Sukses

Indeks Pembangunan Manusia Jatim Naik pada 2019, Surabaya Masuk Kategori Tertinggi

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat kenaikan indeks pembangunan manusia (IPM) di Jawa Timur pada 2019. Tercatat, IPM Jawa Timur tumbuh 1,03 persen menjadi 71,50 pada 2019 dari 2018 sebesar 70,77.

Dari kabupaten/kota di Jawa Timur, Surabaya mencatatkan IPM tertinggi dengan capaian 82,22. Sedangkan IPM terendah di Jawa Timur tercatat di Sampang dengan IPM 61,94.

Kota Surabaya, Malang, Madiun dan Kabupaten Sidoarjo tercatat mempunyai IPM berkategori sangat tinggi. Sedangkan lainnya sebanyak 20 kabupaten/kota berkategori tinggi, dan 14 kabupaten/kota berkategori sedang.

Mengutip laman BPS Jawa Timur, Senin (17/2/2020), pembangunan manusia di Jawa Timur mengalami kemajuan secara berlanjut pada 2013-2019. Dari 67,55 pada 2013 menjadi 71,50 pada 2019. Selama periode itu, IPM Jawa Timur tumbuh 5,85 persen. Rata-rata pertumbuhan selama 2013-2019 sebesar 0,99 persen per tahun.

BPS menilai ini menunjukkan upaya pemerintah Jawa Timur untuk meningkatkan pembangunan manusia cukup berhasil. Keberhasilan ini ditunjukkan perubahan kategori untuk beberapa wilayah. Kabupaten Sidoarjo yang semula pembangunan manusianya berkategori tinggi pada 2019 naik kelas menjadi sangat tinggi.

Selain itu, Kabupaten Blitar, Ponorogo, Ngawi, dan Kabupaten Malang juga naik kelas dari pembangunan manusia berkategori sedang menjadi tinggi.

Pemerintah Jawa Timur terus berupaya meningkatkan kinerja pembangunan manusianya. Hal ini agar tidak terjadi ketimpangan pembangunan manusia antar wilayah di Jawa Timur. Wilayah yang mempunyai IPM tergolong sedang diupayakan untuk mencapai kategori tinggi.

Meningkatnya pembangunan manusia di Jawa Timur setiap tahun karena ada kenaikan masing-masing komponen pembentuknya antara lain umur harapan hidup (UHH), harapan lama sekolah (HLS), rata-rata lama sekolah (RLS) dan pengeluaran per kapita yang disesuaikan.

Untuk umur panjang dan hidup sehat, selama 2013-2019, Jawa Timur telah meningkatkan usia harapan hidup saat lahir dari 70,34 tahun pada 2013 menjadi 71,18 tahun pada 2019.

Pada kurun waktu tersebut, rata-rata umur harapan hidup tumbuh 0,21 persen per tahun atau naik 0,15 tahun per tahunnya. Ini menunjukkan ada perbaikan pembangunan kualitas kesehatan di Jawa Timur.

2 dari 3 halaman

Kualitas SDM Membaik di Jawa Timur

Sementara itu, anak-anak usia tujuh tahun berpeluang untuk bersekolah selama 13,16 tahun. Pada 2019, harapan lama sekolah di Jawa Timur telah mencapai 13,16 tahun yang artinya anak-anak usaia 7 tahun memiliki peluang untuk menamatkan Pendidikan mereka hingga lulus D1.

Pada periode sama, rata-rata lama sekolah di Jawa Timur tumbuh 1,49 persen per tahun. Pertumbuhan positif ini modal penting untuk mendukung pembangunan di Jawa Timur. Artinya kualitas sumber daya manusia (SDM) dari sisi pendidikan yang semakin membaik akan berdampak terhadap peningkatan daya saing sumber daya manusia (SDM) sebagai pelaku utama pembangunan.

RLS Jawa Timur pada 2019 mencapai 7,59 tahun menunjukkan secara umum rata-rata penduduk Jawa Timur usia 25 tahun ke atas sebagian besar telah mengenyam pendidikan kelas VII hingga kelas VIII.

Untuk standar hidup layak, pada 2019, pengeluaran per kapita masyarakat Jawa Timur yang disesuaikan mencapai Rp 11,74 juta per tahun. Angka ini naik 17,65 persen dibandingkan 2013. Selama 2013-2019, pengeluaran per kapita disesuaikan masyarakat meningkat sebesar Rp 277,35 ribu per tahun.

Peningkatan pengeluaran per kapita yang disesuaikan ini menunjukkan kalau kemampuan ekonomi masyarakat Jawa Timur semakin membaik. Kondisi ini sejalan dengan makro ekonomi yang ditunjukkan dari angka produk domestik regional bruto (PDRB) yang juga naik selama periode tersebut.

Selain itu, harga-harga barang dan jasa khususnya kebutuhan pokok cukup terjaga inflasinya selama 2019. Inflasi stabil tersebut menguatkan daya beli masyarakat Jawa Timur sehingga roda ekonomi berputar cukup dinamis.

Pencapaian pembangunan manusia diukur dengan memperhatikan tiga aspek antara lain umur panjang, hidup sehat dan standar hidup layak. IPM merupakan indicator penting untuk mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup manusia.

IPM menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan dan sebagainya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Loading