Sukses

Hari Santri Nasional, Kisah Perjuangan Pondok Blokagung Banyuwangi Lawan COVID-19

Liputan6.com, Jakarta - Hari ini, 75 tahun lalu, KH Hasyim Asy’ari bersama sejumlah ulama lain di Surabaya mendeklarasikan Resolusi Jihad. Isinya, membela Tanah Air adalah wajib hukumnya, dan muslim yang berada dalam radius 94 kilometer dari pusat pertempuran wajib ikut berperang melawan musuh.

Semangat merebut kemerdekaan itu kini masih membekas di benak bangsa Indonesia. Terlebih bagi kaum santri yang merupakan salah satu elemen masyarakat yang bergerak di garis depan dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Peristiwa bersejarah tersebut kini diperingati sebagai Hari Santri Nasional, yang diperingati setiap tahun pada 22 Oktober. Sesuai ketetapan Presiden Joko Widodo pada tanggal yang sama pada 2015 di Masjid Istiqlal, Jakarta.

Tahun berlalu, kini Indonesia juga tengah berjuang melawan musuh tak kasat mata, yaitu pandemi virus corona baru (Sars-CoV-2) yang menyebabkan COVID-19. Pesantren, sebagai tempat santri mengenyam pendidikan pun tak luput dari virus berbahaya ini. Pada Hari Santri Nasional 2020 ini mengambil tema Santri Sehat, Indonesia Kuat.

Salah satu yang cukup menyita perhatian publik adalah kasus yang terjadi di Pondok Pesantren Darussalam, Blokagung, Banyuwangi. Ratusan santrinya terpapar COVID-19. Kondisi belajar pun tak lagi sama, begitu pula kegiatan pondok.

Walaupun kondisi berat, semangat menuntut ilmu para santri tetap terjaga meski harus memperketat disiplin protokol kesehatan demi menjaga keselamatan santri.

Salah satu pengurus Pondok Blokagung yang juga bagian dari petugas penanganan COVID-19 pondok, Mokhtar Nabil mengatakan masa sulit itu berangsur pulih.

"Pada kasus pertama terjadi di pondok ini setalah ada santri yang mengeluh sakit. Setelah dirujuk ke rumah sakit dan di-swab, ternyata hasilnya positif,” kata Gus Nabil, sapaan akrabnya, saat dihubungi Liputan6.com, ditulis Kamis, (22/10/2020).

Penyebaran kasus COVID-19 di Pondok Blokagung pun makin banyak. Bantuan dari pemerintah kabupaten Banyuwangi pun datang. Hingga akhirnya diputuskan untuk menutup akses pesantren.

"Mulai 2 kilometer ke arah pesantren sudah ditutup,” ujar dia.

Selama akses pesantren ditutup, banyak bantuan yang datang dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dan pihak lain yang terkait. Mulai dari penyediaan makanan sehat, suplemen, hingga obat-obatan tradisional.

"Makan tiga kali sehari untuk 6 ribu santri selama lockdown,” kata Gus Nabil.

Setelah 14 hari menjalani masa karantina, semua santri dinyatakan bebas COVID-19 oleh Kemenkes dan Satgas COVID-19 Banyuwangi. Pihak pesantren pun mengadakan acara syukuran bertajuk “Wisuda Penyintas COVID-19” pada 13 September 2020.

“Ada 30 perwakilan dari penyintas COVID-19 lelaki dan 30 perempuan. Mereka disambut dengan bahagia,” kenang Gus Nabil.

Gus Nabil melanjutkan, semua santri yang pernah terkena COVID-19 itu umumnya tidak punya gejala yang serius seperti gangguan pernafasan. “Alhamdulillah semua sembuh dan tidak ada korban jiwa,” ucapnya.

 

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

2 dari 4 halaman

Melawan Stigma Negatif

Wisuda Penyintas COVID-19 bertujuan untuk membangun pemahaman COVID-19 bisa disembuhkan dan penyintasnya bukan aib yang harus dijauhi.

"Terjadi stigma negatif dari warga untuk santri dan warga Dusun Blokagung,” kata Gus Nabil.

Saat masa karantina, lanjut Gus Nabil, ada orang yang diusir dari minimarket karena berpakaian santri, memakai sarung dan songkok. Mereka menganggap santri Blokagung bisa menularkan COVID-19.

"Kejadian lain menimpa warga sini, waktu itu ada yang berwisata di salah satu tempat. Setelah mengatakan daerah asalnya orang-orang langsung menjauhinya," ujar dia.

Bahkan, kata Gus Nabil, ada seorang wali santri yang tinggal di Banyuwangi di-PHK dari pekerjaannya karena diketahui anaknya belajar di Pesantren Blokagung.

"Saya berharap di peringatan hari santri ini masyarakat semakin dewasa menyikapi kondisi pandemi saat ini. Karena santri juga warga negara yang punya hak yang sama dengan warga lain," pesan Gus Nabil.

Apalagi, lanjutnya, kaum santri punya sejarah panjang dalam merebut kemerdekaan Republik Indonesia, dan merupakan elemen penting masyarakat yang punya andil besar terhadap pemebentukan karakter bangsa ini. 

3 dari 4 halaman

Wirid dari Pendiri Pondok

Pesantren Blokagung telah menerapkan protokol kesehatan sejak pertama kali virus Sars-CoV-2 diumumkan telah masuk ke Indonesia. 

Pembelajaran secara daring pun dilakukan meski semua santri berada di dalam asrama pondok. Namun, kegiatan diniyah atau kegiatan mengkaji ilmu-ilmu agama dilakukan secara tatap muka di asrama masing-masing dengan menjaga jarak.

Bahkan, asrama tempat tinggal santri pun dibatasi sehingga pihak pesantren pun menggunakan fasilitas belajar menjadi ruang asrama. “Ini sesuai arahan dari Dinkes untuk membatasi jumlah penghuni asrama,” kata Gus Nabil.

Tak hanya upaya secara fisik, ada juga dimensi spiritual yang terus dikerjakan oleh para santri, yaitu membacakan wirid khusus yang bersumber dari pendiri pondok, yaitu KH Mokhtar Syafaat.

"Setiap penyakit ada dimensi rohani dan dimensi jasmani, setiap bakda salat kami membaca wirid tersebut,” katanya.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini