Sukses

Soroti Surabaya, Ketua DPRD Jatim Sebut Balai Kelurahan Bisa Jadi Ruang Observasi

Liputan6.com, Surabaya - Ketua DPRD Jawa Timur (Jatim) Kusnadi juga menyoroti daerah yang ruang observasi-nya kurang dari 20 persen di Jawa Timur.

Kusnadi langsung menyoroti Surabaya. Oleh karena itu, dia meminta Pemkot setempat dapat memanfaatkan tempat yang ditinggalkan selama pandemi COVID-19 untuk dijadikan ruang observasi.

"Mungkin balai kelurahan, yang biasanya dipakai kegiatan PAUD bisa dimanfaatkan untuk obsevasi. Sekarang kegiatan belajarnya diliburkan," kata Kusnadi di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Jumat, 17 April 2020. 

Dia menuturkan, pandemi COVID-19 ini merupakan masalah bersama sehingga diperlukan semangat gotong royong untuk menanganinya. Karena dengan ada ruang observasi di 154 kelurahan di Surabaya, bisa menjadi salah satu upaya maksimal mencegah penyebaran Covid-19.

"Kami mohon atas nama seluruh rakyat Jawa Timur, saya mohon daerah-daerah pemerintahan daerah Kabupaten Kota yang belum menyediakan tempat-tempat itu bahkan juga belum 20 persen," ucapnya. 

Lebih lanjut ia menuturkan, tempat-tempat belajar PAUD di Surabaya yang sedang libur dapat dijadikan ruang observasi.

"Kota Surabaya misalnya yang begitu banyak kelurahannya bahkan di kelurahan-kelurahan itu saya dengar tempat-tempat belajar Paud yang saat ini mungkin sedang ditinggalkan, jadikanlah dia tempat-tempat observasi," kata dia.

2 dari 3 halaman

Pemprov Jatim Soroti Daerah yang Ruang Observasinya Kurang dari 20 Persen

Sebelumnya, Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa menyoroti daerah yang ruang observasinya kurang dari 20 persen.

"Yang kurang dari 20 persen mudah-mudahan bisa menyegerakan dengan gorong royong di desa, kelurahan, maupun di rumah warga yang memiliki rumah yang cukup luas dan halaman yang cukup untuk dijadikan ruang observasi," tutur dia, ditulis Sabtu (18/4/2020).

"Seperti di daerah Kanigoro Blitar yang menjadikan salah satu rumah warga untuk dijadikan ruang observasi," Khofifah menambahkan.

Khofifah mengatakan, daerah yang kurang dari 20 persen, yang pertama adalah Surabaya. Mudah - mudahan warga Surabaya, kelurahan - kelurahan atau mungkin ruang-ruang balai desa bisa dijadikan ruang observasi. 

"Angka di Surabaya ini sebetulnya sangat mengkhawatirkan sebetulnya, dari total ODP nya di Surabaya ini 1.728, PDPnya 669, yang terkofirmasi positif 250 orang. Sehingga yang kurang dari 20 persen mudah-mudahan bisa disiapkan," ujar dia. 

Daerah selanjutnya yang kurang dari 20 persen adalah Kota Blitar itu 14,3 persen, Kabupaten Malang 13,6 persen, Kota Madiun 11,1 persen, Kabupaten Probolinggo 9,1 persen, Kota Batu 8,3 persen, Kota Malang 5,3 persen, Kota Probolinggo 3,4 persen dan Kota Kediri 2,2 persen. 

"Posisi seperti ini sebetulnya menjadi bagian dari kewaspadaan dan kesiapsiagaan kita melihat bahwa ternyata upaya kita memutus mata rantai penyebaran COVID-19 ini masih tetap kita lakukan kewaspadaan berganda dan kesiapsiagaan berlapis," kata dia.

Khofifah menuturkan, pola yang harus dilakukan adalah upaya sinergitas diantara seluruh elemen masyarakat dengan menggunakan pendekatan pentahelix atau harus ada lima unsur yaitu pemerintah, masyarakat, akademi, pengusaha dan media 

"Lima hal ini yang akan menjadikan bagian penguatan bagaiman proses membangun semangat kita tetap optimis dan Insya Allah kita akan menang melawan COVID-19, tapi cara yang kita lakukan harus terukur," ucapnya. 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini