Sukses

Cuaca Buruk di Penyeberangan Selat Bali, Sejumlah Kendaraan Rusak Parah

Liputan6.com, Banyuwangi - Gelombang tinggi di perairan selat Bali membuat perjalanan KMP Dharma Rucita dari Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk mengalami guncangan hebat, Senin (27/6/2022) malam.

Akibat guncangan itu, sejumlah kendaraan logistik yang dimuat di dalam kapal bergelimpangan dan rusak parah.

Salah satu pemilik kendaraan berinisial D mengatakan mobil Mitsubishi Colt bernopol P 9016 VC mengalami kerusakan setelah tertimpa truk bermuatan berat.

"Mobil saya muat sayuran mau dibawa ke Bali. Mobil dan dagangan saya tidak selamat, sebagian sayuran hancur," kata dia.

Pihaknya pun mengaku kecewa dengan pelayanan pihak penyeberangan. Karena menurut dia, dengan kondisi cuaca buruk pihak penyebrangan justru tidak melakukan persiapan apa pun.

"Sudah tau angin kencang, tanpa Safety," ujarnya.

Pihaknya saat ini tengah mengurus berkas dan meminta pertanggungjawaban dari pihak kapal. Beruntung tidak terdapat korban jiwa dalam peristiwa ini. Hanya saja terjadi keterlambatan aktivitas pelayaran lantaran adanya evakuasi di dalam kapal.

Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Banyuwangi, Anjar Triono mengatakan diprediksi angin kencang akan melanda Banyuwangi hingga besok. Ketinggian gelombang diprediksi mencapai 4 meter.

"Diperkirakan gelombang tinggi di perairan Selat Bali masih akan berlangsung hingga dua hari kedepan," kata Anjar Triono.

2 dari 2 halaman

Kecepatan 15 Knot

Tingginya gelombang ini disebabkan pola angin dominan bergerak dari tenggara ke selatan dengan kecepatan angin maksimum 15 knot. Selain itu, gelombang tinggi merupakan peristiwa yang umum ketika peralihan musim kemarau. Hal lain yang memicu gelombang tinggi juga kemungkinan berasal dari masih terjadinya fenomena La Nina.

BMKG mengimbau bagi masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di pesisir sekitar area yang berpeluang terjadi gelombang tinggi diimbau agar tetap selalu waspada.

"Kami imbau masyarakat lebih waspada dan hati-hati terhadap potensi cuaca ekstrem yang mungkin datang tiba-tiba terjadi di perairan yang berada di Selat Bali maupun perairan sekitarnya," pungkasnya.