Sukses

Langkah RSUD Dr Soetomo Surabaya Tangani Bayi Penderita Hidrosefalus

Liputan6.com, Jakarta - Tim dokter Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Soetomo Surabaya menjelaskan langkah penanganan terhadap Muhammad Pandhu Firmansyah, bayi dengan Hydrocephalus (Facial Cleft Tessier Hydrocephalus Myelomeningocel), Senin (9/12/2019).

Bayi Pandhu memiliki rongga hingga empat sentimeter pada bagian atas bibir area hidung yang membuatnya sulit minum ASI dari puting ibunya atau meminum susu formula dengan dot. Dina Oktavia (21 tahun), ibunda Muhammad Pandhu Firmansyah, harus menyuapkan susu formula dengan sendok.

Dokter bedah plastik yang menangani bayi hydrocephalus, dr Lobredia Zarasade SpBpRE (KKF), menuturkan langkah awal yang dilakukan timnya yaitu mempersempit jaringan yang terbuka menutup celahnya dengan taping pakai plester dimulai hari ini.

"Nanti ditaping, ditutup pakai plester dengan sedikit tarikan, jadi celahnya diharapkan bisa menyempit. Prosesnya sederhana, kalau basah nanti plesternya diganti. Makanya keluarga kami ajari juga," ujar dia mengutip Antara.

Pemberian plester pada bagian kiri dan kanan dilakukan selama sebulan dan dua bulan sampai lebar celahnya mencapai dua sentimeter. Sehingga memudahkan proses operasi selanjutnya.

"Saat ini sekaligus pemeriksaan seluruh tim, mulai dokter mata, THT, anak, rehab medik, bedah syaraf," ucapnya.

Langkah selanjutnya yaitu operasi rekonstruksi soft tissue, yaitu kulit dan otot di bawahnya. Kemudian menunggu satu sampai satu setengah tahun untuk operasi langit-langit mulut Pandhu.

"Setelah operasi akan ada terapi bicara sampai usia empat tahun, kemudian pasang kawat gigi operasi lanjutan untuk menutup gusinya. Usia sembilan tahun akan kami perbaiki lagi," tutur dia di Surabaya.

Operasi perbaikan wajah, menurut dr Lobredia, bisa sampai usai 17 tahun saat tulang wajahnya sudah tidak berkembang lagi.

2 dari 3 halaman

Bakal Ditangani 11 Dokter Spesialis

Sebelumnya, penanganan terhadap Muhammad Pandhu Firmansyah, bayi berusia lima bulan dengan Hydrocephalus asal Surabaya akan dilakukan bertahap. Bahkan kondisi Pandhu akan terus dipantau hingga usia 17 tahun.

Adapun sebanyak 11 dokter spesialis dari berbagai divisi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Soetomo Surabaya akan dikerahkan menangani Muhammad Pandhu Firmansyah.

Direktur Utama RSUD dr Soetomo Surabaya, Dr Joni Wahyuhadi menuturkan, penanganan terhadap bayi Pandhu akan dilakukan maksimal secara bertahap. Ini mulai dari penanganan gizi oleh spesialis anak, selanjutnya perencanaan beda syaraf hingga bedah plastik.

“Kami akan berupaya maksimal menangani Pandhu. Penanganannya dilakukan bertahap. Kami melibatkan para dokter ahli bedah plastik, bedah syaraf, dan dua dokter khusus memonitor tumbuh kembang anak,” ujar dia.

Joni menuturkan, tahapan penanganan Pandhu dengan memasang selang yang dilakukan oleh dokter bedah syaraf. Hal itu untuk untuk mengurangi tekanan kadar air di otaknya.

“Kalau nanti sudah stabil, barulah dilakukan rekonstruksi (bedah plastik) di bagian sumbing wajah yang harus dipersempit. Ini dikerjakan satu bulan sampai dua bulan ke depan,” tutur dia.

Joni menuturkan, penanganan Pandhu ini akan dilakukan hingga usia 17 tahun. Sejumlah rekonstruksi wajah terus dilakukan.

“Kami melibatkan 11 dokter spesialis dari berbagai divisi. Sampai 17 tahun terus dipantau dan direkonstruksi,” ujar dia.

Joni juga memberikan kontak dua dokter ahli tumbuh kembang anak yaitu dr Mira dan dr Nur Aisyah kepada Dina Oktavia (21), ibu kandung Pandhu. Ini agar sewaktu-waktu bisa konsultasi tentang gizi dan tumbuh kembang.

“Ibu, nanti diberikan kontak dokter tumbuh kembang biar bisa konsultasi langsung untuk pemantauan,” ujar dia.

Dina mengapresiasi kepada RSUD dr Soetomo yang akan menangani anaknya. Di kesempatan itu, dirinya juga meminta doa untuk kelancaran operasi anaknya.

“Saya berterima kasih kepada dokter yang akan menangani anak saya. Saya mohon doanya untuk anak saya supaya diberikan kelancaran operasi yang akan dijalani,” kata dia.

Sekadar diketahui, Muhammad Pandhu Firmansyah, bayi lima bulan warga Jojoran, Surabaya, selain menderita hidrosefalus juga mengalami kelainan wajah sehingga tidak bisa mendapat asupan gizi secara normal.

Pandhu mengalami facial cleft tessier hydrocephalus myelomeningocele. Kepalanya membesar tak beraturan, sedangkan bibir, hidung, dan matanya tidak terbentuk sempurna.

Bibir tak sempurna itulah yang membuat Pandhu sulit minum ASI dari puting ibunya atau meminum susu formula dengan dot. Dina Oktavia, ibunya, harus menyuapkan susu formula dengan sendok.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini