Sukses

Wali Kota Malang Sulit Wujudkan Isolasi Terpadu Pasien Covid-19, Ini Alasannya

Liputan6.com, Malang - Wali Kota Malang, Sutiaji tak berencana mendirikan rumah isolasi terpadu (isoter) di tiap kecamatan untuk penanganan pasien Covid-19 di Malang. Sebab pendirian isoter itu dinilai tak mudah.

Pendirian isoter di tiap kecamatan itu jadi salah satu paparan pemerintah pusat dalam rapat koordinasi PPKM Level 4 secara virtual dengan pemerintah daerah akhir pekan lalu. Isoter untuk perawatan pasien Covid-19 di Malang kecil kemungkinan direalisasikan.

“Tak semua (paparan pemerintah pusat) kita pakai. Tak perlu ada isoter, ada persoalan bagaimana tenaga kesehatan dan tempatnya. Tak segampang itu,” kata Wali Kota Malang, Sutiaji kemarin.

Menurutnya, PPKM Mikro di tingkat Kelurahan sampai RT masih lebih efektif. Pasien isolasi mandiri di wilayahnya. Pemerintah daerah memperkuat dengan memfasilitasi beberapa kebutuhannya. Misalnya menyediakan oximeter atau alat bantu ukur saturasi oksigen.

“Oksimeter dibekali bila perlu di tiap RT digunakan secara mobile. Lalu di tingkat kelurahan ada surveilans,” ucapnya.

Salah satu tugas surveilans atau analis kesehatan masyarakat itu mengecek kondisi pasien maupun situasi wilayah. Bila pasien ada indikasi gejala klinis dan butuh penanganan, maka ditarik ke rumah isolasi yang sudah ada. Agar mendapat penanganan lebih maksimal.

“PPMK Mikro tetap lebih baik. Dilokalisir di kelurahan, jadi isolasi mandiri. Tapi bila ada gejala klinis pasien segera diambil,” ucap Sutiaji.

Namun pasien positif Covid-19 di Malang yang isolasi mandiri itu tetap harus dilihat sejumlah prasyaratnya. Misalnya, secara psikis pasien mampu mandiri memulihkan diri. Termasuk kamar mandi di rumah ada dua sehingga tak dipakai bersama oleh satu keluarga.

“Kalau itu terpenuhi ya tak masalah isolasi mandiri di rumah. Warga juga harus mendukung pemenuhan kebutuhannya agar pasien isoman tak keluar rumah,” urai Sutiaji.

2 dari 3 halaman

Sentra ICU Covid-19

Sutiaji menyebut pemerintah kota berupaya menambah kapasitas ranjang di rumah sakit maupun rumah isolasi. Tapi salah satu kebutuhan mendesak sekarang adalah oksigen. Serta penambahan kapasitas layanan untuk penangana pasien.

“Soal rencana pusat pengisian oksigen yang digagas oleh Pemprov Jatim itu masih perlu kajian lebih matang lagi,” ujar Sutiaji.

Sedangkan kapasitas ruang perawatan khusus ada rencana menambah di RS Saiful Anwar (RSSA) Malang. Jalan di dekat layanan IGD Covid-19 milik RSSA bakal ditutup lalu didirikan sentra ICU untuk pertolongan pertama.

“Supaya pasien yang sesak nafas maupun dalam keadaan kritis bisa dikendalikan dengan cepat,” ucap Sutiaji.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini: