Sukses

Polemik Mobil Laboratorium PCR di Jawa Timur

Liputan6.com, Jakarta - Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Jawa Timur mengalihkan dua mobil laboratorium dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang sedianya diperbantukan khusus untuk Surabaya. Pemerintah Kota (pemkot) Surabaya menyesalkan tindakan tersebut.

Mendengar kabar itu, Risma langsung berkoordinasi dan menghubungi berbagai pihak yang telah diminta bantuan untuk mendatangkan mobil laboratorium tersebut. Risma pun melaporkan kejadian itu kepada Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Doni Monardo.

Risma juga menunjukkan bukti obrolan di layanan pesan singkat antara dirinya dengan Doni. Pada obrolan itu menunjukkan, Risma memohon bantuan alat fast lab untuk Surabaya. Doni pun menyanggupinya dan berjanji akan mempercepat proses pengirimannya.

Dalam obrolan itu, Risma juga melaporkan kalau mobil bantuan itu dialihkan ke daerah lain, sehingga Surabaya tidak bisa menggunakan mobil itu. Doni pun berjanji mengecek keberadaan mobil tersebut karena memang dua mobil bantuan itu diprioritaskan untuk Surabaya.

 

Berikut sejumlah hal terkait polemik bantuan mobil PCR di Jawa Timur yang dirangkum pada Sabtu, (30/5/2020):

2 dari 6 halaman

Saling Klaim soal Mobil PCR

Wali Kota Surabaya Risma geram ketika mengetahui dua mobil laboratorium dari BNPB yang sedianya diperbantukan untuk Surabaya dialihkan ke daerah lain oleh Gugus Tugas COVID-19 Jawa Timur.  Beredar di media sosial kemarahan Risma tersebut. Sambil telepon, ia mengutarakan kekecewaannya.

Risma langsung berkoordinasi dan menghubungi berbagai pihak yang telah diminta bantuan untuk mendatangkan mobil laboratorium tersebut. Risma pun melaporkan kejadian itu kepada Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Doni Monardo. Risma juga menunjukkan bukti obrolan di layanan pesan singkat antara dirinya dengan Doni. 

“Teman-teman lihat sendiri, ini bukti permohonan saya dengan Pak Doni (Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Doni Monardo). Jadi ini saya sendiri yang memohon kepada beliau. Kasihan pasien-pasien yang sudah menunggu,” ujar Risma, Jumat, 29 Mei 2020.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Jatim sekaligus Ketua Rumpun Preventif Promotif Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Jatim, Suban menuturkan, kronologi bantuan mobil PCR. Pada 11 Mei 2020, pihaknya telah mengirimkan surat permohonan bantuan kepada Gugus Tugas Pusat.

"Bantuan mobil BNPB ditujukan ke Provinsi Jatim. Gugus Tugas Jatim bersurat ke Gugus Tugas Pusat," tutur dia di dalam konferensi pers live streaming youtube di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Jumat malam, 29 Mei 2020.

Suban menyampaikan, surat tersebut bunyinya perihal permohonan dukungan percepatan penegakan diagnosis COVID-19. Ada 15 unit yang diminta oleh Pemprov Jatim.

"Disamping surat, Gubernur telepon ke Jenderal Doni Monardo beserta Pangdam soal bantuan mobil PCR," kata dia.

Setelah berkirim surat tersebut, menurut Suban, pihaknya kemudian diarahkan oleh Gugus Tugas Pusat untuk berkomunikasi dengan Deputi I. "Diarahkan ke pak Dodi dan pada tanggal 27 dikirim unit mobil dengan 2 mesin PCR," kata Suban.

Suban mengatakan, selanjutnya mobil tiba di Surabaya pada Rabu 27 Mei 2020 di Rumah Sakit Lapangan yang berada di Jalan Indrapura. 

"Mobil kemudian langsung beroperasi di RS Unair serta Asrama Haji Sukolilo Surabaya. Total ada 300 sampel yang dikerjakan dengan rincian 200 sampel di RS Unair dan 100 di Asrama Haji," ucapnya. 

Pada 28 Mei 2020, lanjut Suban, mobil PCR diarahkan ke Sidoarjo dan Kabupaten Lamongan untuk mempercepat pemeriksaan sampel yang belum dapat diperiksa. Tak hanya itu, salah satu mobil digeser ke Tulungagung juga untuk mempercepat pemeriksaan.

"Mobil lab tidak hanya untuk Surabaya. Tapi juga daerah lain seperti Lumajang dan Tulungagung. Mengapa harus Tulungagung, karena butuh bantuan cepat, karena terkendala kapasitas swab," ucapya. 

"PDP Tulungagung ini tertinggi kedua di Jatim. Berdasarkan jumlah PDP 558 orang, terdapat 172 meninggal dengan status PDP sebelum sempat diswab, itu kronologisnya," ujar Suban. 

3 dari 6 halaman

Penjelasan Dinkes Surabaya

Mengutip Antara, Koordinator Bidang Pencegahan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Surabaya Febria Rachmanita mengatakan, sebetulnya pada Kamis, 28 Mei 2020, Surabaya sudah akan dibantu mobil laboratorium. 

Awalnya, lanjut dia, mobil itu langsung dipergunakan untuk pasien yang menjalani karantina di Hotel Asrama Haji dan Dupak Masigit yang di situ ada warga dari Krembangan Selatan.  

"Jadi, bantuan dari BNPB itu dua unit mobil laboratorium dan sudah kami tentukan titik-titiknya selama mobil itu berada lima hari di Kota Surabaya. Masing-masing titik itu kami siapkan 200 orang untuk dilakukan tes swab. Mereka itu yang belum dites swab dan waktunya swab ulang, supaya cepat selesai penanganannya," kata Feny sapaan Febria Rachmanita.  

Namun, kata dia, waktu itu diundur pukul 13.00 WIB karena mobil itu dialihkan dulu ke Rumah Sakit Unair dan tidak langsung ke Hotel Asrama Haji. Karena dijadwalkan pukul 13.00 WIB, kemudian para pasien di Hotel Asrama Haji dipersiapkan mulai sekitar pukul 12.30 WIB dengan tetap mengikuti protokol kesehatan.  

"Ternyata, mobil itu tidak datang-datang hingga kami menunggu sekitar lima jam dan mobil itu baru datang sekitar pukul 18.30 WIB. Dan ternyata kemarin dua mobil itu dibawa ke Unair satu dan satu mobil lagi dibawa ke daerah lain,"ujar dia.

Feny memastikan, Kamis 28 Mei 2020, Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Penanganan COVID-19 di Jatim dr. Joni Wahyuadi sudah menjanjikan setelah dari daerah lain itu, mobil itu akan ke Surabaya, sehingga disiapkanlah warga di Kelurahan Tanah Kali Kedinding sebanyak 200 orang untuk dilakukan tes swab.  

"Kami sudah siapkan sejak pukul 07.00 WIB dan warga sangat antusias untuk mengikuti tes tersebut. Tapi tak lama kemudian saya mendapatkan kabar bahwa dua mobil itu sama-sama dialihkan ke luar daerah. Akhirnya, kami dua kali membubarkan pasien untuk melakukan tes swab," ujar dia. 

4 dari 6 halaman

Ada Miskomunikasi

Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Provinsi Jawa Timur mengatakan ada miskomunikasi terkait permohonan peminjaman mobil laboratorium polymerase chain reaction (PCR) yang terjadi di Surabaya, Jawa Timur.

"Memang ada miskomunikasi dan sekarang kami sudah berkoordinasi,” tutur Koordinator Rumpun Kuratif Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Jatim dr Joni Wahyuhadi, di Gedung Negara Grahadi Surabaya, seperti dikutip dari Antara, ditulis Sabtu, (30/5/2020).

Ia mengatakan, sejak hari pertama, Rabu 27 Mei 2020, kedatangan mobil tersebut sengaja langsung ditempatkan di RS Universitas Airlangga sekaligus membantu permasalahan yang terjadi di "Institute of Tropical Disease" (ITD) Unair.

Kemudian, Direktur Utama RSUD dr Soetomo tersebut berkoordinasi dengan Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya Febria Rachmanita, yang kemudian diarahkan ke Asrama Haji Surabaya untuk dilakukan tes di sana.

Pada Kamis, 28 Mei 2020 mobil PCR ditempatkan di RSUD Sidoarjo serta RS Lapangan di Jalan Indrapura Surabaya. Sesuai jadwal, hari ketiga atau Jumat, 29 Mei 2020, dilakukan pemeriksaaan di RSUD Tulungagung serta RSUD Soegiri Lamongan.

"Miskomunikasi terjadi saat Bu Feni (sapaan Kadinkes Surabaya, Red) menugaskan stafnya, kalau tidak salah namanya Bu Deni. Tapi, tidak menyampaikan hari ini acaranya di Surabaya apa, sehingga mobil dikirim ke Lamongan dan Tulungagung yang memang juga sangat membutuhkan," kata dia.

Namun, saat mobil PCR di tengah perjalanan, ia mendapat informasi, Surabaya meminta, padahal di Tulungagung dan Lamongan sudah siap dilakukan pemeriksaan.

"Saya sudah bilang, karena sudah janjian dengan Tulungagung dan Lamongan, sehingga besok pagi (Sabtu) dijadwalkan pagi. Akhirnya kami koordinasi dengan Bu Deni dan Pak Kabags Ops," kata dr Joni.

5 dari 6 halaman

Mobil PCR di Surabaya pada 30 Mei

Dijadwalkan pada Sabtu, 30 Mei 2020, dua mobil PCR akan ditempatkan di RSUD Soewandhie (100 sampel) dan RS Husada Utama (100 sampel), kemudian ke kampung tangguh serta RS Lapangan.

Dia juga menyampaikan, satu mobil PCR kapasitasnya bisa memeriksa 600 sampel. Namun, ia mengingatkan, tugas tenaga medis di mobil tersebut sangat berat dan tidak boleh dipaksakan karena memang sangat melelahkan.

"Setiap tiga jam bisa 25 sampel diketahui hasilnya. Tapi, kita juga harus melihat kemampuan petugasnya. Kasihan kalau dipaksakan. Sekali lagi, mari kita sama-sama menjalankan secara baik tugas ini. Semoga pasien yang belum terkonfirmasi bisa segera diketahui hasilnya," ujar dia.

6 dari 6 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini