Sukses

Relokasi Permukiman Warga Terdampak Semeru Menunggu Masa Panen Cabai

Liputan6.com, Lumajang Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengemukakan proses pembersihan lahan dan pemadatan sebagian lokasi hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak awan panas guguran Gunung Semeru di Desa Sumbermujur, Kabupaten Lumajang, menunggu masa panen tanaman cabai di wilayah setempat.

"Dari 81 hektare yang akan digunakan, sebagian masih ada yang harus menunggu panen cabai, baru kemudian dilakukan pembersihan lahan dan pemadatan," ujar Khofifah di Surabaya, Jumat (7/1/2022), dilansir dari Antara.

Hingga saat ini, proses pembersihan lahan dan pemadatan di Kecamatan Candipuro itu sudah mencakup luasan 40 hektare sehingga sisanya dikerjakan dalam waktu dekat.

"Tanaman cabai ini milik warga setempat. Jadi prosesnya menunggu panen dulu, setelah itu baru dilakukan pengerjaan," ucap dia.

Selain itu, katanya, di tempat sama juga akan dibangun hunian tetap (huntap) yang dikerjakan setelah pembangunan tahap awal huntara selesai.

Huntara dan huntap yang akan dibangun merupakan rumah Tipe 60, yakni huntara akan dibangun di bagian belakang tanah kavling dengan luas bangunan ukuran 6 x 4 meter, sedangkan huntap akan dibangun di kavling bagian depan dengan ukuran 6 x 6 meter.

"Kalau huntara selesai, maka selanjutnya huntap dibangun. Ketika huntap selesai, maka dapur atau tambahan kamar huntara. Jadi, tidak ada yang mubazir," ucap Khofifah.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan. 

2 dari 2 halaman

Kapasitas Tampung

Total lahan yang akan dipergunakan untuk huntara dan huntap memiliki luas 81 hektare dengan kapasitas tampung sebanyak 2.000 unit rumah yang dilengkapi dengan fasilitas umum, fasilitas pendidikan, fasilitas sosial dan fasilitas ekonomi.

"Lokasinya juga tidak jauh dari perkampungan, jadi nantinya menyatu dengan warga yang sudah ada di sana," ucap orang nomor satu di Pemprov Jatim tersebut.

Tahap awal akan dibangun sebanyak 1.500 unit rumah yang proses pengerjaannya paling cepat sebulan dan paling lambat dua bulan.

Terdapat beberapa usulan nama untuk huntara dan huntap tersebut, seperti BSD atau Bumi Semeru Damai, kemudian "Smart Village" hingga "Smart City".

"Pak dandim sebagai dansatgas mengusulkan BSD, lalu Pak Bupati Lumajang Thoriqul Haq usul 'Smart Village'. Tapi karena ada berbagai fasilitas berbagai layanan, GOR hingga danau malah itu bisa menjadi 'Smart City'," kata Khofifah.