Sukses

Mengenal Mustaqim, Pesepak Bola Legendaris dari Surabaya

Liputan6.com, Jakarta - Pada September 1948, berlangsung pergolakan olahraga bertaraf nasional yang diikuti oleh 600 atlet dari seluruh Indonesia dari tingkat Kota dan Karesidenan. Pada pentas olahraga terbesar di Indonesia itu akan memperebutkan 108 medali.

Pentas olahraga itu berlansung selama empat hari, dimulai dari 9 hingga 12 September di Surakarta. Pentas tersebut bernama Pekan Olahraga Nasional (PON). Pada 9 September itu kemudian diperingati sebagai Hari Olahraga Nasional.

Penetapan Hari Olahraga Nasional itu baru diputuskan 37 tahun setelah PON I berlangsung. Tepatnya pada 1985 melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 67 tentang Hari Olahraga Nasional.

Untuk memperingati Pekan Olaraga Nasional pada 2020 ini, Liputan6.com mengangkat sosok olahragawan legendaris asal Surabaya yang juga pernah menjadi penyerang Persebaya Surabaya di periode 1985-1988. Sosok itu adalah Mustaqim.

Mustaqim adalah idola warga Surabaya. Performa hebatnya bersama Syamsul Arifin bak mesin gol yang sangat ditakuti lawan. Demikian mengutip dari Bola.com, Rabu (9/9/2020).

Jika keduanya ada di kotak penalti, kans sekecil apapun bisa dikonversi menjadi gol. Mustaqim tidak hanya tajam saat mengeksekusi peluang, tetapi juga aksi individunya kerap membuat pemain belakang kerepotan menjaganya, dikutip dari Bola.com.

Jasa Mustaqim untuk sederet prestasi Persebaya tak dapat dielakkan. Salah satu gelar juara paling fenomenal adalah Perserikatan 1987-1988. Selain itu ada juga trofi Piala Tugu Muda, Piala Persija, dan Piala Hamengkubuwono.

 

2 dari 4 halaman

Hijrah ke Gresik

Tak puas dengan prestasinya di Persebaya, dirinya hijrah ke Petrokimia Gresik pada musim 1989 hingga 1990, namun di klub berjuluk kebo giras itu tak berjalan lama, yaitu hanya bertahan satu tahun saja.

Mustaqim lalu pulang kampung ke Surabaya dan memilih memperkuat Assyabaab mulai 1990-1991. Di tim itu Mustaqim menahbiskan dirinya sebagai pencetak gol terbanyak Divisi I. 

Tak puas hanya meraih gelar individu, Mustaqim hengkang ke Mitra Surabaya yang diperkuatnya selama empat tahun hingga 1994. Selama empat tahun bertahan di satu klub membuat Mustaqim ingin mendapatkan tantangan baru.

Itulah mengapa ia kembali bergabung dengan Assyabaab yang kali ini menggandeng Salim Group Surabaya, sehingga namanya menjadi Assyabab Salim Group Surabaya atau ASGS. Dua tahun bersama ASGS, Mustaqim pensiun dan banting setir menjadi pelatih.

Selama berkarier sebagai pemain, panggilan dari pelatih Timnas Indonesia kerap didapat. Prestasi terbaiknya ketika bersama Tim Garuda meraih medali perunggu SEA Games 1989 Kuala Lumpur.

 

3 dari 4 halaman

Menjadi Pelatih

Di sisi lain, profesi pelatih ternyata tidak mengkilap seperti saat jadi pemain. Ia mengawali karier sebagai asisten pelatih di Persebaya pada 1997-1999.

Kemudian menjadi asisten pelatih PON Jatim 2000. Jabatan pelatih kepala baru didapat ketika menangani Persela Lamongan pada 2000-2001 di kompetisi Divisi Dua.

Setelah itu berturut-turut pada 2004 menjadi pelatih Timnas Indonesia U-12, Persela (2005), Gresik United (2006), Mitra Kukar (2007), PKT Bontang (2008-2009), Mitra Kukar (2010-2011), Deltras Sidoarjo (2011-2012), dan PS Sumbawa Barat (2013).

Prestasi Mustaqim sebagai pelatih hanya juara Divisi dua bersama Persela Lamongan, mempromosikan Mitra Kukar ke Divisi Utama 2007, dan medali emas buat skuat PON Jatim 2000, dan PON Jatim di Palembang pada 2004.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini