Sukses

Surabaya Smart City Kembali Digelar, Diikuti 1.360 RW

Liputan6.com, Surabaya - Setelah vakum selama dua tahun terakhir akibat pandemi Covid-19, Surabaya Smart City (SSC) kembali digelar tahun ini dengan konsep berbeda dari sebelumnya, yakni bukan hanya fokus ke soal kesehatan, lingkungan dan pendidikan, tetapi juga mengurangi kemiskinan dan pengangguran.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, SSC menjadi sebuah sarana aplikasi atau program kegiatan masyarakat yang nantinya diwujudkan melalui inovasi berkelanjutan di lingkup perkampungan Kota Surabaya.

"Sebenarnya SSC ini adalah bagaimana warga bisa saling menjaga kampungnya agar terhindar dari kemiskinan, pengangguran, gizi buruk, stunting dan lain sebagainya. Nantinya program di setiap RW yang dilombakan ketika SSC akan dikoneksikan ke Kepala PD, Camat dan Lurah," kata Eri Cahyadi saat pembukaan di Gedung Convention Hall. 

Eri Cahyadi menjelaskan, SSC bukan sekadar program yang hanya dilaksanakan secara rutin tiap tahun. Akan tetapi, akan berkelanjutan yang nantinya dapat dipetik manfaatnya dan membahagiakan warga Kota Surabaya ke depannya.

Di SSC kali ini, Eri Cahyadi ingin masyarakat saling bergotong royong membantu warga yang kesusahan. Terutama membantu anak putus sekolah, gizi buruk, stunting dan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). 

"Contoh tadi yang saya sampaikan, ternyata kampung itu ada yang banyak penganggurannya, dan warga tahu di lingkungannya ada aset pemkot. Kemudian dia punya ide, untuk menjadikan aset pemkot dijadikan lapangan kerja. Jadi, semakin kampung itu gotong royong, semakin mereka membuat inovasi ya menang," jelasnya.

 

2 dari 2 halaman

Diikuti oleh 1.360 RW

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, Agus Hebi Djuniantoro mengatakan, di SSC 2022 akan diikuti oleh 1.360 RW di seluruh Kota Pahlawan. Hebi mengaku, animo masyarakat yang berpartisipasi di tahun ini lebih banyak dari tahun sebelumnya. 

Hebi melanjutkan, point penting SSC 2022 adalah soal  ekonomi kerakyatan sesuai dengan keinginan Cak Eri Cahyadi untuk mengurangi pengangguran dan kemiskinan di Kota Surabaya. "Maka itu yg menjadi poin terbesar. Selain lingkungan ada ekonomi kerakyatan itu nanti nilainya besar," ujar Hebi. 

Hebi menerangkan, lomba antar RW di program SSC ini penilaiannya dilakukan sebanyak 3 kali dalam waktu enam bulan ke depan. Jurinya, pemkot akan melibatkan para akademisi, praktisi dan OPD yang nantinya turut serta menilai dari awal hingga perubahan yang telah dilakukan di masing - masing kampung.