Sukses

Rektor: Mahasiswa Unesa di Wuhan dalam Kondisi Sehat

Liputan6.com, Jakarta - China mengisolasi Wuhan imbas kota yang dianggap pusat wabah Virus Corona baru. Hal ini berdampak terhadap aktivitas mahasiswa Indonesia di Wuhan, termasuk mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang menerima beasiswa Pusat Bahasa Mandari Unesa (Confucius Institute).

Mahasiswa Unesa penerima beasiswa Pusat Bahasa Mandarin (Confucius Institute) ada 12 mahasiswa antara lain empat orang penerima beasiswa satu semester, empat orang penerima beasiswa satu tahun, tiga orang penerima beasiswa full S2. 

Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof Dr Nurhasan memastikan kondisi mahasiswa Unesa  tersebut dalam keadaan sehat. Selain itu, sudah ada penanganan tersendiri dari kampus kepada mahasiswa Unesa penerima beasiswa Confucius Institute tersebut.

“Mereka kondisinya alhamdullilah sehat, sekarang yang masih stay di Wuhan ada sembilan orang karena memang sudah ada penanganan tersendiri dari kampus kepada mahasiswanya, khususnya juga mahasiswa asing. Ada pengukur suhu di setiap asrama, dan ada cek khusus setiap malam,” ujar Nurhasan, lewat keterangan tertulis, Jumat (24/1/2020).

Ia menambahkan, ada juga pendamping untuk setiap lantai pada tiap dormitory sehingga sudah cukup menjaga meski kenyamanan berkurang. "Tapi alhamdulilah menurut teman-teman PPI di sana mahasiswa Indonesia semua sehat," ujar dia.

Nurhasan menuturkan, pihaknya selalu berkoordinasi dan berkomunikasi dengan mahasiswa di sana untuk memastikan kondisi.

2 dari 3 halaman

Vaksin Pneumonia Biasa Tidak untuk Mencegah Pneumonia Wuhan

Sebelumnya, salah satu pencegahan masuknya virus ke dalam tubuh manusia yaitu dengan melakukan vaksinasi. Dengan maraknya novel coronavirus (nCoV) atau yang dikenal pneumonia wuhan akhir-akhir ini mungkin ada yang beranggapan bahwa dengan melakukan vaksinasi pneumonia yang telah beredar dapat mencegahnya. 

Namun, dikatakan langsung oleh Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Anung Sugihantono dalam konferensi pers pada Senin 20 Januari 2020 di Gedung Kemenkes, sebenarnya vaksin pneumonia biasa tidak cocok untuk mencegah pneumonia wuhan. 

"Kemarin juga ditanyakan. Pak itu kan ada vaksin yang berkaitan dengan pneumonia, tetapi itu sebenarnya tidak sama," ucap Anung.

Jadi, jika ada seseorang yang ingin pergi ke China, terutama Wuhan dan minta untuk vaksinasi pneumonia dengan harapan tidak terkena novel coronavirus yang sedang mewabah disana, tentu tidak bisa atau tidak cocok.

"vaksinnya itu tidak cocok. Saya tegaskan bahwa vaksin pneumonia biasa tidak untuk mencegah novel coronavirus," jelas dirjen P2P Kemenkes.

Dirjen P2P Kemenkes juga menambahkan bahwa sangat diperbolehkan untuk melakukan vaksinasi pneumonia, tetapi lebih untuk pneumonia biasa yang saat ini sudah kita kenal.

"Itu kata kuncinya disitu. Jadi jangan sampai salah ya," kata Anung.

Anung juga berharap masyarakat tidak terjebak akan hal tersebut. 

Anung menjelaskan ada tiga merek Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV) yang telah beredar di Indonesia, yaitu:

PCV 10 dengan merek bernama Synflorix.PCV 10 dengan merek bernama Pneumosil.PCV 13 dengan merek bernama Prevnar. Namun dirjen Anung mengatakan hanya ada dua vaksin yang sudah memiliki izin beredar di Indonesia melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), yaitu PCV 10 Synflorix dan PCV 13 Prevnar.

"PCV 10 merek Pneumosil belum mendapat izin edar dari BPOM," ujar dirjen Anung.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Loading