Sukses

Ragam Tren hingga Aktivitas Baru Selama Pandemi COVID-19, Apa Saja?

Liputan6.com, Jakarta - Beradaptasi atau musnah. Kalimat yang didengungkan dalam buku The Industries of The Future karya Alec Ross ini terlihat sederhana. Namun, di tengah pandemi COVID-19, hal itu menjadi langkah yang paling tepat untuk dipilih: adaptasi.

Pandemi COVID-19 menjadi pemicu atas perubahan baru yang terjadi atau adaptasi kebiasaan baru untuk cegah penyebaran COVID-19. 

Adaptasi kebiasaan baru ini terkait dengan protokol kesehatan yang dilakukan. Protokol kesehatan mulai dari pemakaian masker, mencuci tangan, hingga menjaga jarak merupakan kebiasaan yang seolah memaksa kita untuk taat.

Virus corona baru atau SARS-CoV-2 yang sebabkan COVID-19 adalah bencana dunia nonalam yang melanda semua negara. 

Para ilmuwan dari penjuru dunia berupaya dengan keras menemukan penawarnya. Namun, hingga kini obat yang dinanti tak kunjung tiba. Ikhtiyar terbaik adalah beradaptasi dengan kebiasaan baru.

Jauhi kebiasaan buruk bagi kesehatan, mematuhi protokol kesehatan, dan menjaga imunitas masih menjadi pilihan utama yang disepakati sebagai penawar terbaik saat ini.

Berikut rangkuman kebiasaan baru warga yang muncul saat pandemi  COVID-19. Apa saja kebiasaan dan tren baru itu, simak ulasannya di bawah ini.

 

2 dari 8 halaman

Wisuda Drive Thru

Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) menggelar prosesi wisuda untuk ratusan mahasiswa strata satu S1 dan strata dua S2 secara drive thru di halaman kampus setempat, Sabtu, 8 Agustus 2020. Hal ini sebagai bagian penerapan protokol kesehatan pencegahan COVID-19.

"Ada 403 wisudawan yang mengikuti wisuda secara drive thru ini. Seharusnya ada 444 wisudawan, namun 41 wisudawan sedang berada di luar kota dan tidak memungkinkan kembali ke Surabaya dalam situasi saat ini," ujar Wakil Rektor I Bidang Akademik UWKS Ir. Soepriyono, MT di sela wisuda, seperti dikutip dari Antara.

Soepriyono menuturkan, pada prosesi wisuda drive thru ini, para wisudawan yang memakai baju toga dapat membawa kendaraannya yang telah diberi nomor untuk masuk halaman kampus secara langsung. Setelah itu, wisudawan turun untuk diberikan piagam.

"Setelah menerima piagam dari rektor, wisudawan kembali ke kendaraannya dan keluar dari halaman kampus. Jadi, meminimalisasi adanya kerumunan," tutur dia.

Soepriyono menuturkan pelaksanaan wisuda semester ganjil ini seharusnya digelar pada April 2020, tetapi saat itu kondisinya belum memungkinkan untuk menggelar wisuda.

"Harusnya digelar tanggal 14 April, namun karena pandemi sehingga wisuda diadakan bersama Dies Natalis UWKS pada 18 Juni. Tapi, lagi-lagi saat itu kondisinya belum memungkinkan," tutur dia.

 

3 dari 8 halaman

Wisuda Daring

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menggelar wisuda ke-121 secara luring dan daring pada Minggu, 2 Agustus 2020.

Saat wisuda secara hybrid itu, ITS menghadirkan sebuah prosesi wisuda virtual kali pertama yang dirancang dengan menggunakan Minecraft, sebuah jenis permainan virtual merancang balok-balok.

Salah satu dosen Departemen Teknik Informatika ITS yang mengembangkannya yaitu Hadziq Fabroyir. Hadziq menuturkan, jika membuat bangunan gedung Graha Sepuluh Nopember ITS secara virtual itu menggunakan Minecraft Education Edition yang telah dilanggan oleh ITS.

Dengan memakai itu, ia bersama dengan 14 orang lainnya yang menyukai permainan ini berinisiatif membuat bangunan virtual khusus untuk memeriahkan wisuda yang seharusnya digelar secara luring pada Maret 2020.

Tim sempat kurang referensi terkait bentuk gedung karena memang tidak ada yang ingat bagaimana bentuknya secara detil dan tidak mungkin survei ke lokasi pada masa pandemi ini.

"Akhirnya kami merangkai konstruksi graha di Minecraft berdasarkan gambar-gambar yang kami kumpulkan dari internet," ujar dia, seperti dikutip dari laman ITS, ditulis Senin (3/8/2020).

Saat operasi juga dilakukan secara langsung ketika wisuda ke-121 dilaksanakan. Komunikasi antarpemain yang bergabung di proses Wisuda Minecraft ITS dilakukan melalui Discord. Zoom hanya menerima video feed dari OBS virtual camera yang ditransmisikan dari server Minecraft ITS.

 

4 dari 8 halaman

Tren Bersepada Meningkat

Empat pria alumni Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (Stikosa) Almamater Wartawan Surabaya (AWS), Masrul Fajerin alias Cimenk, Kesar Utomo alias Glewo, Norman alias Cirenk dan Willy Irawan alias Bonyet, mulai menggeluti hobi bersepeda musiman di tengah pandemi Covid-19.

Keempat pria warga Surabaya Raya ini mempunyai alasan yang berbeda-beda tentang hobi barunya tersebut, mulai dari berganti olahraga hingga wadat alias jomblo dan berharap menemukan jodohnya saat bersepeda musiman.

Menurut Cimenk, bersepeda di tengah pandemi Covid-19 ini selain menjaga kondisi tubuh supaya tidak semakin melebar karena pemberlakuan Work From Home (WFH), bersepeda juga sudah menjadi gaya hidup.

"Saya dulu lebih sering futsal, terus pandemi banyak yang tutup akhirnya saya melihat banyak orang yang bersepeda tiap malam makin banyak akhirnya saya coba sepedaan malam hari dan beda ketika pandemi surabaya sepi udara lebih segar dan mungkin ini trend baru juga," ucapnya di Surabaya, Minggu, 28 Juni 2020.

Sementara, Glewo mengaku gemar bersepeda untuk mencari keringat dan menjaga kondisi tubuh. Sebab, selama pandemi ini lebih banyak bekerja di rumah tanpa bergerak, sehingga akhirnya ia berinisiatif untuk bersepeda.

"Ya biar berkeringat dan badan bergerak karena ini kan pandemi kita tetap jaga kesehatan dan kondisi, plus supaya tidak semakin melebar badan karena terlalu lama work from home," ucapnya.

Sedangkan Cirenk dan Bonyet mengaku bersepeda musiman karena masih jomblo. "Ya barangkali bisa nemu jodoh aja saat bersepeda," ucap mereka berdua sambil tertawa.

Keempat senior Stikosa AWS ini biasanya janjian bersepeda musiman bertemu di depan pos polisi Taman Bungkul Surabaya dan selanjutnya bersepeda berkeliling kota dengan rute Raya Darmo, Gubernur Suryo, Bambu Runcing dan kembali ke Taman Bungkul.

 

5 dari 8 halaman

Permintaan Sayur Organik Meningkat

Pandemi COVID-19 telah berdampak terhadap seluruh sektor usaha. Ada usaha yang bertahan, tetapi ada juga yang terpukul. Meski demikian, di tengah pandemi COVID-19, permintaan produk organik dan hidroponik meningkat.

Salah satunya dirasakan oleh Maya Stolastika, pemilik twelve’s organics, komunitas yang menyediakan sayur dan buah-buahan organik.

Maya menilai, konsumen saat ini perhatian dengan kesehatan dan menjaga imunitas tubuhnya sehingga membeli makanan organik dan produk sehat. Jumlah konsumen pun naik dua kali lipat.

Ia menuturkan, biasa ada tiga konsumen baru, saat pandemi COVID-19 bisa ada 10 konsumen baru. Saat ini, konsumen yang dilayani Maya sebagian besar konsumen rumah tangga mencapai 175. Konsumen itu berasal dari Malang, Mojokerto, Surabaya, dan Gresik, Jawa Timur.

"Banjir konsumen dan permintaan. Ada kenaikan permintaan 200-250 persen," ujar dia, saat dihubungi Liputan6.com, ditulis Jumat, 3 Juli 2020.

Maya menceritakan, jika pada tahun sebelumnya pada kuartal pertama cenderung turun pendapatan dan juga dipengaruhi masa tanam. Saat pandemi COVID-19 justru naik untuk permintaan seperti labu, pakis, rimpang-rimpang diburu masyarakat.

"Rimpang-rimpang seperti jahe, kunyit, temulawak, lengkuas, laos, dan lemon," ujar Maya.

6 dari 8 halaman

Menyediakan WIFI Gratis demi Bantu Siswa Belajar

Pandemi virus corona COVID-19 mengharuskan siswa-siswi untuk belajar di rumah demi menjaga agar tidak berkontak fisik dengan temannya di sekolah.

Belajar di rumah menghadirkan masalah baru, yaitu mengharuskan orang tua murid memiliki perangkat belajar secara daring. Sekurangnya, perangkat yang harus dimiliki adalah koneksi internet dan telepon genggam. Kenyataannya, tidak semua murid memiliki perangkat itu.

Menyikapi hal itu, Rudi Prasetyo mempunyai ide untuk menggratiskan akses internet dan meminjamkan telepon pintar di warung kopi miliknya.  Rudi adalah pemilik sebuah warung kopi kecil-kecilan di Sumobito, Jombang, Jawa Timur.

“Saya sekadar membantu anak-anak yang mungkin kesulitan tidak punya hape dan akses internet. Jadi, saya hanya membantu anak-anak belajar,” kata Rudi.

Rahmat dan Melisa adlaah siswa kurang mampu yang menumpang belajar daring dari Wakop ini. Tak hanya pinjamkan telepon dan Wifi, pemilik Warkop ini juga sediakan minuman dan makanan ringan.

Setiap harinya, setidaknya ada lima siswa kurang mampu yang menumpang belajar daring di Warkop ini.

"Supaya anak-anak bisa belajar terus, tidak ktinggalan pelajaran, dan bisa mencapai cita-citanya," kata Rudi.

7 dari 8 halaman

Meningkatnya Pesanan Sayuran Hidroponik

Tak hanya produk organik, tanaman sayuran hidroponik seperti Selada Mini Romaine juga diminati warga. Seorang warga Batu, Pandu Ari Wibowo memanfaatkan sistem hidroponik untuk usaha selada hidroponik.

Sistem hidroponik memanfaatkan media paralon dengan sirkulasi air yang terus diputar, membuat media tanah sama sekali tidak diperlukan.

Pandu mengaku dalam waktu 30 hari, tanaman selada sudah bisa dipanen yang berarti lebih cepat 15 hari dibanding bila ditanam langsung di tanah.

"Sampai sekarang orderan sayur masih terus meningkat, karena orang-orang sudah pada sadar akan kesehatan, dan sayuran hidroponik ini merupakan sayuran yang sehat, karena bebas dari semprotan bahan kimia dan kita hanya menggunakan media air pun sayur bisa tumbuh dengan baik," kata Pandu, seperti dikutip dari Fokus.

8 dari 8 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini