Sukses

Ramai Video Represif Polisi ke Mahasiswa Ponorogo yang Akan Demo Jokowi, Begini Penjelasannya

Liputan6.com, Surabaya - Sebuah video yang memperlihatkan tindakan represif polisi terhadap mahasiswa yang akan demo saat Presiden Jokowi di Ponorogo, ramai di media sosial.   

Menyikapi video tersebut, pihak Universitas Muhammaddiyah (Unmuh) Ponorogo beserta Perwakilan Aliansi Front Renaissance, Aji Binawan Putra menjelaskan, beredarnya video tersebut sangat disesalkan olehnya.

"Momen kunjungan kerja Presiden Jokowi ke Ponorogo merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan dimana ada sebuah Kabupaten dikunjungi oleh orang nomor 1 di Indonesia," ujarnya, Jumat (10/9/2021).

Tentang video viral yang tersebar di jejaring sosial, lanjut Aji, itu hanya fenomena sosial yang terjadi aksi damai Aliansi Mahasiswa Ponorogo.

"Kami sudah menyiapkan naskah kesepakatan yang berisi permohonan maaf agar di kemudian hari tidak saling menuntut secara personal," kata Aji.

Kapolres Ponorogo AKBP Moch Nur Azis juga memberikan klarifikasi bahwa benar adanya kejadian tersebut.

"Iya benar ada video itu, namun tindakan reprensif dari petugas tentunya pasti ada penyebabnya," ucapnya.

Kapolres Ponorogo juga mengajak elemen masyarakat termasuk para mahasiswa untuk bekerjasama, saling berkoordinasi dengan pihak kepolisian demi satu tujuan yaitu Kamtibmas.

"Sama-sama kita jadikan pelajaran dan diambil hikmah atas kejadian ini agar tidak terulang di kemudian hari," terang Kapolres Ponorogo.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Rektor Minta Maaf

Wakil Rektor III Unmuh Ponorogo, Muhammad Malyadi juga turut memberikan klarifikasi terkait video yang viral tersebut.

"Atas nama lembaga dan Rektor sebelumnya kami meminta maaf atas terselenggaranya kegiatan unras oleh mahasiswa kami pada saat kunker presiden di wilayah Ponorogo yang dinilai tidak melalui prosedur yang berlaku," ucapnya.

Mulyadi menyimpulkan kegiatan tersebut tidak direncanakan dengan matang, yang artinya tidak ada izin dari pihak kepolisian khususnya Polres Ponorogo maupun pihak kampus sendiri sesuai prosedur penyampaian pendapat di muka umum yang berlaku.

"Sekali lagi, dengan adanya video viral tindakan reprensif anggota Polri tersebut, kami selaku perwakilan pimpinan kampus memohon maaf atas aksi yang dilaksanakan oleh anak-anak didik kami sehingga terjadi hal tersebut," ujarnya.