Sukses

ITS Gagas Bahan Bakar Sintetis, Kurangi Emisi Karbon hingga 4,6 Metrik Ton Per Tahun

Liputan6.com, Surabaya - Tiga mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, yaitu Fachrizan Bilal Masrur, Muhammad Ihwan Nur Rifki dan I Made Deago Nugra Visesa, yang tergabung dalam tim Synchronize menggagas bahan bakar sintetis menggunakan teknologi digital twin.

Ketua tim Synchronize Fachrizan Bilal Masrur mengatakan, jika saat ini berbagai negara di dunia telah sepakat untuk mengurangi emisi karbon melalui Perjanjian Paris.

"Salah satu cara untuk mengurangi emisi karbon adalah dengan menerapkan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS)," ujarnya, Selasa (11/1/2022).

CCS adalah teknologi untuk memisahkan, mengangkut, dan menyimpan emisi karbon yang dikeluarkan oleh proses industri.

Berangkat dari hal tersebut, tim Synchronize menggagas pemanfaatan karbon dioksida yang akan digunakan sebagai sumber bahan baku dan diproses lebih lanjut untuk menghasilkan bahan bakar sintetis melalui reaksi hidrogenasi.

“Bahan bakar sintetis memiliki kinerja yang sangat mirip dengan bahan bakar fosil pada umumnya, sehingga dapat digunakan pada mesin kendaraan saat ini dan lebih ramah lingkungan,” ungkap mahasiswa yang biasa disapa Bilal ini.

Lebih lanjut, mahasiswa tahun ketiga ini menjelaskan, untuk mempercepat penerapannya, digunakan teknologi digital twin yang merupakan representasi visual dari sebuah sistem yang sedang beroperasi.

“Digital twin dapat memberikan sebagian gambaran dari apa yang sedang terjadi dan mungkin apa yang akan terjadi pada sistem tersebut,” terangnya.

2 dari 2 halaman

Teknologi Digital Twin

Dengan bantuan teknologi digital twin, komposisi campuran bahan bakar konvensional dengan bahan bakar sintetis yang paling optimal untuk mesin kendaraan tertentu dapat diketahui.

“Jika bahan bakar sintetis diaplikasikan pada semua kendaraan, terutama kendaraan penumpang, dapat berpotensi mengurangi emisi karbon sebesar 4,6 metrik ton per tahun,” ujar Bilal.

Ke depan, tim Synchronize berharap inovasi yang mereka gagas dapat segera diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dan secara bertahap menggantikan bahan bakar konvensional, sehingga dapat membantu mewujudkan karbon netral.