September, dan akan dilombakan lagi pada final di akhir bulan September atau Oktober. Dalam tradisi Karapan Sapi ini, terdapat seorang joki dan 2 ekor sapi yang beradu kecepatan berlari untuk sampai ke garis finis.

Joki tersebut berdiri di atas kereta kayu dan mengendalikan arah lari sapi. Panjang lintasan karapan sapi ini kurang lebih 100 meter dan berlangsung dalam waktu 10 detik sampai 1 menit.

3 dari 6 halaman

2. Toktok, Aduan Sapi Ala Masalembu

Tradisi Toktok adalah kompetisi aduan sapi yang saling seruduk antara dua sapi yang berhadapan. Sapi yang diadu biasanya adalah sapi jantan. Kedua sapi akan beradu kekuatan hingga salah satu sapi kalah, menyerah, dan bahkan lari dari hadapan lawannya.

Aduan Toktok ini harus didampingi oleh orang yang ahli. Tidak sembarang orang bisa menjadi wasit Toktok, jika bukan ahlinya, dapat menambah resiko dan membahayakan orang di sekitar bahkan berakibat fatal.

4 dari 6 halaman

3. Upacara Rokat atau Petik Laut

Tradisi Rokat atau petik laut juga sering disebut dengan Rokat Tase. Tradisi ini merupakan ungkapan rasa syukur atas karunia serta nikmat yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, tradisi ini juga dipercaya dapat amemberikan keselamatan serta kelancaran rezeki.

Tradisi Rokat, biasanya dimulai dengan acara pembacaan istighosah dan tahlil bersama masyarakat yang dipimpin oleh pemuka agama setempat. Setelah itu, masyarakat menghanyutkan sesaji ke laut sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Isi dari sesaji itu adalah ketan-ketan yang berwarna-warni, tumpeng, ikan-ikan, dan lain sebagainya.

5 dari 6 halaman

4. Upacara Nadar

Tradisi adat Nadar alias Nyadar merupakan upacara adat yang digelar tiga kali dalam setiap tahun oleh warga Desa Pinggir Papas, Kecamatan Kalianget, Madura. Tradisi ini berlangsung meriah dan menyimpan banyak cerita leluhur warga setempat.

Upacara ini biasanya dilaksanakan pada pukul 4 sore. Masyarakat setempat datang berduyun-duyun menuju makam di mana leluhurnya dikuburkan dengan membawa perlengkapan upacara. Upacara ini diisi dengan berbagai kegiatan mulai dari upacara tabur bunga di makam leluhur hingga pembacaan doa yang dipimpin oleh pemuka adat.

Pada malam harinya, peserta upacara diwajibkan untuk menginap di sekitar makam baik dengan mendirikan tenda-tenda maupun menginap di rumah warga yang berada di sekitar makam. Peserta akan memasak berbagai jenis makanan yang dibutuhkan untuk upacara selamatan esok harinya.

Makanan yang dimasak biasanya berupa nasi, lauk ayam, telur, dan bandeng. Setelah upacara selesai, sisa makanan dapat dibawa pulang dan dibagikan kepada kerabat yang tidak mampu atau tidak bisa hadir saat upacara.

6 dari 6 halaman

5. Ritual Ojung

Ritual Ojung merupakan sejenis permainan yang melibatkan dua orang laki-laki untuk beradu fisik dengan dilengkapi media rotan yang panjangnya sekitar 1 meter sebagai alat memukul. Ritual ini biasanya diselenggarakan untuk memohon hujan dan agar terhindar dari malapetaka akibat kekeringan musim kemarau.

Ritual Ojung biasanya diiringi dengan musik yang terdiri dari 3 buah dung-dung (akar pohon siwalan) yang dilubangi di tengahnya sehingga bunyinya seperti bas, dan kerca. Iringan musik ini jarang dijumpai di daerah lain.