Sukses

Peneliti Unair: Paus Mati di Bangkalan Akibat Cuaca Ekstrem

Liputan6.com, Surabaya - Peneliti sekaligus Wakil Dekan Penelitian, Publikasi, Kolaborasi, dan Relasi Publik Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga (FPK Unair) Surabaya, Sapto Andriyono menyebutkan, sekawanan paus pilot yang mati di Bangkalan tersebut diduga karena cuaca ekstrem.

"Mengingat, cuaca ekstrem terjadi beberapa minggu terakhir. Yakni, La Nina yang menyebabkan badai di kawasan selatan pulau Jawa atau Samudera Hindia," ujarnya, Rabu (24/2/2021).

Selain cuaca ekstrem, lanjut Sapto, kematian paus itu diduga disebabkan sejumlah hal terkait kondisi lingkungan terkini. Terutama akibat perilaku dan perubahan alam yang terjadi. Menurutnya, ada empat hal yang menyebabkan paus tersebut mati, yang pertama adalah La Nina dan El Nino.

“Fenomena alam La Nina dan El Nino juga memungkinkan perubahan magnetik di laut. Perubahan itu dapat berpotensi mengubah sistem sonar pada paus,” ungkap dosen mata kuliah biologi laut tersebut.

Dengan asumsi fenomena alam itu, lanjut Sapto, sekawanan paus pilot bermigrasi ke wilayah yang lebih tenang dan berusaha berteduh dari kondisi badai laut di kawasan ini. "Namun, dugaan disorientasi ke wilayah yang semakin dangkal menyebabkan sekawanan paus justru berenang ke arah perairaan selat Madura yang lebih dangkal," ucapnya.

Kejadian serupa juga pernah terjadi pada Juni 2016. Menurut Sapto, kejadian tersebut sangat mungin terjadi dengan kondisi yang sama dengan kasus di Bangkalan. Namun, sekawanan paus pilot itu mengarah ke selatan selat Madura, hingga akhirnya merapat di Perairan Probolinggo. "Dari kasus saat itu, dilaporkan 10 paus mati dari kawanan paus yang berjumlah 32 ekor," ujarnya.

Faktor selanjutnya adalah mengenai tingkah laku, umur dan penyakit. Sapto menegaskan bahwa kematian paus memiliki beragam aspek yang masih perlu mendapatkan kajian secara mendalam. Baik dari sisi habitat tempat hidupnya, behavior-nya yang hidup dalam kelompok, maupun kemungkinan penyakit pada paus Alpha (pemimpin) yang menyebabkan anggota kelompok paus tersebut ikut mati. ”Ini kami juga terus meneliti terkait itu,” katanya.

Sapto mengatakan, faktor berikutnya adalah pencemaran di laut. Menurutnya, masalah pencemaran di daratan serta banyaknya pencemaran sampah plastik yang terus meningkat juga menyebabkan kualitas perairan pesisir laut semakin menurun. Di sisi lain, paus melakukan migrasi ke daerah itu dalam rangka mencari kawasan yang tenang dan aman.

“Dengan kondisi sedimentasi yang tinggi dan pencemaran domestik berupa sampah dan plastik yang juga tersebar,ini menjadikan tingkat stres paus-paus yang terdampar sangat tinggi,” ucapnya.

2 dari 3 halaman

Aktivitas Manusia

Faktor terkahir adalah terkait aktivitas manusia. Sapto mengomentari beberapa video amatir yang tersebar di sejumlah media online. Terlihat masyarakat yang tengah asyik berfoto-foto dan bahkan menaiki paus yang dalam kondisi yang semakin stres.

Menurutnya, kesadaran masyarakat terkait ekosistem laut perlu menjadi perhatian dan kajian ke depan. Terutama terkait dengan pengetahuan terhadap biota dan ekosiste laut. Fenomena itu juga menjadi kesempatan untuk melakukan evaluasi dalam upaya kampanye ekosistem laut ke depan0.

“Belum lagi warga yang berkerumun di sekitar ikan paus yang mencoba memberikan pembasahan, namun kemungkinan dilakukan pada bagian dekat blow hole (Lubang pernapasan terletak berdekatan dengan bagian depan kepala dan condong ke kiri, Red). Ini malah menyebabkan mamalia laut stres akibat sulit bernafas,” ujarnya.

Sapto mengungkapkan bahwa upaya perbaikan kualitas lingkungan laut masih menjadi tugas besar bagi kita bersama. “Intinya, mari kita memperbaiki lingkungan laut sekaligus menjaga keanekaragaman hayati laut Indonesia,” ucapnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini: