Sukses

5 Tempat Ibadah Berusia Ratusan Tahun di Jawa Timur, dari Masjid hingga Klenteng

Liputan6.com, Jakarta Sebagai bangsa yang miliki sajarah panjang, Indonesia memiliki banyak sekali warisan bangunan yang telah berumur ratusan tahun. Bangunan-bangunan ini berupa rumah hingga tempat ibadah.

Bangunan yang berupa rumah biasanya menjadi sebuah cagar budaya dan dialihfungsikan sebagai museum. Namun bila bangunan bersejarah tersebut berupa tempat ibadah, bangunan tersebut banyak yang tetap digunakan sebagaimana fungsinya.

Khususnya di Jawa Timur, cukup banyak sekali peninggalan tempat ibadah yang telah berusia ratusan tahun. Baik berupa masjid, gereja, hingga klenteng. Selain menjadi tempat bersejarah dan cagar budaya.

Tempat ibadah ini pun tetap dijaga dan digunakan dalam kegiatan keagamaan setiap umatnya. Berikut 7 tempat ibadah berusia ratusan tahun di Jawa Timur yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Sabtu (9/11/2019).

2 dari 6 halaman

1. Masjid Sunan Ampel, Surabaya yang berusia 598 tahun

Masjid Sunan Ampel atau Masjid Ampel ialah masjid kuno yang terletak di kelurahan Ampel, Kecamatan Semampir, Kota Surabaya, Jawa Timur. Masjid yang bersia 598 tahun ini memiliki luas 120x180 meter persegi.

Bernama masjid Sunan Ampel ternyata tak lepas dari yang mendirikan masjid ini, yaitu Sunan Ampel. Di dekat komplek masjid ini juga terdapat komplek pemakaman Sunan Ampel yang biasa dikunjungi oleh peziarah dari seluruh nusantara.

Selain berusia ratusan tahun, masjid ini pun jadi sebuah obyek wisata religi. Selain itu, di sekitaran masjid banyak dikelilingi oleh bangunan dengan gaya Arab dan Tiongkok.

3 dari 6 halaman

2. Klenteng Hok An Kiong berusia 189 tahun dan memiliki kisah di baliknya

Klenteng Hok An Kiong terletak di Kelurahan Bangkaran, Kecamatan Pabean Cantikan, Kota Surabaya, Jawa Timur. Klenteng ini selain menjadi tempat ibadah ternyata menjadi bangunan yang sudah berumur ratusan tahun.

Klenteng Hok An Kiong merupakan klenteng tertua yang ada di Surabaya. Klenteng Hok An Kiong sering disebut juga klenteng coklat, karena posisi klenteng tersebut yang berada di Jalan Coklat.

Klenteng yang didirikan pada 1830 itu, pada awalnya hanya sebagai tempat persinggahan pendatang dari Tiongkok. Namun seiring berjalannya waktu, diperlukan juga tempat ibadah bagi warga Tiongkok, maka dibangunlah Klenteng Hok An Kiong.

4 dari 6 halaman

3. Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria, atau Gereja Kepanjen di Surabaya yang berusia 119 tahun

Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria, merupakan salah satu gereja tertua di Surabaya, Jawa Timur. Berlokasi di Jalan Kepanjen, Surabaya, gereja ini pun sering disebut Gereja Kepanjen.

Gereja yang berdampingan dengan SMA Katolik Frateran Surabaya ini mulai dibangun 1899 dengan bantuan arsitek W. Westmaas dari Semarang. Lalu Gereja ini sendiri diresmikan pada 5 Agustus 1900. Sudah 119 tahun gereja ini ada, dan sampai sekarang masih digunakan.

5 dari 6 halaman

4. Gereja Pohsarang, Kediri yang hampir berusia satu abad

Gereja Pohsarang ialah sebuah Gereja Katolik Roma yang terletak di Desa Puhsarang, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Gereja ini terletak di sebuah lereng gunung. Gunung tersebut bernama Gunung Wilis yang berada di Ketinggian 400 meter di permukaan laut.

Selain itu di gereja yang usianya hampir seabad ini memiliki sebuah Gua Maria Pohsarang. Gereja Katolik di Pohsarang didirikan atas inisiatif pribadi dari Romo Jan Wolters CM dengan bantuan arsitek terkenal Henri Maclaine Pont pada tahun 1936.

6 dari 6 halaman

5. Klenteng Hok Tiek Hian, Klenteng tertua peninggalan zaman Kubilai Khan

Klenteng Hok Tiek Hian berada di Kelurahan Nyamplungan, Kecamatan Pabean Cantikan, Kota Surabaya, Jawa Timur. Klenteng ini berada di tempat yang cukup sempit.

Menurut cerita yang beredar, klenteng ini dahulunya dibangun oleh tentara Mongol pada zaman Khu Bilai Khan saat melakukan penyerangan ke kediri tahun 1293. Namun sampai sekarang belum ditemukan literatur keterkaitan tentara Mongol dengan klenteng ini.

Sehingga dari cerita yang beredar ini, keberadaan Klenteng Hok Tiek Hian ini lebih cenderung ada sejak abad 17 di mana bangsa Tiongkok mulau meninggalkan tempat tinggalnya dan mencari masa depan yang lebih baik di Surabaya.

Loading
Artikel Selanjutnya
BPOM Ungkap 96 Kasus Peredaran Kosmetik Ilegal hingga November 2019
Artikel Selanjutnya
Sikap PWNU soal Imbauan MUI Jatim Tak Ucapkan Salam Lintas Agama