Sukses

Nutriva, Aplikasi Makanan Sehat Karya Mahasiswa ITS Surabaya

Liputan6.com, Surabaya - Tak jarang orang makan sesuai keinginannya sendiri, tanpa memerhatikan gizi dan jumlah kalori yang terkandung. Berdasarkan hal tersebut, mahasiswa Departemen Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menciptakan Nutriva, aplikasi pesan antar makanan dengan memperhatikan gizi dan kalori yang terkandung di dalamnya.

Mereka adalah Annura Ratri Ramadanti, Audrey Gischa Sutanto, dan Muhammad Andhika Adiwidya. Ketiganya merupakan mahasiswa ITS Departemen Teknik Industri angkatan 2017.

Dengan aplikasi Nutriva, mereka juga berhasil mendapat juara pertama dalam lomba Entrepreneurship and Career Workshop ke-8 yang diadakan oleh Jurusan Ekonomi Pembangunan Universitas Airlangga (Unair), awal November 2019.

Sebuah riset menunjukkan, 80 persen masyarakat Indonesia saat ini telah menerapkan program diet. "Kami terinspirasi dari orang-orang yang ingin diet dan menerapkan pola hidup sehat yang murah tanpa perlu berlangganan di pusat kebugaran maupun jasa boga," ungkap Annura Ratri Ramadanti, salah satu anggota tim, Rabu (13/11/2019). 

Dengan melihat peluang yang ada, lanjut Annura, terciptalah aplikasi Nutriva ini. "Nama Nutriva kami ambil dari bahasa Italia yang artinya menutrisi, sesuai dengan tujuan kami yaitu menutrisi semua masyarakat Indonesia," ujar  Annura. 

Annura, mahasiswa ITS ini juga mengungkapkan, timnya membuat sebuah aplikasi yang menawarkan integrasi pemesanan makanan secara online dengan perhitungan kalori. "Selain itu juga ada konsultasi kesehatan oleh personal trainer maupun ahli gizi,” imbuh mahasiswi asal bogor ini.

Pada pelaksanaannya, menurut Annura, Nutriva bermitra dengan beberapa pihak seperti jasa transportasi online untuk mengantar makanan, rumah makan untuk penyedia makanan, dan ahli gizi untuk konsultasi.

Namun, karena Nutriva bertujuan untuk kesehatan, bagi rumah makan yang ingin bermitra dengan Nutriva harus memenuhi standar Nutriva. 

Standar Nutriva yang dimaksud adalah mereka tidak mematok jenis bahan makanan apa yang digunakan, tapi lebih kepada jumlah komposisi kalori yang konsisten dalam setiap menu. "Rumah makan berbasis fastfood pun bisa bermitra, yang terpenting jumlah kalorinya diperhatikan," tuturnya.

Pada awal penggunaannya, papar Annura, setiap orang wajib menuliskan berapa berat dan tinggi badan, umur, jenis kelamin, dan seberapa sering mereka berolahraga untuk mengetahui jumlah kalori yang dibutuhkan. Kalori yang dibutuhkan akan muncul secara otomatis setelah semua pertanyaan terisi. 

"Setelah makanan dipesan, aplikasi ini langsung terhubung dengan jasa transportasi online yang akan mengantar makanan mereka," terang pecinta martabak telor ini.

2 dari 3 halaman

Aplikasi

Sesuai dengan janji yang mereka tawarkan, aplikasi ini menyediakan beberapa personal trainer dan juga ahli gizi sebagai konsultan. Dengan merogoh kocek sebesar Rp 60.000 per bulan guna berlangganan premium atau Rp 20.000 untuk sekali mencoba, pelanggan sudah dapat menikmati fasilitas ini. 

"Pelanggan dapat saling berkirim pesan dengan ahli gizi maupun membuat janji secara pribadi, namun untuk tarif janji pribadi ditentukan oleh pihak ahli gizi sendiri," ujarnya.

Annura menyampaikan, tidak hanya konsultan dan kalkulator kalori saja yang menjadi keunggulan dalam produk ini. Tips olahraga di rumah dan fakta-fakta menarik dari makanan hadir dalam aplikasi ini.

Dengan aplikasi ini, Annura bersama kedua temannya tersebut berharap agar bisa memberi kesempatan kepada masyarakat dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah untuk bisa menerapkan pola hidup sehat juga.

"Kami berharap aplikasi ini tidak berhenti saat perlombaan selesai, kami ingin segera merealisasikannya, namun untuk saat ini kami masih melakukan pengembangan pada beberapa fitur seperti penyempurnaan pada fitur olahraga," pungkas Annura.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini