Sukses

Wali Kota Sutiaji Pimpin Aksi Corat-Coret di Jembatan Kedungkandang Malang

Liputan6.com, Malang - Lebih dari seratusan orang secara bergantian mencorat-coret dinding Jembatang Kedungkandang, Kota Malang. Tidak ada yang melarang, sebagian besar di antara mereka adalah para pimpinan daerah kota setempat.

Isi coretan itu beragam rupa, sebagian besar adalah tulisan. Misalnya bertuliskan “Orang Hebat Tidak Korupsi”, “TNI Kuat Bersama Rakyat,” “Malang Asyik,” dan lain sebagainya. Wali Kota Malang, Sutiaji, turut hadir dan mencoretkan simbol titik menggunakan cat semprot.

Aksi corat-coret massal itu merupakan bagian dari grafiti di Jembatan Kedungkandang, Kota Malang. Tujuannya, mempercantik jembatan yang baru selesai dibangun pada akhir tahun lalu dengan menghabiskan anggaran sebesar Rp 51 miliar itu.

“Filosofinya titik, kita harus fokus. Berangkat dari satu titik menuju ke satu titik,” kata Wali Kota Malang, Sutiaji, menjelaskan coretannya berupa simbol titik, Senin, 15 Maret 2021.

Pemerintah Kota Malang memilih grafiti sebagai satu cara mempercantik penampilan Jembatan Kedungkandang. Harapannya, setiap pengendara yang melintas di salah satu titik padat lalu lintas itu bisa membaca pesan yang tertulis.

“Orang yang melihat bisa membaca pesan-pesannya, lalu membuat sikap berubah menjadi lebih baik,” ujar Sutiaji.

Program grafiti itu sendiri didukung salah satu satu perusahaan cat ternama di Kota Malang. Bagian dari tanggungjawab sosial perusahaan. Perusahaan itu terlibat membantu pengecatan Kampung Warna-Warni Jodipan, Kampung Biru, Kampung Putih dan Fly Over Arjosari.

2 dari 3 halaman

Kecam Grafiti Liar

Sutiaji mengapresiasi sepenuhnya pilihan lokasi grafiti di Jembatan Kedungkandang. Sebuah jembatan yang baru diresmikan pada malam pergantian tahun 2020 ke 2021. Di sisi lain, orang nomor satu di Pemkot Malang itu mengecam aktivitas grafiti liar.

“Secara tidak langsung kami mengecam coretan di dinding milik orang yang nilai seninya hilang,” ujar Sutiaji.

Bagi Sutiaji, tindakan coretan atau grafiti liar itu tak sesuai nurani dan mengabaikan sisi kemanusian. Sebab dilakukan tanpa izin dari pemilik atau pengelola dinding yang dicoret secara liar. Karena itu, grafiti liar tak dapat dibenarkan.

Untuk kebutuhan grafiti di Jembatan Kedungkandang, bakal dibantu sebuah perusahaan cat. Disiapkan sebanyak 1 ton cat dinding untuk cat dasar dari jembatan. Serta sebanyak 3.400 kaleng cat semprot. Pemkot menggandeng komunitas untuk kegiatan grafiti tersebut.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini: