Sukses

Kembangkan Biodiesel Terbarukan, Guru Besar Unair Manfaatkan Mikroalga

Liputan6.com, Surabaya - Indonesia memiliki sumber daya alam terutama minyak bumi. Minyak bumi dimanfaatkan untuk bahan bakar baik di bidang industri maupun transportasi. Hanya saja,  kekayaan minyak bumi di Indonesia mulai menurun dari tahun ke tahun.

Sehingga, pemerintah berencana mengalokasikan subsidi energi bahan bakar fosil dengan menguranginya dan menggunakan energy renewable resource dengan fokus pengembangan biodesel. Dengan masalah itu, Prof. Dr. Purkan selaku guru besar kimia Universitas Airlangga (UNAIR) meneliti dengan memanfaatkan mikroalga untuk pengembangan biodesel terbarukan.

Pemilihan mikroalga sebagai bahan untuk biodesel bukan tanpa sebab. Lantaran, mikroalga merupakan mikroorganisme fotosintetik yang dapat berkembang dengan cepat di perairan. Tidak hanya itu, mikroalga mengandung lipid dan hanya membutuhkan karbon dioksida (CO2) serta air (H2O) untuk berkembang.

“Indonesia terkenal sebagai negara perairan, sehingga memungkinkan dimanfaatkan untuk media pembiakan mikroalga. Saat ini mikroalga juga belum banyak dimanfaatkan dengan baik, padahal mikroalga dapat dikultur dengan mudah untuk mendapatkan biomassa sel sebagai sumber ekstrak lipid atau langsung digunakan untuk produksi biodesel,” tuturnya, Selasa (10/12/2019). 

Jenis Mikroalga yang Digunakan

Dalam penelitian tersebut, terdapat dua jenis  mikroalga strain Indonesia yang digunakan yakni Nannochloropsis oculata dan chlorella vulgaris. Uniknya, keduanya memiliki komponen utama pertumbuhan yang sama tetapi berbeda pada jenis mikronutriennya (trace element). 

"Nannochloropsis oculata memerlukan komponen trace lement lebih banyak dibanding dengan chlorella vulgaris. Penumbuhan chlorella vulgaris relative lebih mudah penumbuhan dan komponen medianya," ujar dia.

2 dari 3 halaman

Terdapat Dua Cara Membuat Biodiesel

Terdapat Dua Cara Membuat Biodesel

Purkan menuturkan, hanya dalam kurun waktu enam bulan penelitian tersebut sampai  mendapatkan hasil. Dengan memiliki 2 cara, yakni in-situ dan ex-situ. Untuk cara  in-situ, lanjutnya, sel mikroalga yang telah dikeringkan terlebih dahulu diberi tambahan methanol dan katalis. Kemudian, diberi treatment  dan langsung membentuk biodesel.

Sedangkan untuk cara ex-situ, sel kering mikroalga di ekstrak lipidnya terlebih dahulu untuk mendapatkan minyak. Selanjutnya, minyak tersebut diubah menjadi biodesel melalui penambahan methanol dan katalis. Dari kedua cara tersebut, lanjutnya, keduanya menggunakan methanol high pure untuk menghindari adanya campuran air yang dapat mempengaruhi hasil.

Katalis untuk pembentukan biodesel ada beberapa jenis:  asam, basa, dan nano partikel. Pemilihan jenis katalis disesuaikan dengan sifat dan jenis sampel mikroalga yang digunakan. 

Hasil Penelitian 

Dari penelitian tersebut, sambungnya, dihasilkan sel mikroalga yang di treatment dengan katalis nano partikel hasilnya lebih tinggi. Tidak hanya itu, dengan proses in-situ juga lebih tinggi bahkan lebih cepat. 

Baginya, cara ex-situ kurang efisien dibandingkan dengan cara in-situ. Hal itu karena, cara ex-situ tahapannya yang panjang dengan hasil yang sedikit.

Uji Coba

Prof Purkan mengatakan, penelitian yang saat ini dikembangkan baru pada peningkatkan produk biodesel (rendemen), dan penentuan komponen serta jenis biodeselnya. Pengembangan untuk uji elektrositi hendak dikerjakan kedepan.

Yang menjadi fokusnya saat ini, lanjutnya, yaitu meningkatkan pengembangan katalisnya supaya biodesel yang dihasilkan lebih tinggi. Hal paling penting adalah memanfaatkan biodiversitas alam yang belum termanfaatkan dan berpotensi.

Dengan begitu, prof Purkan berharap kedepan perlu dibuat suatu sentral-sentral yang dapat meningkatkan pemanfaatan biodesel bekerjasama dengan sentral-sentral lembaga riset atau langsung pusat-pusat produksi yang dinaungi oleh pemerintah supaya dapat dieksplor biodesel itu dari mikroalga dan langsung bisa diterapkan. Sehingga kebutuhan dapat terpenuhi.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini