Sukses

Mahasiswa ITS Rancang Among Raga, Bangunan Karantina COVID-19 Ramah Lingkungan

Liputan6.com, Jakarta - Pandemi Corona COVID-19 yang terjadi secara global dan Indonesia masih membayangi. Bahkan penyebaran COVID-19 masih terjadi sehingga kasus harian positif COVID-19 masih bertambah.

Kenaikan kasus harian COVID-19 berdampak terhadap tingkat keterisian tempat tidur di beberapa daerah di rumah sakit di Jawa Timur bahkan tingkat keterisian tempat tidur sudah penuh seperti di Jember.

Bahkan, di beberapa daerah Rumah Sakit pun penuh dengan pasien COVID-19. Sehingga diperlukan bangunan yang khusus difungsikan untuk menangani COVID-19.

Dilansir dari laman its.ac.id, Rabu, (16/12/2020), mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggagas rancangan bangunan dengan konsep ideal untuk karantina selama pandemi berlangsung dan berkelanjutan yang bernama ‘Among Raga’.

Nama ‘Among Raga’ diambil dari bahasa Jawa yang memiliki arti merawat tubuh, sesuai dengan anjuran tenaga kesehatan dan pemerintah untuk melakukan karantina mandiri. Desain yang diterapkan pun merupakan cerminan dari kearifan lokal masyarakat Asia Tenggara yaitu gotong royong.

“Pandemi ini bisa dilalui dengan bekerja sama untuk menjaga sesama dengan menjaga diri, setiap orang itu bisa among raga,” ungkap Nathanael Christopher Sutopo, ketua tim.

Rancangan Among Raga dibuat oleh tim mahasiswa ITS yang terdiri dari Nathanael Christopher Sutopo, Ihza Hafiz Driatama, Adhiasa Putra Hadjar (Departemen Teknik Sipil), Muh Ammar Al Farrosi (Departemen Arsitektur), dan Tsaqova Muhammad Syahavista Ahtajida (Departemen Teknik Fisika).

 

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

2 dari 4 halaman

Punya Ragam Fasilitas

Sebagai bangunan dengan konsep karantina ideal, Among Raga menawarkan fasilitas yang memadai agar para penghuni dapat tetap produktif, dan menjaga diri selama masa pandemi ini.

Among Raga dirancang bertujuan untuk mematahkan stigma masyarakat terkait karantina yang selama ini digambarkan dengan terkurung,  membosankan, serta tidak bisa untuk produktif.

Bangunan dengan 42 lantai ini mengusung konsep open space dengan area terbuka hijau. Ia menjelaskan, selain berfungsi sebagai perawatan pasien Covid-19, bangunan ini juga akan mendukung kesejahteraan para penghuninya.

“Bangunan karantina didesain dengan sistem dan fasilitas yang memadai. Bukan hanya untuk mencegah penyebaran, tetapi juga untuk efek psikologis,” ujar dia.

Selain sebagai tempat hunian, dilengkapi juga dengan fasilitas Intensive Care Unit (ICU) untuk pasien reaktif atau bahkan positif COVID-19. 

Sistem ventilasi di unit ICU akan menerapkan ruangan dengan tekanan rendah, berfungsi untuk mengontrol arus udara sehingga virus tidak menyebar.

Desain pada muka bangunan juga menggunakan double skin layer yang berbentuk buah salak. Gunanya untuk memaksimalkan pemanfaatan sinar matahari dan sirkulasi alami angin. 

Pada layer terluar pun dipasang panel surya yang berfungsi sebagai sumber energi bangunan, pemecah angin serta memberikan keteduhan pada penghuni gedung.

Ketika hujan, panel surya akan berputar secara hidrolis sehingga dapat menangkap air hujan dan mengalirkannya ke ramp yang ada di bawahnya. "Sehingga dengan ini, dapat meningkatkan rainwater catchment dari gedung ini,” ungkapnya.

Sistem ramp pada rainwater catchment berfungsi menampung air dari solar panel kemudian mengalir masuk ke ramp yang dibangun pada bagian luar gedung. 

Air akan masuk ke lapisan rumput yang ada pada ramp, kemudian turun ke saluran penampungan air yang ada di bawah lapisan tersebut. Air hujan yang ditampung bersama dengan grey water akan disterilisasi dengan sinar UV, kemudian air digunakan untuk siraman pada flushing toilet dan irigasi tanaman.

3 dari 4 halaman

Jalur Jogging

Selain itu, sistem ramp juga bisa dimanfaatkan sebagai jalur jogging. Lebar dari ramp pun didesain untuk jalur jogging bagi para penghuni.

Ramp juga bisa difungsikan sebagai jalur penghuni untuk berpindah antar lantai untuk mengurangi penggunaan lift.

"Kami berharap penghuni gedung dapat tetap berolahraga secara normal di gedung kami. Dengan berada di luar, ramp memberikan kesan terbuka untuk kesehatan mental penghuni,” tuturnya.

Nathan juga menambahkan, bahwa material yang akan digunakan untuk bangunan ialah semen slag yaitu material hasil daur ulang limbah dari industri besi. 

Dengan desain dan perencanaan bangunannya, Nathan dan timnya berharap dapat menciptakan bangunan yang bisa berfungsi secara maksimal, dan juga memberikan dampak negatif yang minimum pada lingkungan. 

Bahkan, rancangan bangunan karantina Among Raga telah berhasil meraih juara 3 pada ajang berskala internasional 1st International Student Competition on Tall Building Design yang diadakan oleh Universiti Teknologi Petronas, Malaysia, mulai Oktober hingga November 2020.

 

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini