Sukses

Duka Elimiati, Kehilangan Suami dan Anaknya 3 Tahun di Tragedi Kanjuruhan

Liputan6.com, Malang - Elimiati tak akan pernah melupakan tragedi Stadion Kanjuruhan Malang. Pertandingan besar yang disangka bisa ditonton dengan aman, justru menjadi peristiwa maut. Merenggut nyawa suami dan anaknya yang baru berusia 3 tahun.

Elimiati menceritakan, ia bersama suaminya Rudi Harianto dan putra bungsunya, M Virdi Prayoga berangkat ke Stadion Kanjuruhan Malang bareng saudara-saudaranya. Sedangkan putrinya, Caynanda Billa, berusia 14 tahun tak ikut menonon.

Warga Jalan Sumpil gang 2, Blimbing, Kota Malang ini mengatakan laga Arema versus Persebaya itu merupakan pertandingan ketiga mereka menonton bersama dan selalu di tribun 13. Ia mengajak anaknya ikut serta karena selain suka Arema, juga untuk hiburan.

“Biasanya ya nonton bareng di televisi. Saya mengajak menonton untuk menyenangkan anak karena selama ini jarang main akibat pandemi,” kata Elimiati.

Niat menonton pertandingan itu sudah mereka rancang sejak jauh-jauh hari. Sebab mereka meyakini pertandingan bakal berjalan aman lantaran suporter Persebaya Surabaya dipastikan tidak hadir ke stadion.

“Jadi saya kira ini aman, ya niat melihat Arema main saja. Pagi hari sebelum pertandingan, anak saya sempat minta potong rambut biar lebih rapi,” ucap Elimiati.

Rombongan keluarga ini berangkat bersama. Selama pertandingan berlangsung, tidak ada masalah berarti apapun di dalam stadion. Elimiati bersama suami dan anaknya saat di tribun juga bisa berfoto bersama.

“Masih sempat foto, ternyata itu foto kebersamaan kami untuk terakhir kalinya,” katanya lirih.

Petaka justru terjadi begitu wasit meniup peluit tanda pertandingan selesai. Begitu terjadi kekacauan, seiring banyak suporter masuk lapangan, aparat keamanan melepas tembakan gas air mata ke sejumlah titik termasuk sektor 13.

“Suami saya langsung mengajak pulang, ternyata pintu sektor 13 hanya terbuka sedikit. Hanya cukup untuk dilewati dua orang saja,” tuturnya.

Akses keluar yang sulit ditambah kepulan asap gas air mata di tribun Stadion Kanjuruhan membuat penonton berebut keluar menyelamatkan diri. Saling dorong agar bisa segera keluar tak terelakkan. Elimiati berjalan bersama putranya, sedangkan suaminya berjalan di depannya.

“Posisi seperti itu, kami lalu terpisah. Saya tak tahu suami saya sudah bisa keluar atau tidak. Anak saya juga entah di mana,” katanya.

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

2 dari 3 halaman

Meninggal Dunia

Hampir 30 menit dalam kondisi kacau itu, Elimiati diselamatkan suporter lainnya. Setelah suasana mulai kondusif, ia kembali naik ke tribun 13 Stadion Kanjuruhan. Di tribun itu ia berjumpa dengan adik iparnya, lalu ia meminta bantuan mencari suami dan anaknya.

“Adik saya bilang aman mbak, ada di tempat parkiran. Ternyata maksudnya agar saya tenang menunggu di tribun bersama saudara saya lainnya. Karena suami saya saat itu sudah meninggal,” ujar Elimiati.

Ia dan lainnya bertahan di tribun meski harus berjuang melawan sesak nafas dengan mata dan tenggorokan terasa perih akibat gas air mata. Kondisi gerimis tanpa angin membuat asap hanya mengepul di satu titik.

Tak lama kemudian, mereka keluar stadion. Elimiati mengatakan salah seorang saudaranya meminta foto anaknya, Virdi, untuk diberikan ke polisi agar membantu mencari. Serta disebar ke grup sosial media Aremania guna memudahkan pencarian.

“Ternyata posisi anak saya ketemu dalam keadaan meninggal dunia, berada di kamar mayat RSUD Kanjuruhan. Jenasah suami saya di RS Saiful Anwar,” ujarnya.

Anaknya mengalami luka pada bagian kepala, sedangkan suaminya tak ada sedikitpun luka. Kulit kedua korban juga tak tampak seperti gosong seperti beberapa korban lainnya.

“Tak tahu apakah terinjak-injak atau sesak nafas. Tidak ada surat keterangan dari rumah sakit,” katanya.

Niat mencari hiburan dengan menonton pertandingan sepakbola berakhir duka. Jenasah anaknya tiba di rumah sekitar pukul 02.00. Satu jam kemudian menyusul jenasah suaminya diantar mobil ambulans ke rumah.

“Saya ingin diusut peristiwa ini diusut tuntas. Terserah pemerintah mau buat keputusan apa, pokoknya ada rasa keadilan,” katanya.

3 dari 3 halaman

Berharap Keadilan

Tragedi di Stadion Kanjuruhan diharapkan mengubah wajah sepakbola Indonesia. Termasuk kesiapan panitia pelaksana (panpel) pertandingan. Elimiati berharap tidak hanya panpel Arema, tapi seluruh klub belajar dari pengalaman ini.

Mempersiapkan aspek keamanan dan kesiapan tim medis sedetil mungkin agar penonton benar-benar aman. Cepat bertindak bila ada kejadian yang tidak diinginkan. Pintu di tribun misalnya, tak segera dibuka meski pertandingan akan berakhir.

“Biasanya 10 menit sebelum selesai kan dibuka, tapi kemarin tidak. Saat di dalam stadion masih banya korban, lampu malah dimatikan,” ucapnya.

Tragedi itu tidak akan membuatnya membenci Arema. Tapi ia sudah tak ingin lagi menonton pertandingan sepakbola di stadion. Sebab hal itu selalu membuatnya ingat dengan suami dan anaknya. Pemerintah diminta mengusut tuntas peristiwa tersebut.

“Trauma, ingat anak dan ingat suami. Saya tidak akan lagi masuk stadion. Saya harap ini diusut tuntas, ada keadilan untuk kami semua,” ujarnya.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.