Sukses

Jadi Zona Merah Covid-19, Gedung Diklat ASN Banyuwangi Disulap Jadi Tempat Isolasi 

 

Liputan6.com, Banyuwangi - Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menjadikan Gedung Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) ASN sebagai tempat isolasi Covid-19, seiring terus meningkatnya kasus  COVID-19 di wilayah tersebut. 

Per Selasa (29/6/2021), Banyuwangi masuk zona merah atau risiko tinggi penularan Corona. Data sebaran COVID-19 tercatat sebanyak 7.373 kasus, rinciannya 6.161 orang sembuh, 724 orang meninggal, dan kasus aktif atau dalam perawatan 488 orang.

"Kami siapkan tambahan tempat tidur untuk antisipasi, semoga tidak sampai digunakan. Saya minta tolong kesediaan semua untuk selalu patuh protokol kesehatan," ujar Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Azwar Anas di Banyuwangi, Rabu (30/6/2021), seperti dikutip dari Antara.

Gedung Diklat ASN di Kecamatan Licin, menjadi tempat isolasi terpusat warga positif COVID-19 karena sejuk dan asri dan lokasinya di kaki Gunung Ijen. Selama ini, Gedung Diklat ASN telah disiapkan 85 tempat tidur dan ditambah 45 tempat tidur untuk cadangan.

"Nantinya bisa dikembangkan jadi 150 tempat tidur, karena masih ada beberapa ruangan yang bisa digunakan," katanya.

Selain Gedung Diklat ASN, Pemkab Banyuwangi juga menggunakan Dormitory Atlet untuk tempat karantiina pekerja migran yang baru tiba. Gedung Wanita juga disiapkan sebagai antisipasi jika Gedung Diklat ASN tidak cukup menampung pasien psitif tanpa gejala.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

2 dari 2 halaman

Tambah Kapasitas ICU

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi   Widji Lestariono mengemukakan, selain menyiapkan tambahan tempat tidur di pusat isolasi, pihaknya juga terus menyiapkan penambahan kapasitas ruang ICU COVID-19 di rumah sakit rujukan maupun untuk ruang rawat inap isolasi.

"Tadi kami ada pertemuan, dan semua sepakat masing-masing akan menambah tempat tidur, selain di ICU juga untuk ruang isolasi di rumah sakit. Ini untuk antisipasi," kata Rio, sapaannya.

Mengenai peningkatan kasus aktif di Banyuwangi, Rio mengakui bahwa ini adalah konsekuensi dari tes dan penelusuran yang gencar dilakukan para tenaga kesehatan.

"Penelusuran terus kami lakukan setiap muncul kasus baru. Risikonya memang angka kasus aktif terus meningkat, namun kami tidak menutup-nutupi karena ini demi keamanan bersama," ucapnya.