Sukses

VIDEO: Jaga Ekosistem, Prenjak dan Trucuk Dilepas ke Alam Liar

Liputan6.com, Jakarta Prihatin semakin langkanya predator pemakan ulat di alam liar, pengelola wisata De-Djawatan, Banyuwangi, Jawa Timur, melepas liarkan ratusan buruk pemakan ulat di kawasan Hutan Pohon Trembesi pada Rabu (17/2) siang. Di kawasan ini, pengunjung juga bisa merasakan sensasi layaknya sedang berada di dalam Hutan Fangorn pada film Lord Of The Rings. Dengan tiket Rp 15.000 per orangnya, pengunjung sudah bisa berkeliling di kawasan hutan seluas 12 hektar lebih ini. Berikut pemberitaannya pada Fokus, (19/2/2021).

Berada di wisata alam De-Djawatan membuat para pengunjung yang datang bisa merasakan sensasi layaknya sedang berada di negeri dongeng, dalam film Lord of The Ring. Sebagai sarana edukasi tentang kelestarian lingkungan, pengelola wisata di kawasan Perhutani ini, juga menyediakan ratusan burung predator yang dibeli dari pasar burung untuk dilepas liarkan kembali ke alam bebas.

Ada dua jenis burung yang bisa dilihat dan juga dilepaskan oleh pengunjung di sini yakni burung prenjak dan burung trucuk. Kedua jenis burung ini, dikenal sebagai burung pemakan ulat yang seringkali menjadi hama-hama bagi pohon-pohon di kawasan ini. Di hutan wisata yang terletak di Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Banyuwangi ini terdapat puluhan pohon trembesi berukuran raksasa, yang usianya sudah lebih dari 200 tahun.

Selain bisa menikmati ketenangan dan keasrian di bawah rindangnya pohon-pohon hutan, pengunjung bisa menikmati pemandangan hamparan pohon di kawasan ini. Pengelola juga menyediakan tangga raksasa, yang bisa dijadikan wisatawan untuk berswafoto dengan latar belakang pohon trembesi berukuran raksasa.

“Sekarang kan burung tambah langka, apalagi kalau di tempat ini sudah rindang nyaman, kalau denger suara burung itu kan enak, sunyi sejuk, jadi tambah betah mungkin di sini,” ungkap Nuril Hasanatus, Wisatawan.

Burung-burung predator ini kini semakin langka di alam bebas, karena masyarakat banyak yang menangkap, dan memeliharanya di rumah untuk dijadikan burung kicau. Selain untuk kelestarian lingkungan, pelepas liaran hewan predator ini diharapkan mampu menjaga rantai makan alami di kawasan hutan, di tengah maraknya masyarakat hobi memelihara burung.

“Diwajibkan untuk melaksanakan pengelolaan hutan secara lestari, harapannya ketika ada  hama ulat penyakit, nanti kita atasi secara konservasi, bukan cara kimiawi, jadi harapannya dengan pelepasan burung ini nanti bisa mengendalikan hama-hama ulat yang mungkin, kalau dibiarkan bisa mengganggu wisatawan,” terang Panca Sihite, Adm Perhutani Banyuwangi Selatan.

Dengan tiket Rp 15.000 per orangnya, pengunjung sudah bisa berkeliling hutan seluas 12 hektar ini. Di masa pandemi, pengunjung yang datang, wajib menerapkan protokol kesehatan, seperti menjaga jarak dan memakai masker.