Sukses

Berawal dari Yoga hingga Terjun Kelola Pertanian Organik di Mojokerto

Liputan6.com, Jakarta - Berawal dari yoga, Maya Stolastika, pemilik twelve’s organics tertarik untuk menekuni dunia pertanian organik. Sektor pertanian yang bahkan tidak sesuai dengan jurusan kuliah yang digeluti Maya malah membuat dia serius untuk menekuninya.

Dari keseriusan dan ketekunan tersebut, ia membangun komunitas yang fokus menyediakan sayur dan buah organik dengan memberdayakan masyarakat desa terutama kaum perempuan di Mojokerto, Jawa Timur.

"Kami berdayakan kelompok petani lebih banyak ibu-ibunya," ujar dia, saat dihubungi Liputan6.com, ditulis Minggu, (28/6/2020).

Ada lima kelompok petani yang dibina Maya dan rekannya. Satu kelompok terdiri dari 4-5 petani yang mengelola lahan sekitar satu hektar di kawasan Celaket, Mojokerto. 

Maya terjun menekuni pertanian organik awalnya bukan dari mempelajari teknik budi daya pertanian. Akan tetapi dari filosofi. Maya menuturkan, selama ini kalau bekerja memikirkan hanya untuk mendapatkan hasil. Namun, Maya mengatakan, ada hal penting lainnya yaitu proses dengan memberikan lagi kembali kepada lingkungan.

"Selama ini bekerja untuk dapatkan hasil. Akan tetapi juga penting bagaimana proses kerja untuk memberikan terbaik sehingga akan mendapatkan hasil terbaik," kata penerima apresiasi SATU Indonesia Awards 2019 di bidang lingkungan ini.

Ia berkenalan dengan filosofi tersebut ketika bersama teman mengikuti yoga di Bedugul, Bali pada Agustus 2007.

"Ada pertanyaan apa kehadiran Anda sudah memberikan dampak positif bagi lingkungan? Atau kehadiran Anda memberikan beban bagi lingkungan. Saat itu masih jadi mahasiswa dan idealisme masih kuat, jadi berpikir enggak bisa seperti ini kalau kerja hanya mendapatkan hasil," ujar perempuan kelahiran 1985 ini.

Ia bersama temannya pun mendapatkan tugas mencari daun mint, dan kemudian diajak ke suatu lahan. “Guru saya bilang tanah itu menumbuhkan sesuatu. Ambil cangkul, dan saya mengambil cangkul, dan sebelumnya tidak pernah memegang cangkul maka jari manis sampai robek hingga mau makan saja robek,” ujar dia.

Maya pun menanam wortel di tanah tersebut. "Setelah saya kembali ke Mojokerto, kemudian tanya kepada petugas, apakah tumbuh tanaman yang ditanam (saat di Bali-red), petugasnya bilang tumbuh, sejak saat itu bertani hingga sekarang,” kata Maya.

2 dari 4 halaman

Berawal dari Kembang Organics

Maya menuturkan, nama twelve’s organics itu berasal dari Bahasa Inggris angka 12. Komunitas itu yang dibangun Maya pada 2012. Sebelum membangun Twelve Organics, ia bersama lima temannya memulai usaha bernama Kembang Organics pada 2008.Maya mengaku saat itu, ia bersama teman-temannya tidak memiliki latar belakang pendidikan pertanian.

"2008-2009 itu bersama lima teman, perempuan semua maka namanya kembang organics,” tutur dia.

Maya menuturkan, modal untuk membangun Kembang Organics sekitar Rp 10 juta. Salah satunya modal itu untuk menyewa lahan sekitar 5.000 meter di Desa Celaket, Mojokerto, Jawa Timur. Ia mengaku mengumpulkan modal usaha dengan menjual pulsa, makanan ringan, memberikan les kepada siswa SD.

Ia menuturkan, terjun ke dunia pertanian organik tersebut merupakan tanggung jawab sendiri sehingga tidak meminta modal kepada orangtua. Apalagi saat itu Maya masih duduk di bangku kuliah di jurusan Sastra Inggris Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Maya bersama teman-temannya belajar otodidak dan membeli buku terkait pertanian organik. Ia bersama teman-temannya menanam sawi hijau. "Benar-benar nol banget. Enggak mengerti apa-apa. Saat itu kaki jadi kepala, kepala jadi kaki. Tidur hanya 2-3 jam saja, saya beri les, kuliah, dan mengantarkan sayur, benar-benar pengalaman luar biasa," tutur dia.

 

3 dari 4 halaman

Cahaya Kecil

Namun, usaha Kembang Organics yang dibangun Maya bersama teman-temannya tak selalu lancar. Ia pun mengalami kerugian luar biasa dan memiliki utang.

"Saat itu tiga teman mundur pada 2009, dan tinggal saya dan teman saya Wita yang melanjutkan,” ujar dia.

Maya menuturkan, salah satu hal untuk terus membangun usaha pertanian organiknya, ketika ada telepon dari seorang ibu yang menanyakan kenapa tidak pernah mengirim sayur lagi. Bagi Maya, itu cahaya kecil dan menunjukkan kalau ada orang yang membutuhkan dan memperhatikan usaha yang dibangun.

"Ada yang aware dengan kehadiran kita," tutur dia.

Bagi Maya, hal terberat bukan soal rugi yang didapatkan ketika membangun pertanian organik. Salah satu hal yang pernah dihadapinya ketika orangtua meminta untuk berhenti berkebun. Orangtua Maya ingin anaknya menjadi seorang pegawai negeri sipil (PNS), atau bekerja di perusahaan.

"Lulus sarjana kok jadi petani. Maka 2010-2011 sempat vakum, dan bekerja di Bali,” kata Maya yang lulus kuliah pada 2010.

Bukan tanpa alasan Maya memilih Bali sebagai lokasi untuk bekerja. "Ingin memiliki kapasitas yang dinilai oleh orang luar. Di sana (Bali) banyak ekspatriat,” kata dia.   (Bersambung)

 

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini