Sukses

Kemenperin Optimistis Industri Alas Kaki Sidoarjo Mampu Bersaing Global

Liputan6.com, Surabaya - Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) Kementerian Perindustrian yang bertempat di kawasan Komplek Pasar Wisata, Desa Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur meluncurkan Indonesia Footwear Network (IFN) atau jaringan industri alas kaki Indonesia, Selasa 4 Agustus 2020.

"Keberadaan IFN ini dirasa mampu membangkitkan kembali geliat ekonomi, sekaligus merespons perubahan tatanan industri alas kaki di tengah pandemi COVID-19 ini," ujar Kepala BPIPI, Heru Budi Susanto, ditulis Rabu (5/8/2020).

IFN merupakan platform komunikasi baru bagi industri yang memberikan informasi relevan bagi potensial market domestik maupun global.

Nantinya, lanjut Heru, IFN akan didorong melengkapi dan mengumpulkan informasi industri yang selama ini ada di masing-masing komunitas.

"Kinerja nasional ekspor industri alas kaki pada 2020 ini naik 15 persen di triwulan pertama, jika dibandingkan tahun lalu. Apalagi, sebagai negara eksportir ke tiga terbesar dunia selama 2019 dan produksi terbesar ke empat dunia pada tahun yang sama," ujar dia

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

2 dari 2 halaman

Ekspor Didominasi Produk dan Merek Ternama

Angka tersebut menunjukkan industri alas kaki masih mampu bergeliat di tengah pandemi COVID-19. Ekspor banyak didominasi oleh produk-produk dan merek ternama. Hanya saja secara global produksi alas kaki nasional turun pada masa pandemi COVID-19.

"Kurang lebih 70 persen. Hal itu disebabkan daya beli yang melemah dan keterbatasan bahan baku. Sehingga kesulitan mengelola cashflow yang berakibat pada merumahkan sebagian karyawan dan penutupan usaha," terangnya.

Kondisi seperti ini, lanjutnya bukanlah krisis pertama bagi industri. Krisis ekonomi pernah terjadi pada 1998. Namun, IKM yang justru menjadi penyelamat ekonomi indonesia.

"Bagaimanapun kondisi saat ini, harus kita hadapi bersama sehingga melahirkan peluang untuk terus bertahan dengan strategi yang dimiliki," ujar dia.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.