Sukses

VIDEO: Trauma Healing bagi Siswa SDN Gentong Pasuruan Agar Semangat Belajar

Liputan6.com, Jakarta - Pasca atap gedung sekolahnya ambruk, siswa SDN Gentong Kota Pasuruan Jawa Timur, mulai mendapatkan trauma healing (pemulihan trauma) dari Dinas Pendidikan setempat.

Bimbingan konseling dilakukan untuk menghilangkan trauma korban dan mengembalikan semangat belajar mereka. Sementara itu, pemerintah Kota Pasuruan merelokasi siswa ke Madrasah Diniyah agar kegiatan belajar mengajar bisa berjalan normal.

Berikut seperti ditayangkan pada Fokus, 11 November 2019. Siswa SDN Gentong Kota Pasuruan, sejak Sabtu pagi kembali bersekolah, tapi kali ini bukan untuk mengikuti proses belajar mengajar, melainkan untuk mendapat terapi trauma healing dari pihak sekolah dan dinas pendidikan setempat.

Meski sudah lima hari berlalu sejak ruang kelasnya ambruk, namun sejumlah siswa masih nampak trauma. Orang tua dan guru menemani para korban, selama mereka mengikuti terapi trauma healing di bawah tenda yang sudah didirikan polisi dan TAGANA pasca kejadian. Trauma healing ditujukan bagi 98 siswa-siswi kelas 2 dan 5 yang atap ruang kelasnya ambruk.

Selain dihibur dengan kegiatan seperti bernyanyi, para siswa juga diajak bermain bersama. Seorang siswi menuturkan kegembiraannya, selama mengikuti terapi trauma healing dan mengaku tidak takut untuk bersekolah lagi. 

Sementara itu, pemerintah Kota Pasuruan Jawa Timur, merelokasi SDN Gentong ke Madrasah Diniyah yang lokasinya hanya berjarak puluhan meter dari SDN Gentong.

Dengan demikian diharapkan proses belajar mengajar seluruh siswa pada hari Senin bisa dimulai kembali, tapi karena ruang madrasah yang terbatas, proses belajar mengajar akan dibagi paruh waktu.

Siswa kelas 1 hingga kelas 3 belajar mulai pagi hari, sementara siswa kelas 4 hingga kelas 6 masuk sekolah siang hari. Gedung SDN Gentong seluruhnya akan dibongkar dan dibangun kembali dalam waktu dekat.

Seperti diberitakan sebelumnya, atap 4 ruang kelas SDN Gentong ambruk pada Selasa pagi, atap ambruk saat proses belajar mengajar berlangsung, hingga mengakibat satu siswa dan seorang guru meninggal, sedangkan 13 lainnya luka.