Sukses

BPA pada Makanan Kaleng, Seberapa Bahaya untuk Kesehatan?

Liputan6.com, Surabaya - Ahli Gizi dari KlikDokter Melyarna Putri menyarankan masyarakat untuk tidak sering-sering mengonsumsi makanan kaleng dalam jumlah banyak.

"Meski kandungan nutrisinya sama dengan makanan segar, tapi makanan kaleng ditambahkan bahan kimia selama proses pengemasan. Bahan kimia yang digunakan dalam pengemasan salah satunya adalah BPA (bisphenol-A) yang digunakan untuk menghalau karat dari kaleng," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (11/10/2021).

Bahan kimia tersebut, kata dia, tidak baik untuk kesehatan kalau dikonsumsi dalam jumlah yang terlalu banyak.

Menurut Melyarna, jika mengonsumsi terlalu banyak makanan kaleng dapat meningkatkan risiko terkena diabetes karena paparan BPA dari kemasan kalengnya.

“Terlalu banyak terpapar BPA dalam tubuh dapat menyebabkan gangguan pada sistem metabolisme tubuh dan mengurangi sensitivitas insulin, sehingga kadar gula darah akan terus naik,” katanya.

Makanan kaleng digemari karena biasanya dapat bertahan lama. Itu karena makanan kaleng mengandung bahan pengawet makanan. Tapi, jika terlalu banyak mengonsumsi makanan kaleng ini, bahan pengawet yang ada di dalamnya dapat mendorong pertumbuhan sel kanker yang dapat menimbulkan risiko berbagai macam penyakit kanker.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Penyakit Jantung

Karin Wiradarma, ahli gizi dari KlikDokter lainnya menambahkan, makanan yang dikemas dalam kalengan biasanya ditambahkan garam dan gula sebagai penyedap rasa. Garam, gula, dan pengawet biasanya ditambahkan dalam makanan kaleng dalam batasan yang wajar. Namun menurutnya, tetap saja garam dan gula tambahan dalam makanan kaleng bisa meningkatkan risiko-risiko penyakit seperti tekanan darah tinggi.

“Penambahan gula dalam makanan kaleng mempunyai dampak bahaya dan menyebabkan risiko terkena penyakit gula atau diabetes mellitus tipe 2 dan penyakit jantung. Apabila sudah menderita kedua penyakit tersebut, sebaiknya hindari makanan kaleng agar tidak semakin parah,” ujar Karin.