Sukses

Protes PPKM Darurat, Kafe di Malang Pasang Harga Lebih Mahal untuk Satpol PP

Liputan6.com, Surabaya - Pengusaha kafe di Malang menunjukkan protes terhadap PPKM darurat dengan memberikan harga lebih mahal dari biasanya untuk petugas yang bisa melakukan razia PPKM, yaitu TNI/Polri dan Satpol PP.

"Kalau buat promo kayak teman-teman ngasih diskon itu susah. Dan kita gak ada budget buat itu. Sudah habis. Akhirnya mikir-mikir ya promo gak harus potong harga. Kita naikkan. Kan banyak ekonominya susah dan ngomongin bansos segala macem. Aku mikir promo harga tiga kali dari normal buat aparat dan pegawai pemerintah," ujar Cahya Sinda, pemilik Atitud Coffee Malang, Jumat (16/7/2021), dikutip dari TimesIndonesia.

Dalam daftar harga Kafe yang terletak di Ruko Sunan Kalijaga, Jalan Sunan Kalijaga, Kota Malang itu, TNI/Polisi/Satpol PP/PNS yang pesan di kafe tersebut wajib membayar tiga kali lipat dari harga normal.

Cahya mengungkapkan, dirinya menerapkan promo tiga kali lipat tersebut, sebagai bentuk protes terkait peraturan PPKM Darurat.

Apalagi, para aparat dan pegawai pemerintah, ekonominya cenderung baik-baik saja dan stabil dalam kondisi apapun. Hal itu sangat timpang dengan pelaku usaha kecil seperti dirinya.  Apalagi kafe tersebut juga baru saja buka dan langsung diwajibkan take away.

"Orang tua saya sendiri juga PNS. Terus kakak itu Nakes. Mereka punya penghasilan tetap. Ekonomi mereka stabil. Sementara kalau aku bagaimana. Jadinya sekalian itu minta bansos UMKM itu diubah diksinya jadi ngasih promo tiga kali harga normal," ungkapnya.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

2 dari 2 halaman

Pasrah

Kekecewaan Cahya terkait PPKM karena merasa ada ketidakadilan karena harus tutup jam 8 malam dan dilarang dine in. Apalagi menurutnya penerapan saat ini hanyalah sebuah diksi. Seperti halnya Lockdown, PSBB dan akhirnya berubah menjadi PPKM Darurat.

"Tanggal 12 lalu kita juga kena grebeg. Itu teguran aja. Susahnya minta ampun. Orang sepi gak ada pengunjung juga. Dapat tiga hari buka PPKM. Semua rencana awal modal berantakan," keluhnya.

Cahya  sempat pasrah dan mencoba tetap berjuang bersama tim Atitud Coffee. 

"Setiap hari per cup itu cuma bisa dihitung jari. Ini kita mau disuruh full take away. Kita mau nyiapain take away gimana, belum ada yang tahu kafe kita. Paling cuma teman-teman yang punya ruko saja," ucapnya.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.