Sukses

Berwisata ke Kampung Lawang Seketeng Surabaya? Coba Cicipi Rujak Topak

Liputan6.com, Jakarta - Jika berbicara mengenai kekayaan yang banyak ditemui di Surabaya, Jawa Timur yang termasuk di dalamnya adalah wisata kuliner.

Berbagai macam kuliner tersaji di Surabaya. Dari mulai makanan berat seperti berbagai olahan nasi sampai makanan ringan dan jajanan terjaja di setiap sudut kotanya.

Salah satu makanan yang sering dijumpai di Surabaya adalah berbagai olahan rujak seperti rujak cingur. Tak hanya rujak berbagai olahan pecel pun banyak dijumpai di Surabaya.

Kali ini, Liputan6.com akan membahas salah satu kuliner unik yang ada di Surabaya, yaitu Rojek Topak atau disebut juga dengan Rujak Topak.

Mengutip dari instagram @surabayasparkling, Minggu (5/1/2020), Rujak Topak ini sekilas mirip dengan olahan rujak cingur. Namun jika dilihat dari isiannya, Rujak Topak ini malah mirip dengan olahan pecel karena terdapat kecambah dan kacang panjang yang direbus.

Selain ketupat, kecambah dan kacang panjang yang direbus, Rujak Topak ini juga berisikan makanan khas Indonesia, yaitu tahu, tempe, dan irisan timun.

Rujak Topak ini diambil dari bahasa Madura yang dalam bahasa Indonesia “Topak” adalah ketupat. Makanan ini dinamakan Rujak Topak karena menggunakan ketupat sebagai bahan utamanya.

Jika biasanya rujak yang diulek (Rujak Ulek) yang menggunakan petis mempunyai rasa manis, Rujak Topak yang menggunakan petis merah asli dari Madura ini mempunyai rasa yang gurih dan asin. Biasanya, Rujak Topak ini diberi peyek yang sudah dikremeskan.

Bagi Anda yang ingin mencicipi kuliner unik yang ada di Surabaya, Anda wajib mencoba kuliner Rujak Topak ini. Anda bisa menemukan Rujak Topak ini di Kampung Wisata Lawang Seketeng.

 

(Shafa Tasha Fadilla-Mahasiswa PNJ)

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

2 dari 3 halaman

Kampung Lawang Seketeng Bakal Jadi Tujuan Wisata Sejarah Surabaya

Sebelumnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berencana menjadikan Kampung Lawang Seketeng yang berada di Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng Surabaya, sebagai salah satu tujuan wisata heritage. Oleh karena itu, pemkot saat ini sedang menyiapkan desain besar untuk penataan di kawasan kampung lawas tersebut.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya, Eri Cahyadi memastikan, pihaknya segera menyiapkan kebutuhan untuk penataan di kampung itu. Dia menuturkan, banyak sekali bukti-bukti otentik sejarah yang ditemukan di kawasan tersebut. Nantinya bukti-bukti sejarah itu bakal dikoneksikan satu sama lain.

"Sehingga nanti salah satu wisata yang ada di Lawang Seketeng ini bisa satu paket, termasuk bahwa di sini ada dua makam, yang sebelahnya masjid ada makam syekh, yang kedua makam Mbah Pitono," kata Eri, Jumat, 25 Oktober 2019.

Dia mengatakan, banyak masyarakat yang tidak mengetahui asal-usul makam Mbah Pitono yang berada di tengah perkampungan itu. Diduga, Mbah Pitono dahulu merupakan salah satu guru ngajinya Presiden Soekarno dan Bung Tomo (Pahlawan Kemerdekaan). 

Oleh karena itu, pihaknya ingin supaya asal-usul sejarah itu nantinya bisa diketahui masyarakat. "Sehingga nanti sejarah itu akan teringat betul bahwa di sini ada punden (Makam Mbah Pitono) itu sejarahnya seperti apa, ceritanya seperti apa," ujar dia.

Selain itu, Eri menyebut, di kawasan ini juga terdapat sumur tua dan mushala kuno yang menyimpan banyak benda sejarah. Seperti tombak, Al-Qur'an bertuliskan tangan, ilmu falaq, hingga waktu salat zaman dahulu. Bahkan, di kampung ini juga terdapat rumah tinggal Presiden Soekarno serta meja bundar yang diduga pernah digunakan Bung Tomo. 

"Di sini juga kita ketahui ada langgar (musholla), juga ada rumah Bung Karno, ada mejanya Bung Tomo juga yang ada di sini, itu akan kita gandengkan, bahwa kampung ini pernah ditinggali Bung Karno dan Bung Tomo," paparnya.

Menariknya, bangunan rumah-rumah lawas di Kampung Lawang Seketeng Surabaya ini juga masih terawat hingga sekarang. Untuk itu, pemkot juga bakal mengkoneksikan kesan kuno dan klasik rumah-rumah kuno itu dengan objek-objek sejarah. Namun, penataan yang dilakukan tidak menghilangkan estetika dari kampung lawas itu sendiri. 

"Sehingga nanti orang bisa lihat ini pariwisata kota sejarah, kampung lawas, peradaban yang tua, itu yang akan kita munculkan di sana," tutur dia.

3 dari 3 halaman

Diresmikan 10 November

Disamping mengkoneksikan objek-objek peninggalan sejarah, Pemkot Surabaya juga bakal menata kembali dinding-dinding di kawasan itu dengan sentuhan mural. Nantinya, desain mural juga bakal disesuaikan dengan kondisi di sekitar. 

"Kalau di depannya langgar (musholla), maka bentuk muralnya itu bentuknya islami. Apa yang ada didekatnya maka akan dibuat menjadi tematik," kata dia.

Tak hanya itu, untuk mendukung Kampung Lawang Seketeng sebagai destinasi wisata heritage, Pemkot Surabaya juga bakal menyiapkan gaet yang berasal dari anak-anak di sekitar. Nantinya anak-anak bakal dilatih untuk menjadi pemandu wisata. 

"Insya allah kita sudah kerjasama dengan teman-teman, nanti ini gaetnya itu juga dari sini. Nanti kita juga akan panggil pelatih yang dulu ngelatih Cak dan Ning kita. Sehingga adik-adik yang ada di sini nanti bisa jadi tour gaetnya,” ujar Eri.

Eri menambahkan,  Kampung Wisata Heritage di Kelurahan Peneleh ini bakal diresmikan bertepatan pada Hari Pahlawan 10 November 2019. Dengan demikian, momen itu juga menandai Kampung Lawang Seketeng ini juga menjadi salah satu saksi bisu sejarah perjuangan Kota Surabaya.

"Insya Allah (peresmian) tanggal 10 November, jadi Hari Pahlawan itu sebagai penanda Kampung Lawang Seketeng, karena kampungnya Pahlawan, ada Bung Tomo dan Bung Karno, sehingga diharapkan warga juga menjaga seperti semangatnya (pahlawan),” pungkasnya.