Sukses

Cerdas Kelola Keuangan Saat Ramadan di Tengah Pandemi COVID-19

Liputan6.com, Jakarta - Pandemi COVID-19 telah mengubah sejumlah sisi kehidupan termasuk saat menjalani Ramadan pada 2020. Jika sebelum COVID-19, aktivitas berkumpul untuk buka puasa bersama dilakukan dengan bertemu teman-teman lama, saudara dan rekan kerja kantor, kini hal tersebut sementara tidak dilakukan.

Hal ini seiring anjuran menghindari kerumunan dan berkumpul untuk mencegah penyebaran COVID-19. Kebiasaan berubah tersebut juga berdampak terhadap pengelolaan keuangan seseorang terutama bagi yang masih bekerja dan mendapatkan penghasilan. Momen ini dapat dijadikan untuk menyisihkan uang dan mengalihkan ke biaya lain.

Demikian seperti dikatakan Perencana Keuangan OneShildt Financial Planning, Mohammad Andoko. Ia menuturkan, saat ini terlebih dahulu mengidentifikasi keuangan saat Ramadan sebelum dan sesudah COVID-19.

Jika sebelum COVID-19, bulan puasa juga sebagai ajang bersilahturami dan reuni dengan menjalankan buka bersama dengan teman kantor, teman sekolah, kuliah dan lainnya. Ajang tersebut menurut Andoko membuat seseorang dapat merogoh kocek lebih dalam karena ada biaya makan, parkir, dan transportasi.

"Saat COVID-19, pos itu tidak ada. Kemudian biaya membership, hiburan untuk anak juga dikurangi saat COVID-19,” kata Andoko saat dihubungi Liputan6.com, Minggu (26/4/2020).

Lebih lanjut ia menuturkan, ada pos biaya yang meningkat saat melakukan kegiatan di rumah ketika Ramadan. Biaya itu antara lain pulsa untuk akses internet dan lainnya, kesehatan, makan, air dan listrik. Andoko mengatakan, pos itu menjadi lebih besar karena mungkin penggunaan lebih besar.

Selain itu, Andoko mengingatkan ada juga biaya yang tetap dikeluarkan saat Ramadan di tengah pandemi yaitu zakat dan tunjangan hari raya (THR) untuk asisten rumah tangga (ART).

Andoko pun membagikan tips untuk mengelola keuangan saat Ramadan di tengah pandemi COVID-19. Pertama, tetap cek kondisi keuangan. Mencek kondisi keuangan dengan identifikasi pengeluaran saat COVID-19 mana yang naik, turun serta tetap.

Kedua, Andoko mengingatkan untuk tetap membuat anggaran bulanan. Menurut Andoko, di tengah pandemi COVID-19, mungkin saja pengeluaran dapat ditekan sehingga ada surplus.

"Jalan-jalan berkurang, makan-makan juga berkurang, dan memang mungkin belanja lewat e-commerce. Oleh karena itu identifikasi biaya naik dan turun,” ujar Andoko.

2 dari 3 halaman

Identifikasi Biaya Naik dan Turun

Untuk mengelola keuangan ini, Andoko membagi akronim “cerdas” mengelola keuangan. C itu artinya cek kondisi keuangan. E yang berarti edukasi. Andoko menuturkan, meski aktivitas di rumah tetapi juga tetap mengedukasi diri sendiri dengan belajar online dengan mengikuti kelas-kelas online sehingga mengembangkan diri. R kepanjangan dari regular yaitu tetap investasi rutin.

"Idealnya ada surplus lebih banyak karena makan berkurang, jalan-jalan berkurang. Apalagi sekarang Ramadan akan buka puasa dan sahur di rumah. Jadi surplus banyak buat regular investment,” tutur dia.

D kepanjangan dari debt management dan dana darurat. “Coba melihat utang-utang yang masih outstanding. D itu juga bisa dana darurat. Disiapkan dana darurat karena kita tidak tahu situasi,” kata dia.

A kepanjangan aset. Andoko menuturkan, pada pertengahan tahun akan ada penerimaan siswa baru. Jadi saat ini sudah dipersiapkan biaya pendidikan anak untuk masuk sekolah.

"Dalam jangka pendek mungkin ada aset yang dipindahkan ke tabungan, deposito. Kalau jangka panjang bisa ke instrument lebih berisiko apalagi saham sedang diskon, tetapi harus mengerti pasar modal. Ini ada yang di hold dan switch,” ujar dia.

Sedangkan S kepanjangan dari biasakan kelola keuangan dengan baik, dengan mencatat uang keluar dan masuk. Lalu prioritaskan kebutuhan dari pada keinginan.

"Yang tidak terukur itu keinginan. Jadi sesuaikan dengan kemampuan. Akronim CERDAS ini untuk kembangkan kebiasaan keuangan yang baik,” kata dia.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini