Sukses

Banting Setir UMKM Surabaya, dari Produksi Tas Beralih ke Baju Hazmat

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

UMKM milik Andy Hwantono, warga Dukuh Setro 7A nomor 21 Surabaya, yang biasanya membuat tas kini banting setir membuat membuat baju hazmat atau Alat Perlindungan Diri (APD). 

Andy pengusaha UMKM  kelahiran Surabaya 1982, menyumbangkan puluhan baju hazmat buatannya yang berbahan Non-Woven Polypropylene Spunbond 75 gram, ke tenaga medis puskemas yang berada di wilayah Kecamatan Tambaksari Surabaya.

Sumbangan ini merupakan bentuk pertisipasi tempat usahanya dalam penanganan Covid-19, mengingat hingga kini masih banyak tenaga medis yang menjadi garda terdepan memerangi virus Corona kekurangan APD.

"Karena kami lihat di Surabaya aja ya, kota besar ini itu masih banyak kekurangan APD apalagi yang di daerah-daerah. Karena suplai distribusinya ini APD sampai sekarang mungkin belum merata," kata Andy, Jumat (10/4/2020). 

Andy mengatakan, pada awal Covid-19 menjangkiti Jawa Timur,  dirinya sempat berpikir untuk merumahkan puluhan pegawainya karena tidak ada pesanan sama sekali. Namun ketika rekanannya dari instansi pemerintah maupun swasta yang biasa pesan tas ransel ke tempatnya melihat baju hazmat yang dijual dengan harga tinggi di pasaran, maka Andy diminta memproduksi baju hazmat berstandar medis yang harganya terjangkau.

Berdasarkan permintaan rekanannya tersebut, Andy memutuskan memulai membuat baju hazmat yang dijual Rp 75.000. Selain itu, ia juga memproduksi face shield dan masker kain untuk pesanan donasi ataupun dipakai sendiri oleh masyarakat.

"Kami berusaha untuk membantu sebisa kami, apa yang bisa kami berikan," ucapnya.

UMKM milik Andy Hwantono, warga Dukuh Setro 7A nomer 21 Surabaya, yang biasanya membuat tas kini banting setir membuat membuat baju hazmat atau Alat Perlindungan Diri (APD). (Liputan6.com/ Dian Kurniawan)

Dalam proses produksi baju hazmat, ia juga menerapkan social distancing dan protokol keamanan Corona Covid-19 kada pegawainya. Dengan mengenakan masker, mereka terlihat sibuk memotong kain non-woven polypropylene spunbond 75 gram untuk dijahit menjadi baju hazmat. 

Dalam sehari, Andy mampu membuat 500 sampai 700 baju hazmat pesanan dalam dan luar kota. Tapi dia merasa kesulitan mendapatkan bahan yang diperlukan, sehingga berharap pemerintah dapat mengimpor bahan Non-Woven Polypropylene Spunbond 75 gram, supaya dirinya tetap bisa memproduksi dan memenuhi kebutuhan APD dengan harga terjangkau.

"Untuk saat ini sebenernya kami terkendala bahan baku, bahan baku yang sekarang harganya sudah naik tinggi sekali tapi di satu sisi juga langka. Jadi ketersediaan bahan baku ini yang sangat butuhkan sebenarnya saat ini," ucapnya.

Dia berharap semua pihak bisa bergotong royong dalam penanganan Corona Covid-19, dan mendoakan agar pandemi virus ini bisa segera terselesaikan dan masyrakat Indonesia, termasuk Surabaya dapat beraktivitas seperti sediakala.