Sukses

4 Hal Menarik Makam Peneleh, Permakaman Modern Tertua di Surabaya

Liputan6.com, Jakarta - Mendengar kata makam dan kuburan bisa jadi hal yang menyeramkan dan berbau mistis. Selain itu juga bisa membuat banyak orang merasa takut.

Meski demikian, area pemakaman juga bisa menjadi saksi bisu perkembangan sebuah kota. Bahkan dari pemakaman tersebut juga bisa dipelajari mulai dari sosial dan budaya. Tak hanya itu, siapa tahu makam yang ada di area pemakaman menyimpan cerita.

Di Surabaya, Jawa Timur terdapat area pemakaman tertua. Salah satunya Makam Belanda Peneleh. Makam ini disebut juga De Begraafplaats Soerabaia. Makam ini merupakan komplek pemakaman era kolonial Belanda.

Nama Peneleh muncul pada zaman Kerajaan Singosari. Peneleh merupakan tempat persemayam pangeran pilihan atau "pinilih” Putra Wisnu Wardhana, yang berpangkat setara dengan bupati. Wisnu Wardhana kemudian diangakat menjadi pemimpin di daerah antara Sungai Pengirian dan Kalimas.

Ingin tahu hal menarik lainnya dari makam Peneleh Surabaya ini? Yuk, simak ulasannya pada Jumat, (25/9/2020):

2 dari 6 halaman

Pemakaman Modern Tertua di Surabaya

Sejarawan Universitas Airlangga, Adrian Perkasa menuturkan, komplek makam peneleh merupakan kompleks pemakaman modern pertama. Arti modern ini bagi orang-orang Eropa biasanya dimakamkan di kompleks gereja dan tempat ibadah mereka. Pemerintah kolonial membangun suatu kompleks yang khusus untuk pemakaman umum di luar gereja dan rumah ibadah.

"(Makam peneleh,red) sejak Desember 1847,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com lewat pesan singkat.

3 dari 6 halaman

Sejumlah Tokoh Penting pada Masanya yang Dimakamkan di Makam Peneleh

Adrian menuturkan, makam ini khusus untuk Orang Belanda dan Bangsa Eropa. Bangsa Asia hanya beberapa termasuk Jepang. Perbedaan tersebut dilihat dari bentuk nisan di makam tersebut.

Adapun Adrian menyebutkan sejumlah tokoh yang dimakamkan di Makam Peneleh antara lain Gubernur Jenderal Pieter Merkus. Pieter Markus merupakan Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat periode tanam paksa, lalu ada Van Der Tuuk, seorang ahli bahasa terkemuka yang juga penyusun kamus.

“Ada kompleks makam biarawati Katolik dari Ordo Ursulin,” ujar dia.

Selanjutnya ada Pierre Jan Baptiste Perez, Wakil Ketua Raad van Indie. Adrian menuturkan, Raad van Indie semacam dewan pertimbangan gubernur jenderal.

"Ada Pietermaat, Residen Surabaya. Johannes Emde, penginjil terkenal di Jawa, Onnes Kirkdjian, fotografer terkenal yang pernah potret Ratu Wilhelmina,” kata dia.

4 dari 6 halaman

Banyak Jenazah Sudah di Bawa ke Belanda

“Untuk jenazahnya sendiri, banyak yang sudah diambil keluarganya. Biasanya dikremasi lalu abu jenazahnya dibawa ke Belanda,” ujar dia.

5 dari 6 halaman

Hal Dipelajari dari Makam Peneleh

Adrian  menuturkan, salah satu yang bisa dipelajari dari Makam Peneleh dari sisi budaya bagaimana masing-masing makam punya gaya seni tersendiri. Selain itu juga mengenai masalah segregasi sosial atau diskriminasi yang tinggi di masa kolonial.

6 dari 6 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini