Sukses

Tanpa Selebrasi, Semangat Gotong Royong Lawan COVID-19 Warnai Hari Jadi Kota Surabaya ke-727

Liputan6.com, Surabaya - Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-727 yang jatuh pada 31 Mei 2020 nampaknya berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bakal menggelar HJKS tahun ini tanpa selebrasi (Perayaan). 

Pemkot Surabaya masih fokus melawan COVID-19 dengan gotong royong. Kota Pahlawan ini pada Sabtu, 30 Mei 2020 tercatat ada penambahan 101 pasien positif COVID-19. 

Wakil Koordinator Hubungan Masyarakat Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya M. Fikser menyampaikan tidak ada perayaan pada HJKS 2020. Disinggung apakah ada pesan khusus dari Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Risma) pada HJKS tahun ini, Fikser menjawab iya. 

"Bu wali akan menyampaikan pidatonya melalui virtual. Salah satu poin dalam pidato tersebut adalah mengenai semangat gotong royong untuk melawan COVID-19," ujar Fikser, Sabtu, 30 Mei 2020.

2 dari 3 halaman

Tunda Kegiatan Perayaan Hari Jadi Surabaya

Sebelumnya, Pemkot Surabaya menunda sementara tiga kegiatan besar dalam acara rangkaian Peringatan Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-727.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Surabaya, Antiek Sugiharti mengatakan, penundaan sementara beberapa kegiatan dalam rangkaian HJKS ini sebagai langkah untuk meminimalisir kontak atau hubungan langsung. Sebab, dalam kegiatan tersebut, terjadi pengerahan massa yang dinilai cukup besar.

"Setelah rapat kemarin dengan situasi pengerahan massa yang cukup besar di event-event itu, sehingga untuk mengantisipasi situasi seperti ini (COVID-19), maka hasil rapat kita memutuskan untuk menunda pelaksanaannya," kata Antiek, Sabtu, 17 Maret 2020.

Antiek mengatakan, tiga kegiatan besar HJKS ke-727 yang dilakukan penundaan sementara ini adalah Festival Rujak Uleg yang rencananya berlangsung pada Sabtu, 5 April 2020, Grand Final Cak dan Ning, Kamis, 9 April 2020 dan Surabaya Vaganza, Sabtu, 12 April 2020. Tiga kegiatan besar tersebut, dipastikan ditunda sementara hingga kondisinya memungkinkan.

"Jadi tiga event besar itu kita tunda sementara, karena melibatkan banyak orang. Seperti Festival Rujak Uleg itu lebih dari 1500 orang peserta dan Surabaya Vaganza dengan banyaknya masyarakat," katanya.

Di samping itu, kata Antiek, beberapa pimpinan perusahaan atau instansi yang menjadi peserta Surabaya Vaganza juga menyatakan mundur. Hal ini tentunya sebagai langkah antisipasi untuk mencegah penularan COVID-19.

"Surabaya Vaganza melibatkan begitu banyak masyarakat. Karena banyak juga kebijakan perusahaan dan pimpinannya untuk mundur, sehingga kita ambil keputusan itu (ditunda),” terangnya.

Namun demikian, Antiek memastikan, pihaknya akan kembali mengkaji bersama pihak-pihak terkait kapan kegiatan tersebut bisa dilaksanakan. Tentunya dengan melihat situasi dan kondisi perkembangan COVID-19. 

"Nanti kita lihat setelah situasi kondisinya stabil, kita informasikan lebih lanjut kapan penundaan waktu dan sebagainya,” kata dia.

Sedangkan untuk kegiatan Surabaya Cross Culture Festival (SCCF) yang berencana dilaksanakan pada 5 - 9 Juli 2020, juga masih dilakukan pertimbangan. 

Antiek menyebut, meski masih berlangsung pada beberapa bulan ke depan, tetapi pihaknya belum bisa memastikan apakah kegiatan tersebut ditunda atau tetap dilaksanakan.

"Itu juga masih dipertimbangkan, nanti apakah Juli ini bisa dilaksanakan, kita lihat situasi apakah sudah bisa, kalau belum nanti juga diundur,” pungkasnya. 

 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini