Sukses

VIDEO: Air Telaga Sarangan Surut, Lahan Pertanian Terancam Kekeringan

Liputan6.com, Jakarta - Kekeringan di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, terus meluas. Kali ini melanda petani di wilayah Plaosan, karena debit air di telaga pasir atau lebih dikenal dengan Telaga Sarangan, kondisinya surut.

Kondisi serupa juga melanda Waduk Gonggang, hingga mengakibatkan ratusan hektar lahan pertanian di Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan, dan sekitarnya mati, karena tidak ada air.

Beginilah kondisi air di telaga pasir, atau Telaga Sarangan, di Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan. Sejak 4 bulan lalu, debit air di telaga yang terletak di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan air laut, tepatnya di lereng Gunung Lawu terus menyusut. Bahkan sebagian dasar telaga seluas 30 hektar ini, sudah mulai kelihatan.

Air di Telaga Sarangan tinggal 7,8 meter kubik, sehingga tidak bisa digunakan untuk pengairan irigasi, dan memenuhi kebutuhan air bersih warga sekitar yang biasanya menggantungkan dari telaga.

Karena jika air di dalam telaga sampai surut, akan mengalami kerusakan pada dasar waduk. Bahkan penyewa jasa perahu wisata, saat ini juga mulai merasakan dampaknya akibat perahu terancam tak bisa dijalankan.

"Sudah 4 bulan hampir 5 bulan, orang bawah butuh air untuk irigasi ke sawah, sebagian besar kasihan orang bawah, nanti kalau ndak dialiri, ndak panen," kata Hari Agus Afandi, Pengelola Jasa Perahu.

Kondisi serupa juga melanda Waduk Gonggang. Air di waduk ini, juga mengalami kekeringan. Akibatnya, ratusan hektar lahan pertanian di Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan, dan sekitarnya mati, karena tidak dialiri air.

"Waduk telaga pasir, posisi sekarang sudah elevasi 7,8 artinya kurang 0,8 cadangan yang kita gunakan, harapan kita mungkin musim tanam tinggal 2 hingga 3 minggu, jadi yang polowijo mungkin sudah terselamatkan,” jelas Yudi Iswahyudi, Kabid SDA – Dinas PUPR Magetan.

Hingga saat ini, terdapat 15 dari 22 embung dan waduk di wilayah Kabupaten Magetan yang kondisinya kering. Termasuk Waduk Gonggang dan Telaga Pasir, Sarangan yang debit airnya sudah kritis. Demikian diberitakan pada Liputan6, 21 Oktober 2020.