Sukses

Cara Perajin Batik Bertahan di Tengah Pandemi COVID-19

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah menetapkan 2 Oktober 2020 sebagai Hari Batik Nasional. Penetapan Hari Batik Nasional ini setelah UNESCO mengakui batik sebagai karya warisan budaya manusia dan lisan pada 2009.

Mengutip berbagai sumber, keputusan UNESCO itu juga didorong batik Indonesia berkaitan dengan banyak simbol yang bertautan dengan status sosial, kebudayaan lokal, alam dan sejarah itu sendiri. Hari Batik Nasional ditetapkan saat itu pada masa pemerintahan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Dengan penetapan Hari Batik Nasional itu juga sebagai usaha pemerintah meningkatkan kecintaan dan kebanggaan masyarakat Indonesia terhadap kebudayaannya.

Sementara itu, saat ini pengusaha dan pembatik tengah berjuang di tengah pandemi COVID-19. Pandemi yang terjadi memukul usaha batik termasuk bergerak di usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Syarif Usman, pemilik dari generasi kedua Rumah Batik menuturkan, kondisi penjualan batik saat pandemi COVID-19 turun drastis. Hal itu membuat pembatik memutar otak sehingga tetap mendapatkan penghasilan.

"Bisa dikatakan penurunan hingga 80 persen dari normal. Hal ini menyebabkan produksi terhenti hanya berjalan merambat," kata dia saat dihubungi Liputan6.com, ditulis Jumat (2/10/2020).

Ia menuturkan, usaha batik terdampak pandemi seiring konsumen terbesar seperti pejabat pemerintah sudah membatasi aktivitas sehingga memakai batik juga jarang. Selain itu, kunjungan turis domestik dan internasional juga turut pengaruhi usaha batik.

"Turis dosmetik dan internasional hampir tidak ada," kata dia.

Syarif mengatakan, pengusaha batik pun berupaya bertahan dengan menjual masker kain batik, paket batik dan ada yang beralih usaha lain.

"Kalau pakaian batik di rumah sudah didominasi daster batik cap dan printing dari Pekalongan. Kalau inovasinya masih menjual paket batik untuk dijadikan batik sendiri," ujar Syarif.

2 dari 3 halaman

Bawa Hikmah

Meski demikian pandemi yang terjadi menurut Syarif membawa hikmah. Ada pandemi COVID-19 membantu menghadapi tantangan yang lain yaitu memberikan produk pengetahuan tentang batik kepada masyarakat luas.

"Sekarang banyak bertumbuhan masyarakat yang mau mencoba membatik sendiri. Yang akhirnya mereka lebih paham tentang batik, ini tantangan kami juga agar pengguna batik lebih paham tentang batik," tutur dia.

Sebelumnya Syarif menuturkan, generasi muda lebih berminat batik modern yang pembuatan dan biaya sedikit tetapi menarik wajah baru di perbatikan. Saat ini teknik batik juga berkembang.

"Kalau dulu pewarnaan hanya ada dua cara yaitu teknik colet atau kuas dan teknik celup, kalau sekarang berkembang berbagai cara yang saya tahu ada teknik sembur, teknik ciprat, teknik lipat, teknik ikat, dan teknik lainnya," ujar dia.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini