Sukses

Tiga Dokter Tutup Usia dalam Sehari karena COVID-19 di Jawa Timur

Liputan6.com, Jakarta - Kabar duka datang dari dunia kesehatan. Tiga dokter di Jawa Timur tutup usia karena Corona COVID-19 pada Minggu, 12 Juli 2020.

Mengutip instagram @idijawatimur Senin (13/7/2020), tiga dokter tutup usia itu antara lain dr Deni Chrismono Raharjo, dr Budi Luhur, dan dr Arief Agoestonoo Hadi.

Saat dikonfirmasi, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Timur, dr Sutrisno membenarkan hal itu. "Iya confirm karena COVID-19," ujar Sutrisno saat dihubungi Liputan6.com.

Ia menuturkan, dokter Arief Agoestono Hadi sempat dirawat selama seminggu di Surabaya, Jawa Timur. Dokter Agus selama ini bertugas sebagai dokter di Puskesmas Lamongan. Sementara itu, dokter Budi Luhur juga meninggal karena COVID-19. Dokter Budi dirawat di Gresik dan tidak memiliki komorbid.

"Dokter Budi masih muda 45 tahun, selama ini bertugas di Puskesmas Gresik," kata dia.

Selain itu, dokter Deni Chrismono Raharjo tutup usia pada Minggu, 12 Juli 2020. Dokter Deni merupakan salah satu anggota IDI Surabaya. Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Surabaya dr.Brahmana Askandar membenarkan mengenai kabar tersebut.

"Iya (karena COVID-19-red), jam 05.00," ujar Brahmana saat dihubungi Liputan6.com lewat pesan singkat, Minggu, 12 Juli 2020.

Pada 10 Juli 2020, dokter Pepriyanto Nugroho juga meninggal karena COVID-19. Dokter Pepriyanto merupakan  salah satu anggota IDI cabang Kabupaten Blitar.  "Iya karena COVID-19, dirawat di Malang, selama 10 hari," ujar dia.

Sutrisno mengatakan, total sekitar 19 dokter di Jawa Timur meninggal karena COVID-19. Jumlah kematian tenaga medis karena COVID-19 tersebut dinilai tinggi.  "Sangat tinggi, belum pernah dalam sejarah terjadi seperti ini,” kata dia.

2 dari 3 halaman

Imbauan IDI Jawa Timur

Oleh karena itu, ia mengimbau tenaga medis untuk disiplin menggunakan alat pelindung diri (APD) setiap saat baik di klinik, rumah sakit, dan atau tempat bertugas. Sutrisno juga mendorong agar pemerintah juga dapat membenahi fasilitas kesehatan sehingga dapat mengurangi risiko tenaga medis terpapar dari COVID-19.

"Kebutuhan APD perlu diperhatikan, dan diharapkan tidak terbatas, selain itu makanan tambahan dan gizi tambahan kepada tenaga kesehatan," tutur dia.

Sutrisno menambahkan, perlu screening berkala kepada tenaga kesehatan untuk deteksi COVID-19. Demikian juga insentif kepada tenaga medis juga dicairkan sesuai jadwal. Hal ini seiring tenaga medis sudah berbulan-bulan hadapi kasus COVID-19.

"Perhatikan kesejahteraan para tenaga medis, jam kerja juga lebih pendek, dan sistem rumah sakit harus diperbaiki," kata dia.

Sutrisno menuturkan, sistem rumah sakit yang perlu diperbaiki itu dengan memisahkan pasien COVID-19 dan non COVID-19. Hal ini mengingat potensi penularan COVID-19 yang tinggi. Dengan demikian melindungi pasien, tenaga kesehatan dan petugas di rumah sakit.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini