Sukses

Menelusuri Lima Makam Bersejarah di Surabaya (II)

Liputan6.com, Jakarta - Menelusuri sejarah di Surabaya tidak ada habisnya. Banyak tempat yang menyimpan bangunan berejarah, cerita, hingga makam yang hingga kini masih bisa kunjungi.

Surabaya berada di tempat yang strategis, baik sebagai tempat perdagangan maupun tempat bergolaknya peristiwa-peristiwa penting dalam politik dan budaya.

Sejak sebelum era kemerdekaan, Surabaya yang berjuluk Kota Pahlawan merupakan titik sentral dakwah Sunan Ampel. Peninggalan sejarah itu pun masih tersimpan.

Di pusaranya yang berada di kawasan Masjid Sunan Ampel, Jalan Petukangan I, Ampel, Kecamatan Semampir, Kota Surabaya itu, selalu ramai dikunjungi, sebagai destinasi wisata, baik yang ingin menilik sejarah atau sekadar mengalap berkah darinya.

Sunan Ampel adalah tokoh penyebar agama Islam di kawasan Surabaya dan sekitarnya. Dialah tokoh Walisongo yang punya peran cukup besar dalam penyebaran dakwah ke penjuru tempat di Jawa.

"Sunan Ampel yang makamnya terletak di kampung Ampel, kota Surabaya adalah anggota dewan Wali Songo tertua yang memiliki peranan besar dalam pengembangan dakwah Islam di Jawa dan tempat lain di Nusantara,” tulis Agus Sunyoto dalam Atlas Walisongo.

Tak berhenti di Sunan Ampel, Surabaya juga menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi para tokoh besar masa lalu. Mulai dari Makam Eyang Judho yang merupakan perwira perang Majapahit hingga Ki Ageng Pengging yang merupakan murid Sunan Kalijogo.

Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kisah dalam sejarah hidup mereka. Untuk lebih dekat para tokoh tersebut, Instagram resmi dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya @surabayasparkling mengunggah tokoh-tokoh tersebut dalam unggahannya.

Sebagian tempat telah dipugar dan menjadi cagar budaya Surabaya. Berikut deretan makam tokoh penyebar agama Islam dan tokoh masa lalu di Kota Surabaya yang bisa dikunjungi:

 

2 dari 4 halaman

1. Makam As-Sayyid Ali Asghar

Makam As-Sayid atau akrab disapa Mbah Dresmo ini berada di Sidosermo III No 32c, Kecamatan Wonocolo, Kota Surabaya. As-Sayyid Ali Asghar adalah seorang penyair agama Islam di daerah Sidosermo dan menjadi cikal bakal Sidosermo. Dresmo sendiri berarti “rajin”.

2. Makam Pesarehan Agung Syekh Abu Hurairoh

Makam Syakh Abu Hurairoh berada di Kampung Seng 16 RT 3RW 4, Simokerto, Kota Surabaya. Syekh Abu Hurairoh merupakan orang Tionghoa dan berasal dari Champa. Beliau masih keluarga dengan Sunan Ampel.

3. Makam Eyang Judho Kardono

Makam Eyang Judho berada di Jalan Cempaka, Nmor 25, Tegalsari, Kecamatan Tegalsari, Kota Surabaya. Judho Kardono adalah perwira perang Kerajaan Majapahit terakhir di aman Raja Jayanegara yang mendapat hadiah tanah di sungai asin (kini daerah Kaliasin) dan Kawasan bernama Tegal Babatsari menjadi Tegalsari.

 

3 dari 4 halaman

4. Makam Ki Ageng Pengging

Makam Ki Ageng Pengging terletak di Ngegel nomor 89, RT 01, RW 03, Kecamatan Wonokromo, Surabaya. Ki Ageng Pengging bernama asli Kebo Kenanga.

Beliau diberi tugas oleh Syekh Siti Jenar sebelum Mukso. Tugasnya membabat alas Surabaya. Nama Suroboyo sendiri diambil dari nama dua pengikut setianya yang bernama Ki Boyo dan Ki Suro Kuning.

5. Makam Sentono Boto Putih

Makam Sentono Boto Putih berada di Jalan Pegirian Nomor 176, Simolawang, Kecamatan Simokerto, Kota Surabaya. Di sini terdapat makam Ki Ageng Brondong yang merupakan tokoh penyebar agama Islam pada abad ke-15. Beliau bergelar Pangeran dari Kerajaan Blambangan yang merupakan putra dari Pangeran Kedawung.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini